Rabu, 23 Mei 2018

PENDEKAR PEDANG PELANGI 16


Jilid 16
Setelah membersihkan pasir yang mengotori pakaian mereka. Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong mendekati A Liong kembali.
Kini cara mereka memandang kepada A Liong telah berubah, "A Liong! Kau tahu apa yang baru saja terjadi? Hmm, kau telah mengalahkan kami berdua! Rasa-rasanya kami tak mungkin lagi menjadi gurumu...." Bok Kek Ong berkata tegas.
"Suhu...?" A Liong berseru kecewa, "Siau-te benar-benar tak tahu apa-apa. Siau-te belum pernah belajar silat. Belum pernah berguru kepada siapapun juga. Siau-te hanya pernah diajari cara bernapas untuk mengusir hawa dingin oleh seorang kakek asing. Itupun hanya sekali saja, ketika siau-te berumur lima atau enam tahun! Suhu, siau-te berkata sebenarnya! Jangan tolak aku! Berilah aku kesempatan untuk berguru kepadamu...!"
Sekali lagi kedua orang tua itu saling pandang satu sama lain. Mereka saling bertukar pendapat.
Akhirnya Soat Ban Ong menganggukkan kepalanya. "Baiklah, A Liong. Kami memang percaya padamu. Kami menyadari bahwa hal-hal aneh dan ajaib itu, tentu bukan karena kehendakmu sendiri. Kami juga tahu bahwa sampai sekarang pun kau juga belum tahu apa yang telah terjadi pada dirimu. Ada suatu rahasia besar yang tampaknya menyelubungi kehidupanmu."
"Jadi...?"
"Yah! Kami tetap akan mengajarimu ilmu silat, agar kekuatanmu itu bisa dikendalikan dan dipergunakan dengan baik."
Betapa leganya hati A Liong! Untuk beberapa saat dia menatap wajah kedua gurunya itu dengan air mata berlinang. Kemudian dengan bersemangat ia berlutut dan menghentakkan dahinya berulang-ulang ke atas pasir.
"Sudahlah, silakan kau berdiri! Kami berdua akan meneliti keadaan tubuhmu dulu. Kami ingin tahu di mana letak keajaibanmu itu."
"Silakan, Suhu! Silakan...!"
A Liong melepas bajunya. Demikian pula dengan celana luarnya, sehingga ia hanya mengenakan celana dalam saja.
Soat Ban Ong dan Kek Ong benar-benar kagum menyaksikan badan yang tegap dan penuh otot itu. Sungguh seorang anak yang sehat dan berbakat untuk belajar silat!
Ketika tampak oleh mereka gambar 'tatto naga' di dada A Liong, mereka saling memandang dengan kening berkerut. Ternyata mereka berdua, yang belum pernah menginjakkan kaki di daratan Tiong-kok, tidak mengenal tanda itu. Mereka juga belum pernah mendengar bahwa di dunia kang-ouw ada partai persilatan yang memiliki tanda khusus seperti itu. Tak heran kalau akhirnya mereka menggeleng-gelengkan kepala tanda tak tahu.
Soat Ban Ong menarik napas panjang sambil memandang A Liong. "A Liong! Apakah kau ingat, siapa yang melukis gambar tatto naga di dadamu itu?"
A Liong menunduk, melihat gambar tatto naga di dadanya,, kemudian menggeleng. "Tidak, Suhu. Sejak kecil gambar ini sudah ada di sini. Semua orang yang mengenal aku juga mengatakan demikian. Itulah sebabnya orang memanggilku... A Liong (Si Naga)!"
Soat Ban Ong menatap mata Bok Kek Ong, demikian pula sebaliknya. Keduanya sama-sama berpikir bahwa gambar itu tentu ada artinya. Tapi, apakah itu?
"Bagaimana dengan pengemis-pengemis tua di kelompokmu? Apakah mereka juga tidak tahu?"
Sekali lagi A Liong menggelengkan kepalanya. "Mereka juga tidak tahu, Suhu. Ketika orang tua angkatku membawa aku ke dalam kelompok pengemis itu dan bergabung dengan mereka, gambar ini juga sudah ada. Tak seorangpun bisa menghapusnya, walaupun telah dibubuhi bermacam-macam obat penyembuh luka. Sampai orang tua angkatku tiada, dan
aku berkeliaran sendiri bersama kelompokku, gambar ini tetap menempel di sini. Bahkan semakin bertambah umur, gambarnya juga semakin jelas."
"Dan... kau tak pernah berusaha untuk mencari tahu makna gambar itu? Setidak-tidaknya ingin tahu, siapa sebenarnya engkau ini?" Bok Kek Ong bertanya.
A Liong terhenyak. Matanya terbuka lebar, seolah-olah pertanyaan itu sangat aneh dan mengejutkannya. Tapi rasa kaget itu hanya sekejap. Di lain saat kepalanya telah tertunduk kembali.
"Siapa sebenarnya... Aku? Ah, Suhu! Bukankah aku anak gelandangan yang tak punya ayah ibu? Aku lahir di tempat sampah, seperti teman-temanku yang lain. Lalu, apa yang harus dicari?"
Bok Kek Ong tertawa sambil menggoyangkan tangannya. "Aaah, pendapat itu terlalu picik dan tidak masuk akal, A Liong. Mungkin kawan-kawanmu memang anak keturunan pengemis yang lahir di tempat sampah. Tapi..., kau? Rasanya tak seorangpun mau percaya kalau kau katakan dirimu seorang tidak memiliki ayah ibu, apalagi lahir di tempat sampah seperti katamu tadi. Sikap dari kepribadianmu sama sekali tak mencerminkan hal itu. Kami justru beranggapan bahwa kau memiliki asal-usul yang menarik. Kau bukan keturunan manusia sembarangan. Dari gambar tatto naga itu bisa diduga bahwa kau berasal dari keluarga atau golongan yang punya nama di tengah-tengah masyarakat ramai. Kau... atau teman-temanmu seharusnya tahu atau berpikir tentang hal itu."
A Liong tertegun. Matanya, terbelalak lebar menatap wajah gurunya. Ucapan orang tua itu bagaikan kilatan petir yang tiba-tiba menyeruak menerangi otaknya. Benarkah apa yang dikatakan orang tua itu?
"Maaf, Suhu. Siau-te... siau-te memang tak pernah memikirkannya. Kami, anak-anak pengemis, tidak pernah berpikir tentang kehidupan. Setiap hari kami hanya berjuang untuk tetap hidup, dan tak pernah berpikir tentang asal-usul kami. Apalagi harus berpikir tentang hari
esok. Kami sudah pasrah pada nasib yang telah diberikan kepada kami." A Liong berhenti sejenak. Kemudian dengan nada yang agak bersemangat ia meneruskan. 'Tapi ucapan Suhu tadi, rasanya... ada benarnya juga. Kadangkala terlintas iuga dalam pikiran siau-te tentang hal itu. Benarkah aku ini anak seorang pengemis? Kalau benar, mengapa keadaanku banyak berbeda dengan anak-anak pengemis lainnya? Mengapa hanya aku yang memiliki gambar tatto naga ini? Mengapa hanya aku pula yang memiliki benjolan di pusar.  Dan... mengapa hanya aku juga yang mempunyai tubuh sehat dan kuat? Suhu benar! Seharusnya aku sudah memikirkan sejak dulu, dan tidak terlena oleh anggapan tentang anak sampah itu. Tidak mungkin manusia lahir dari sampah. Aku tentu mempunyai ayah ibu...."
Soat Ban Ong beringsut mendekati A Liong dan menepuk pundaknya. "Nah, kalau kau bisa keluar dari tempat ini, kau selidikilah asal-usulmu! Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari! Siapa ahu orang tuamu masih mencarimu sam¬pai sekarang!"
"Suhu...???" A Liong berseru dengan wajah pucat.
"Sudahlah! Kau tak usah memikirkannya sekarang! Setelah tamat belajar silat nanti, kau boleh memikirkannya lagi! Sekarang duduklah! Biar kami meneliti keadaan di dalam tubuhmu. Mudah-mudahan kami bisa menemukan rahasia kehebatanmu tadi, sehingga kami dapat menemukan cara yang tepat dalam mem¬beri tuntunan silat kepadamu."
"Benar, kau tak usah memikirkannya sekarang. Kini bersiap sajalah untuk, kami periksa keadaan di dalam tubuhmu ...!” Bok Kek Ong menambahkan.
Demikianlah dengan sangat hati-hati, kedua orang tua itu mencoba mencari, di mana letak rahasia tenaga sakti A Liong. Soat Ban Ong duduk di depan sambil menempelkan kedua telapak tangannya di dada A Liong. Sedangkan Bok Kek Ong bersila di belakang dengan tangan melekat di punggung pemuda itu. Masing-masing berusaha menyusupkan tenaga da-
lamnya ke tubuh A Liong dengan hati-hati. Begitu ada perlawanan dari tenaga dalam A Liong, mereka cepat-cepat menariknya kembali, dan berpindah ke bagian lain.
Keringat mulai menitik di dahi Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong. Meskipun tidak sedang bertempur, namun cara mereka mengerahkan tenaga dalam secara khusus itu benar-benar menguras tenaga mereka. Dan semakin turun mendekati pusar A Liong, loncatan tenaga balik yang diakibatkan oleh daya tolak pemuda itu semakin kuat. Sedikit saja tenaga dalam kedua orang tua itu tersalur, maka sebuah kekuatan yang maha dahsyat segera menyembur keluar dari bawah pusar A Liong! Terlambat sedetik saja menarik saluran tenaga mereka, nyawa merekalah taruhannya! Untunglah dengan cara dari muka dan belakang, otomatis tenaga dahsyat itu terbelah menjadi dua jurusan. Namun demikian tetap saja mereka berdua tak kuasa menghadapinya.
Ketika sampai di bawah pusar, dimana benjolan sebesar ibu jari itu berada, telapak tangan Soat Ban Ong bergetar dengan hebat. Belum juga tenaga dalam orang tua itu tersalur, tempat itu sudah bergolak seperti kepundan gunung api!
Mata Soat Ban Ong terbeliak ketakutan! Tangannya yang menempel di atas benjolan itu tiba-tiba seperti tersedot ke dalam perut A Liong!
Untunglah Bok Kek Ong yang berada di belakang A Liong, segera tanggap akan bahaya yang menimpa sahabatnya! Kedua jari telunjuknya buru-buru ditekuk, kemudian menekan jalan darah keh-ping-hiat di kanan kiri tulang pinggul A Liong!
Untuk sedetik daya sedot dari perut A Liong seperti terhambat. Dan kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh Soat Ban Ong. Kakek itu cepat menarik tangannya hingga terlepas!
Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong bangkit berdiri sambil menyeka keringat mereka. Hampir saja mereka mendapat kesulitan lagi. Untung mereka bisa menyelamatkan diri.
Kedua orang tua itu memandang A Liong dengan kagum sekali. Sekarang mereka sudah mengetahui rahasia kekuatan A Liong. Pemuda itu memiliki sesuatu yang aneh di dalam perutnya, yang membuat tenaga dalamnya menjadi berlipat ganda kekuatannya. Tapi mereka tidak tahu, benda apa yang tersimpan di sana. Dan hal ini semakin meyakinkan mereka, bahwa asal-usul A Liong tidaklah seperti yang diceritakannya. Tentu ada rahasia tersembunyi dalam asal-usulnya, yang tidak diketahui oleh anak muda itu sendiri.
"A Liong...! Sekali lagi kau membuat kaget kami berdua! Ternyata di dalam perutmu tersimpan barang aneh, yang membuat tenaga saktimu (sinkang) menjadi tidak terukur tingginya! Kami tidak tahu barang apa itu, tetapi yang jelas barang tersebut telan berada di dalam perutmu sejak kau lahir di dunia. Dan kami yakin benda itu tidak berada begitu saja di dalam badanmu. Tentu ada orang yang sengaja memasukannya. Dan Orang itu tentu mempunyai hubungan dekat denganmu. Mungkin orang tuamu yang aseli, atau keluargamu yang lain. Dan... mereka tidak mungkin orang biasa, apalagi seorang pengemis atau gelandangan! Benda-benda langka seperti itu biasa dimiliki oleh tokoh-tokoh sakti atau orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di masyarakat!"
A Liong menatap gurunya dengan wa¬jah kosong. Semua yang dikatakan orang tua itu merupakan hal-hal baru yang be¬lum pernah dipikirkannya. Namun, demi¬kian apa yang mereka katakan itu tera-sa mengandung kebenaran. Bahkan pikir¬an dan perasaannya dapat menerimanya.
"Suhu maksudkan... Suhu maksudkan benjolan di bawah pusarku ini? Memang dari sinilah bau amis itu bermula...."
Baik Soat Ban Ong maupun Bok Kek Ong menganggukkan kepalanya. "Ya! Untunglah selama ini tak ada orang yang berusaha mengambilnya. Benda itu merupakan sumber bahaya bagimu, sebab setiap orang tentu ingin memilikinya. Terutama orang-orang dan dunia persilatan!"
"Aaah...!"A Liong berdesah ketakutan.
Tapi Soat Ban Ong cepat mengelus pundak A Liong. "Jangan khawatir, A Liong! Kami akan mengajarimu mengendalikan kekuatan itu. Setelah kau mampu mengendalikannya, hmmmmm... tak seorangpun di dunia ini dapat mengalahkanmu. Termasuk kami berdua, bahkan Ketua Pondok Pelangi sendiri! Meskipun ilmu silatnya sangat sempurna, tapi kekuatannya takkan bisa menandingimu!"
"Ketua Pondok Pelangi? Siapakah dia, Suhu?" A Liong bertanya kaget.
Soat Ban Ong terbelalak. Ternyata tanpa disadari mulutnya telah kelepasan omong. Sebenarnya dia dan Bok Kek Ong tidak ingin bercerita tentang ketua Pondok Pelangi. Tapi kata-kata itu te¬lah terlanjur keluar dan tak bisa dijilat nya kembali.
Memang sebenarnya mereka enggan bercerita tentang Pondok Pelangi. Selain mereka berdua berasal dari tempat itu, mereka juga memiliki keluarga dan sanak saudara di sana. Bahkan mereka berdua mempunyai kedudukan tinggi dalam sistim pemerintahan di kepulauan kecil itu.

"Suhu, mengapa Suhu diam saja? Apakah dia musuhmu? Apakah dia pula yang mengasingkan Suhu ke mari?"
Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong tersentak. "Ah, tidak...! Bukan begitu...!" Mereka buru-buru menerangkan.

Demikianlah, karena tak ingin terjadi salah pengertian pada A Liong, maka kedua orang tua itu terpaksa berbicara tentang Pondok Pelangi!
Kepulauan kecil yang jauh terpencil dari dunia ramai itu hanya berpenduduk sekitar dua ribu orang. Mereka hanya terdiri dari tiga nama keluarga, yaitu Soat, Souw, dan Bok. Masing-masing marga atau keluarga itu mempunyai se¬orang Kepala Marga, yang sangat dijun¬jung tinggi oleh marganya. Mereka ada¬lah orang yang paling dituakan dan pa¬ling tinggi ilmu silatnya di antara war¬ganya. Dan sebagai kepala pemerintahan atau Pemimpin dari Negeri Kepulauan itu dipilih salah seorang aari tiga Kepala Marga tersebut. Orang itu akan bertin¬dak sebagai raja di kepulauan kecil ter¬sebut.
Hampir sepanjang tahun negeri itu dibalut oleh udara dingin. Hanya bebera¬pa bulan saja mereka melihat wajah ma¬tahari. Mereka biasa beternak rusa dan anjing, sementara kaum wanitanya mena¬nam rumput laut, jamur-jamur karang, dan tanaman obat-obatan.
Penduduk kepulauan itu memiliki se¬buah keistimewaan, yaitu ilmu silat ke¬turunan yang hanya bisa diwarisi oleh kalangan mereka sendiri. Ilmu silat ketu¬runan itu telah berabad-abad diwariskan kepada mereka oleh nenek moyang Kelu¬arga Soat, Souw dan Bok. Ilmu silat ke¬turunan itu diciptakan berdasarkan kekhu¬susan daerah itu, yaitu kabut pelangi yang selalu menyelimuti kepulauan terse¬but. Nenek moyang mereka menyebut ilmu silat itu dengan Ilmu Silat Cahaya Pelangi! Konon khabarnya ilmu silat itu merupakan sumber dari segala ilmu silat Tiongkok asli, sebelum Tat-mo Cou-su membawa ilmu silat baru dari India.
Sayang sekali, sekitar lima abad yang lalu salah seorang warga mereka melari¬kan diri dari kepulauan itu. Warga mereka yang bernama Souw Gi itu menjadi nekad karena patah hati. Cintanya dito¬lak oleh gadis dari Marga Bok. Tapi ke-pergian Souw Gi itu ternyata dengan membawa Pedang Pusaka kaum mereka, yaitu Pedang Pelangi! Semua itu bisa terjadi karena ayah Souw Gi adalah Ke¬pala Marga Souw yang terpilih sebagai Ketua Pondok Pelangi!
Ayah Souw Gi membentuk pasukan khusus untuk mencari pedang pusaka ser¬ta anaknya. Pasukan pilihan yang terdiri dari sepuluh orang itu berangkat dengan perahu-perahu kecil. Mereka menyebar ke segala penjuru.
Namun bertahun-tahun kemudian, hingga ayah Souw Gi meninggal, dan digantikap oleh ketua yang baru, pasukan pilihan itu tidak pernah kembali. Begitu pula ketika Ketua yang baru memben-tuk pasukan pilihan lagi, dan mengirim¬kan mereka keluar pulau, tidak seorang pun kembali pulang.
Sejak itu setiap pergantian Ketua, terjadi semacam tradisi untuk mengirim¬kan utusan khusus untuk mencari pedang pusaka tersebut. Tapi seperti halnya yang terdahulu, utusan-utusan itu tidak per-nah kembali pula.
Demikian pula halnya yang terjadi pada empat puluh tahun lalu. Saat itu terjadi pergantian Ketua, karena ketua yang lama telah meninggal, Kebetulan terpilih sebagai utusan khusus adalah Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong!
Pada saat itu Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong baru berusia dua puluh tahun. Keduanya memiliki bakat alam yang he¬bat, sehingga dalam usia muda meresa telah menyempurnakan ilmu silatnya. Kebetulan pula mereka adalah putera Kepala Marga mereka masing-masing.
Sebenarnya tugas itu sangat menye¬dihkan keluarga mereka, apalagi masing-masing sudah menikah pula. Tapi di lain pihak tugas itu juga membuat keluarga mereka merasa bangga. Utusan khusus untuk mencari pedang pusaka itu meru¬pakan tugas suci dari warga Pondok Pe¬langi. Oleh karena itu sebelum berang¬kat mereka berpesan kepada keluarga masing-masing, agar supaya anak mereka yang belum lahir bisa dikawinkan sa¬tu sama lain bila ternyata lelaki dan pe¬rempuan.
Demikianlah, Soat Ban Ong dan B k Kek Ong berangkat dengan sebuah jukung kecil tanpa layar. Mereka berlayar ke selatan, menuju ke daerah panas, karena mereka berpendapat bahwa seorang yang lari dari pulau mereka tentu menuju ke daerah panas. Tidak mungkin menuju ke kutub atau ke laut lepas.
Namun seperti halnya pendahulu-pen-dahulu mereka, mereka berdua pun ter¬nyata tak kuasa melawan keganasan alam. Belum juga keluar dari daerah pusaran air, jukung mereka telah dihantam ge¬lombang laut hingga pecah dan terdam¬par di gugusan pulau itu.
Sudah empat puluh tahun Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong bertahan di gu¬gusan pulau karang itu. Mereka terjebak di dalam lingkungan daerah berbahaya yang tidak mungkin bisa dilalui oleh manusia. Daerah itu adalah daerah ber¬bahaya, di mana beberapa arus laut le¬wat dan bertemu. Badai laut pun setiap saat juga selalu melanda daerah itu. Bahkan badai salju pun sering menyerang daerah itu pula.
Tanpa memiliki perahu besar tak mungkin bisa lewat di tempat itu. Na¬mun dengan ketekunan dan latihan keras, disertai pengamatan lingkungan yang te¬liti, akhirnya mereka berdua bisa berma¬in-main agak jauh dengan sampan buat¬an mereka. Meskipun demikian mereka tetap belum dapat keluar dari daerah berbahaya itu. Sampan kecil itu tak da¬pat bertahan terhadap badai laut. Cela-kanya, di kawasan berbahaya itu juga banyak dihuni oleh ikan hiu dan cucut, yang besarnya sepuluh atau lima belas kali lipat besar sampan mereka. Mudah saja bagi binatang itu untuk melahap me¬reka!
"Begitulah A Liong...!" Empat puluh tahun kami hidup di tempat ini. Setiap hari yang kami lakukan hanyalah berlatih silat dan mencari jalan, keluar dari tem¬pat ini."
"Dan... Suhu berdua belum mendapat¬kan jalan itu?"
Soat Ban Ong saling pandang dengan Bok Kek Ong, lalu menganggukkan kepa¬la. "Kami hampir menemukannya. Tapi karena jalan keluar itu menuju ke timur, kami tak berani- mencobanya. Kata orang di tempat matahari terbit itu tak ada kehidupan. Seluruhnya hanya terdiri dari air yang tak berujung pangkal. Tak mung kin manusia bisa hidup di sana, apalagi hanya dengan sampan kecil seperti milik kami."
"Kami lalu mencoba jalan yang lain lagi. Kami mencoba bersampan melawan arus menuju ke selatan...." Bok Kek Ong meneruskan cerita sahabatnya. "Semula memang sangat sulit sekali. Bayangkan! Arus itu deras sekali! Dengan segala ke¬kuatanku aku bisa mengayuhnya maju. Tapi sekejap saja aku berhenti menga¬yuh, sampan itu -sudah kembali ke tem¬pat semula. Nah, akibatnya seharian pe¬nuh sampan itu hampir tak dapat berge¬rak maju...."
"Tapi... Suhu bisa mengayuhnya sam¬pai jauh ke selatan, ke tempat Suhu me¬nemukan aku itu." A Liong memotong cerita gurunya.
"Tentu saja, karena kami telah ber¬latih selama sepuluh tahun untuk mela¬kukan hal itu. Latihan keras untuk me¬naklukkan arus itu membuat tenaga da¬lam kami tumbuh berlipat ganda. Kalau semula sekali kayuh kami hanya dapat maju setombak jauhnya, kini sekali ka¬yuh kami bisa meluncur sepuluh atau dua belas tombak ke depan!" Soat Ban Ong tersenyum bangga.
"Maka kami benar-benar kaget keti¬ka tenaga gabungan kami tak dapat me-ngalahkanmu! Kami berdua benar-benar tak percaya, karena dengan tingkat kami sekarang, rasanya Ketua Pondok Pelangi sendiri takkan mampu mengalahkan ka¬mi!" Tiba-tiba Bok Kek Ong menyela perkataan sahabatnya.
"Ah, Suhu... Jadi Jiwi Suhu tetap ya¬kin bahwa menentang arus itu merupakan jalan keluar satu-satunya?" A Liong mengalihkan pembicaraan tentang dirinya itu dengan bertanya kepada Bok Kek Ong.
"Yah, hanya itu jalan keluarnya. Diluar jalur arus adalah daerah berbahaya. Mengikuti arus, sama saja pergi ke dae¬rah tak berujung-pangkal alias... mati. Maka menurut kami, hanya menen¬tang aliran arus itulah satu satunya ja¬lan kebebasan. Tapi sekarang niat itu kami tangguhkan dulu. Kami akan meng¬ajarimu ilmu silat, agar kau juga bisa mengikuti kami keluar dari tempat ini."
A Liong cepat berlutut di depan Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong. Wajahnya sangat terharu.
"Terima kasih, Suhu...."
Betapa gembiranya hati A Liong men dengar kesanggupan gurunya. Tak terasa terngiang kembali janjinya kepada Siau In, bahwa pada suatu saat dia akan men jadi jago silat nomer satu. Dan tampak¬nya janji itu kini sudah mulai terasa di dalam genggamannya.
Demikianlah, hari - itu A Liong selalu teringat kepada Siau In, gadis cantik yang telah menolongnya dari keganasan orang-orang Hun. A Liong sama sekali tak menyangka bahwa gadis itu berada dalam cengkeraman penghuni kuburan.
*
**
Kita kembali lagi ke kuburan tua di balik bukit itu. Siau In yang dikurung di dalam ruangan gelap di bawah tanah ma¬sih saja merenungi nasibnya. Ruangan itu sama sekali tak ada pintu keuarnya.
"Cici, maafkan aku." Rintihnya per¬lahan. "Aku... aku, hah? Bau apa ini?"
Tiba-tiba hidung Siau In terasa mem baui asap masakan yang enak, sehingga otomatis perutnya menjadi lapar sekali.
"Nenek tua itu sedang memasak dan asapnya menjalar sampai di sini. Hmm, berarti ada ruangan lain di dekat ruang¬an ini. Baik, aku akan mencarinya...."
Seperti seekor anjing pelacak Siau In lalu menggunakan hidungnya untuk mencari asal asap masakan itu. Dan ter¬nyata kegigihannya membawa hasil pula. Ketika ia menunduk di samping peti-peti yang paling ujung, bau asap itu tera¬sa makin menyengat.
Siau In segera menggeser peti mati itu ke tengah. Sinar terang tampak me¬nyorot ke luar dari sebuah lobang besar di bawahnya. Ternyata lobang itulah pin¬tu keluarnya, tempat di mana nenek tua itu keluar masuk ke dalam ruangan ter¬sebut.
Siau In menjenguk ke dalam. Ia me¬lihat sebuah gua besar di balik lubang itu. Gua yang sudah ditata rapi dan di¬ratakan lantainya. Bahkan berbagai ma¬cam perabotan sederhana tampak tersu¬sun pula dengan teratur. Almari, tempat tidur, meja kursi, semuanya terbuat dari kayu kasar. Sebuah lampu minyak terle¬tak di atas meja.
Dengan hati-hati Siau In masuk ke dalam. Bau masakan tetap menyengat hidung, tetapi tak seorang pun tampak di dalam ruangan itu. Ruangan itu be¬nar-benar bersih dan rapi. Beberapa po-tong pakaian wanita tampak tergantung di dekat almari. Pakaian model lama ta¬pi masih kelihatan terawat baik. Di de¬kat almari itu terlihat lobang besar, yang tampaknya adalah pintu keluar dari ruangan tersebut. Dan dari lubang itulah datangnya bau masakan tadi.
Siau In bergegas menuju ke lubang besar itu. Bau masakan makin menusuk hidung.
"Siapakah kau...? Mengapa kau bisa sampai ke sini?" Tiba-tiba terdengar su¬ara wanita menyapa di dalam ruangan itu. Suaranya amat jelas dan nyaring, su-atu tanda kalau orang itu memiliki tena¬ga dalam yang sangat tinggi.
Siau In hampir melompat saking ka¬getnya. Otomatis seluruh uratnya mene¬gang, siap menghadapi segala kemung¬kinan. Matanya berputar, mencari arah suara itu. Aneh, tak seorang pun dilihat¬nya.
"Aku... aku tidak melihatmu. Di ma¬nakah k-k-kau...?" Siau In menjawab de¬ngan suara gemetar. Bayangan nenek tua itu kembali menghantuinya.
"Jawab dulu pertanyaanku, baru aku keluar menemuimu!"
Siau In mulai ketakutan. "Namaku... Tio Siau ln, dari aliran Im-yang-kau. Aku tersesat dan tidak dapat keluar dari tempat ini!"
"Tersesat? Siapa yang membawamu ke mari?"
"Lhoh...?" Siau In tertegun. Ternyata orang itu bukan Si Perempuan Tua yang menculiknya itu.
Hening sejenak. Berdebar hati Siau In menantikan jawaban orang itu. Kalau bukan penculiknya, lalu siapakah orang ini? Wah, jangan-jangan yang ini justru hantu sungguhan!
"jawablah! Mengapa diam saja?" Su¬ara itu kembali berdentang.
"Eh-oh... aku Tio Siau In, murid ke¬tua Cabang Im-yang-kau wilayah Timur. Guruku bernama Giam Pit Seng." Siau In tersentak kaget dan buru-buru menja¬wab dengan suara gemetar.
"Anggota aliran Im yang kau”i
"Yah... kau pernah mendengarnya?"
"Ya, tapi aku tidak mengenal tokoh-tokoh yang baru. Apakah Toat-beng-jin yang biasa disebut Lo-jin-ong itu masih hidup?"
Siau In mengerutkan dahinya, lalu mengangguk. Perasaannya menjadi tidak enak karena orang itu menanyakan to¬koh yang paling dihormati di dalam aliran Im-yang-kau.
"Ah... tentu sudah tua sekali. Eeem, lalu... bagaimana dengan... Kau Cusi (Pengurus Agama) Tong Ciak?"
Tong Ciak merupakan orang keperca¬yaan mendiang Kaisar Chin Si Hong-te, seperti halnya mendiang Jendral Beng Tian. Setelah kaisar terakhir Dinasti Chin tersebut runtuh dan kerajaan jatuh ke tangan Kaisar Liu Pang, Tong Ciak kembali lagi ke tempat asalnya, yaitu ke aliran Im-yang-kau. Karena sejak se¬mula tingkat kedudukannya memang su¬dah tinggi, maka ia segera diangkat menjadi Pengurus Agama. Dan itu terja¬di pada tiga puluhan tahun yang lalu, Ciak masih berumur tiga pu-ahun.
Hati Tio Siau In semakin kecut. Ter¬nyata orang itu juga sudah mengenal Tong Ciak pula. Bahkan caranya menye¬but seperti kepada sahabat atau orang yang memiliki kedudukan setingkat.
"Beliau juga dalam keadaan baik. Ta¬pi... sekarang beliau menjabat sebagai Ketua, bukan sebagai Pengurus Agama lagi."
"Oh... ya? Sekarang Ilmu Silat Kulit Dombanya tentu telah mencapai puncak-nya. Kata orang, lima belas tahun lalu dia sudah berada di tingkat ke sebelas."
Dada Siau In semakin berdebar-debar. Orang itu juga mengenal ilmu silat Alir¬an Im-yang-kau yang sangat dirahasia¬kan. Padahal Ilmu Silat Kulit Domba ha¬nya diketahui oleh tokoh-tokoh puncak mereka. Gurunya sendiri yang sudah ber¬kedudukan cukup tinggi, juga belum di-ijinkan untuk mempelajari ilmu rahasia tersebut.
"Locianpwe... si-siapakah?" Di dalam keraguannya Siau In bertanya. Ia tidak berani bersikap sembarangan lagi.
"Kau ingin tahu... siapa aku? Baik! Lihatlah...!"
Siau In tersentak dan hampir saja menjerit ketika tiba-tiba di depannya te¬lah berdiri seorang wanita yang sangat cantik. Cantik dan matang!
Dilihat dari rambutnya yang telah bercampur uban, usianya tentu sudah lebih dari empat puluh tahun. Tapi kalau dilihat dari kulit wajahnya yang tetap licin dan segar, orang takkan percaya kalau dikatakan umurnya lebih dari tiga puluh tahun. Pakaiannya yang longgar dan panjang itu hampir menutupi seluruh tubuhnya yang tinggi langsing. Hampir saja Siau In mengira bahwa ia sedang berhadapan dengan Souw Giok Hong, ga¬dis ayu yang dijumpainya di atas pohon itu. Wajah mereka sangat mirip satu sa¬ma lain. Hanya umur dan penampilan mereka saja yang berlainan.
"Kau terkejut? Mengapa? Kau pernah bertemu dengan aku?" Wanita cantik itu bertanya. Suaranya nyaring berwibawa.
Siau In menggeleng. Mulutnya belum bisa menjawab.
"Jangan takut! Aku tidak akan berbu¬at jahat kepadamu. Aku hanya ingin ta¬hu, bagaimana kau bisa sampai ke tem¬pat ini. Hmm, siapakah namamu tadi? Tio Siau In? Benarkah?"
Siau In mengangguk. Mulutnya tetap terkunci.
"Baiklah! Tenangkanlah dulu perasaan¬mu! Atau... kita keluar dulu? Marilah, akan kuperkenalkan kau dengan saudara¬ku!"
Wanita cantik itu lalu menggandeng lengan Tio Siau In dan membawanya ke¬luar melalui lubang besar tadi. Mereka menyusuri lorong panjang yang di kanan kirinya banyak dipasangi lampu minyak, sehingga tempat tersebut tampak terang benderang. Hembusan angin dingin me¬nerpa tubuh Siau In, seolah-olah dinding gua itu mempunyai banyak lubang angin.
Lorong itu berbelok-belok, naik turun, dan kadang-kadang menembus ke lubang gua yang lain. Demikianlah, setelah be¬berapa saat lamanya mereka berjalan, akhirnya Siauln.melihat sinar terang di kejauhan. Ternyata ujung lorong i nembus ke permukaan tanah.
Begitu keluar yang terlihat oleh Siau In adalah air terjun. Curahan air yang menebar panjang itu bagaikan selembar daun pintu yang menutupi pintu gua. Dan persis di mulut gua itu terlihat seorang wanita yang tidak kalah cantiknya de¬ngan wanita yang datang bersama Siau In. Bahkan usia mereka pun tampak se¬baya pula. Hanya bedanya, perawakan anita yang kini baru memasak itu lebih kecil dan agak lebih pendek. Penampilan-
nya juga tampak lebih sabar dan lembut.
"Lan-moi, lihatlah... siapa yang kuba¬wa ini? Aku hampir saja salah lihat. Ku¬kira kau yang berada di Bilik Semadhi, ternyata... dia! Lihat wajahnya, mirip denganmu, bukan?"
Wanita cantik yang sedang memasak itu agak kaget juga melihat kehadiran Siau In. Bibirnya tersenyum, tapi senyum nya segera hilang begitu melihat wajah Siau In. Matanya terbuka lebar seolah- olah ada sesuatu yang menarik perhati¬annya. Tetapi kemudian mata itu kemba-meredup, bahkan mulai berkaca-kaca. ''Kau benar... Cici. Aku benar-benar terkejut melihatnya. Siapakah dia...? Ah, kalau saja Cu Hua masih hidup...." Wanita berwajah lembut itu bergumam perlahan.
"Maafkan aku, Lan-moi. Aku tidak bermaksud membangkitkan ingatanmu pa¬da Cu Hua." Wanita yang datang bersa¬ma Siau In itu cepat meminta maaf.
Wanita berwajah lembut itu menghe¬la napas panjang sekali. Bahkan kepala¬nya menggeleng beberapa kali, seperti ingin melepaskan diri dari kabut ke¬nangan yang menyedihkan.
"Tidak apa, Cici. Melihat sikapmu ke¬pada anak itu, aku juga tahu... bahwa kau pun ingat kepada Han Sui pula. Anak ini memang sebaya dengan kedua anak kita itu. Sayang bocah-bocah manis itu telah mendahului kita."
Wanita cantik yang datang bersama Siau In itu tiba-tiba juga menarik napas panjang. Bahkan ia buru-buru berpaling untuk menyembunyikan matanya yang mulai memerah.
"Ah, Lan-moi... sudahlah. Bagaimana dengan masakanmu? Sudah siap belum? Ayolah, kita bersantap bersama. Kita ja¬mu tamu kita ini sambil... kita tanya¬kan asal-usulnya." Katanya kemudian un¬tuk mengalihkan suasana yang kurang menyenangkan itu.
Demikianlah, tiga orang wanita itu lalu makan bersama-sama. Matahari su¬dah naik hampir di atas kepala, membu¬at ruangan sempit di mulut gua itu te¬rasa segar dan nyaman. Suasana itu membuat nafsu makan Siau In menjadi
semakin bertambah, sehingga tanpa ma¬lu-malu lagi gadis itu menyerbu hidang¬an yang tersedia. Tingkahnya yang be¬bas tanpa kendali, namun wajar serta alami itu, justru sangat menyenangkan tuan rumah.
Dan pada saat makan itulah Siau In baru men a ari kalau tangan kiri wani¬ta cantik yang sudah mulai beruban ram¬butnya itu, hanya sebatas siku saja pan¬jangnya. Tampaknya lengan itu cacat atau terputus karena kecelakaan.
Namun demikian wanita cantik itu bergerak dengan leluasa. Cacat tubuh¬nya sama sekali tidak membuatnya kikuk. Sikapnya juga kelihatan biasa saja dan wajar.
"Tio Siau In, ketahuilah... kami ber¬dua telah lebih dari sepuluh tahun ting¬gal di guha ini. Riwayat hidup kami sa¬ngat menyedihkan sehingga kami tidak ingin mengingatnya lagi. Kau boleh me-nyebutku Bibi Lian, dan memanggil adik¬ku itu... Bibi Lan. Kau boleh tinggal bersama kami... kalau mau."
Siau In tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.
"Lan-moi, anak ini bernama Tio Siau In. Gurunya adalah Ketua Cabang Im-yang-kau wilayah timur. Katanya dia di¬culik seorang wanita bongkok dan diba¬wa masuk ke lubang kuburan di atas sana."
"Im-yang-kau...?" Wanita cantik ber¬wajah lembut yang disebut Bibi Lan itu tersedak. Matanya yang redup dan sayu menatap wajah Siau In dengan tajamnya.
"Apakah Bibi Lan juga sudah menge¬nal Lo-jin-ong dan Tong Kaucu?" Tak terduga Siau In bertanya lebih dulu de ngan suara lucu. Dia berkata sambil me lirik ke arah Bibi Lian.
Wanita yang disebut Bibi Lan itu ti¬ba-tiba menundukkan wajahnya. Bibirnya yang tipis bergumam perlahan.
"Tentu saja. Bukankah aku dan Bibi Lian bersaudara? Apa yang dia kenal, tentu aku ketahui pula. Aku mengenal Lo-jin-ong seperti mengenal kakekku sen¬diri. Ah, apakah dia masih hidup?"
"Dia memang masih hidup, Lan-moi. Katanya tubuh Lo-jin-ong sudah bongkok,
tetapi masih tetap bersemangat men¬dampingi Kau Cu-si Tong Ciak, yang ki¬ni telah diangkat menjadi Kau-cu."
"Benarkah...?" Wanita berwajah lem¬but itu berdesah pendek, kemudian me¬nundukkan mukanya kembali. Matanya terpejam seperti ada sesuatu yang meng¬ganjal di hatinya.
Mereka lalu terdiam untuk beberapa saat, sehingga kesempatan itu segera di¬pergunakan Siau In untuk menceritakan pengalamannya selama ini. Dia berceri¬ta tentang tugas yang diberikan gurunya, serta pengalamannya bersama A Liong, Kedua wanita cantik itu saling ber¬pandangan. Wajah mereka sedikit beru¬bah. Bahkan Bibi Lan bergumam, tap» tak jelas.
"Lo-jin-ong mencari pemuda bertatro' Pihak kerajaan juga mengumpulkan para pemuda bertatto naga? Oh, apakah me¬reka masih tetap mencari keturunan Pa¬ngeran Liu Yang Kun?"
"Pangeran Liu Yang Kun? Siapakah dia, Bibi?"
Lagi-lagi kedua wanita cantik itu menarik napas panjang. Keduanya tidak se gera menjawab. Tampaknya seperti ada | sesuatu yang mereka pikirkan.
"Pangeran Liu Yang Kun adalah pute-ra mendiang Kaisar Liu Pang yang le¬nyap ketika akan dinobatkan menjadi Kaisar. Ah, sudahlah! Lanjutkan saja ce¬ritamu! Tak ada hubungannya dengan ce¬ritamu." Akhirnya Bibi Lian menerang¬kan dengan suara berat.
Meski tidak puas tapi Siau In tidak berani bertanya lebih lanjut. Dia lalu meneruskan ceritanya. Dia bercerita ten¬tang Wanita Bongkok yang membawanya ke liang kuburan.
"Kaumaksudkan... di atas Ruang Se¬madi itu ada Kamar Mayatnya? Eh, me¬ngapa tidak kaukatakan sejak tadi? Lan-moi, mari kita lihat!" Bibi Lian tiba-tiba berseru.
. Tiba-tiba saja kedua wanita cantik itu menghilang dari depan Siau In! Sepin¬tas hanya terlihat bayangan mereka, berkelebat masuk ke dalam gua! Siau In sampai melongo saking kagumnya! Gerak¬an mereka sama cepatnya dengan gerakan pemimpin rombongan orang Hun yang membantai prajurit kerajaan itu.
Siau In bangkit sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Timbul perasaan kagum dan perasaan ingin dapat menjadi seperti mereka. Alangkah bahagia hati¬nya bila dapat menjadi murid wanita-wanita sakti itu. Sambil melamun Siau In melangkah mengikuti mereka.
Namun baru selangkah kakinya mena¬pak, Siau In mendengar suara nyaring di balik tumpahan air terjun. Dengan tangkas Siau In membalikkan tubuh dan berjalan keluar mendekati air terjun. Sambil berlindung dari semburan air yang memercik ke mana-mana, Siau In beru¬saha mengintip keluar.
Suara teriakan yang disertai desau angin pukulan terdengar semakin jelas. Tapi Siau In tetap tak bisa melihatnya, karena curahan air menimpa bebatuan -di depan gua itu amat deras sekali. Per-cikan air seolah-olah menyelimuti tem¬pat itu sehingga semuanya tampak re¬mang-remang. Kadang-kadang memang kelihatan bayangan di luar air terjun.
"Wah, tampaknya ada pertempuran di luar sana. Tapi lubang gua ini tidak ada jalan keluarnya. Jalan satu-satunya hanya menerobos air terjun itu...."
Siau In mengawasi batu-batu besar yang berserakan di depan gua, di mana air terjun itu tercurah dari atas. Batu^ batu itu kelihatan licin dan berbahaya, sementara air yang menimpanya tentu memiliki kekuatan yang dahsyat pula.
"Apa boleh buat... kalau ingin keluar memang harus berani mencobanya!"
Tapi sebelum kakinya melangkah, ti¬ba-tiba terdengar suara panggilan yang berdengung di lubang telinganya.
"Siau In...!" Suara itu bergetar jelas melalui gelombang ilmu Coan-im-ji-bit.
"Wah, Bibi Lian memanggilku...." Siau In bergumam dan terpaksa mengu¬rungkan niatnya untuk menerobos air terjun.
Siau In lalu masuk kembali ke lorong gua dengan tergesa-gesa. Setelah bebe r apa kali berbelok, serta melewati bebe¬rapa buah gua, Siau In sampai ke sebu¬ah lorong kecil yang menanjak ke atas.
Di tempat itu baru Siau In sadar bahwa dia tersesat. Lorong itu bukan jalan me¬nuju Ruang Semadi.
"Ah, seharusnya aku sudah sadar ke¬tika tidak melewati lorong berlampu mi¬nyak itu...! Aduh, bagaimana sebaiknya? Oh, ada sinar terang di ujung lorong ini. Tentu ada lampu di sana. Baiklah, aku berjalan terus saja."
Karena lorong itu terlalu sempit, Siau In terpaksa merangkak. Beberapa saat kemudian telinga Siau In mendengar desau angin dan burung berkicau. Udara yang berhembus pun terasa lebih segar.
"Hei... ini jalan keluar!" Siau In ber¬sorak gembira.
Otomatis Siau In menjadi bersema¬ngat. Dan benar juga dugaannya. Seben¬tar kemudian mata Siau In menjadi silau oleh sorot matahari.
Siau In segera melompat keluar. Ter¬nyata lubang keluar itu berada di anta¬ra dua batu besar di tepi sungai. Lubang itu hampir tidak kelihatan karena tertu¬tup ilalang dan lebarnyapun hanya sete¬bal tubuh manusia dewasa.
Siau In melesat ke kanan dan ke kiri. Tempat itu benar-benar sepi. Sungai di depannya juga besar dan lebar, di mana airnya mengalir dengan tenang tanpa ri¬ak yang berarti.
"Sungai ini tentu dalam sekali dan... aha, kalau aku mengikuti alirannya, ten¬tu akan sampai di air terjun itu! Bagus, aku akan ke sana!"
Dengan wajah riang Siau In berlari di antara batu-batu yang berserakan di pinggir sungai. Sebentar saja ia sudah mendengar suara gemuruh itu.
"Nah, apa kataku? Lorong gua tadi memang berada di bawah sungai ini. Air terjun itu... wah!"
Tiba-tiba mulut Siau In ternganga. Aliran sungai itu sekonyong-konyong ter¬putus dan meluncur turun dengan deras¬nya. Air sungai yang dalam dan lebar itu bagai ditumpahkan ke bawah begitu saja! Dan ketika Siau In mencoba melo¬ngok ke bawah, kakinya buru-buru dita¬rik kembali ke belakang.
Ternyata air terjun itu cukup tinggi. Mungkin ada tiga belas atau lima belas tombak tingginya. Untuk menuruninya Siau In harus berjalan memutar cukup jauh, karena dinding tebing yang memba¬tasi air terjun itu sangat terjal dan licin berlumut.
Sampai di bawah Siau In semakin berhati-hati. Pengalamannya selama ini telah mengajarkan kepadanya, agar dia selalu waspada di manapun juga berada. Dia belum tahu siapa yang sedang berke¬lahi, tapi mengingat suara teriakan mere¬ka yang mampu menindih, bahkan dapat mengalahkan suara air terjun, Siau In yakin bahwa mereka bukan orang semba rangan.
Ternyata benar juga dugaan Siau In. Dia segera mengenal orang-orang yang sedang berkelahi itu. Mereka adalah orang-orang yang dilihatnya di kuburan pagi tadi, yaitu Si Wanita Bongkok dan tiga orang aneh berkain belacu kasar itu.
Sendirian Wanita Bongkok itu mela¬wan tiga orang lawannya. Meskipun sudah tua namun gerakannya tetap luar biasa lincahnya. Tubuhnya yang sudah meleng¬kung itu melenting ke sana k mari.
Dia tidak membawa senjata apa-apa, ta¬pi dari kedua telapak tangannya selalu tersembur angin tajam yang memburu lawan-lawannya. Dan bau aneh seperti bau dupa wangi menyebar sampai ke tempat Siau In.
Tapi ketiga orang lawannya juga ti¬dak kalah pula lincahnya. Mereka justru bergerak dengan cara yang lebih aneh dan mengerikan. Setiap kali kaki mere¬ka menapak di tanah, tubuh mereka tam¬pak terhuyung-huyung seperti orang ma¬buk berat. Namun setiap kali hendak ja¬tuh tubuh mereka segera melenting lagi dengan tangkasnya.
Demikianlah, pertempuran mereka be¬nar-benar seru dan menegangkan. Diban¬dingkan dengan pertempuran di tepi Pan¬tai Hang-ciu, pertempuran itu memang belum seberapa. Namun demikian per¬tempuran ini memiliki kesan tersendiri bagi Siau In. Cara dan gaya mereka ber¬kelahi sama sekali berbeda dengan ilmu silat kebanyakan.
Ternyata pada puncak pertempuran mereka, kedua pihak mempergunakan ilmu yang sama. Mereka bergerak kaku dan selalu bergoyang, seperti layaknya orang yang berdiri di atas geladak kapal. Entah mengapa, cara mereka bersilat yang aneh itu lama-lama menimbulkan perasaan seram dan ngeri di hati Siau In. Gadis itu serasa melihat sebuah aca¬ra ritual para pengikut setan. Bau dupa wangi serta kabut tipis tampak menyeli¬muti tubuh mereka, seperti halnya acara persembahan atau acara memanggil roh.
Bahkan suasana segar dan cerah tadi tiba-tiba juga berubah menjadi sunyi mencekam. Suara gemuruh air yang mula terasa bising, mendadak mere¬da. Sebaliknya telinga Siau In seperti mendengar suara nyamuk yang mende¬nging tiada henti-hentinya.
"Aduuuuh...!" Sekonyong-konyong Siau In mendekap kepalanya. Mulutnya meri¬ngis menahan sakit.
Ternyata suara mendenging itu sema¬kin lama semakin kuat dan tajam, hingga telinga Siau In menjadi sakit. Dan sebe¬lum gadis itu sempat menutup telinga¬nya, mendadak suara itu melengking ma-
kin kuat. Akibatnya seperti ada ribuan jarum yang tiba-tiba menyusup ke dalam telinga Siau In dan menyerang otaknya!
"Hentikan...!!!11 Karena tidak tahan lagi, maka Siau In berteriak sambil me¬loncat keluar dari persembunyiannya.
Tapi apa yang dilakukan gadis itu benar-benar suatu kesalahan besar. Rasa kaget membuat orang-orang itu cende¬rung untuk membela diri. Otomatis se¬muanya bergerak menyerang Siau In. Ada yang melontarkan jarum-jarum kecil. Ada yang menghembuskan asap beracun. Dan ada pula yang menerjang dengan pu¬kulan penuh tenaga sakti!
Serangan tak terduga itu menyambar dengan cepat sekali dan tidak mungkin Siau In bisa mengelakkannya. Apalagi ke¬pandaian mereka rata-rata memang ber¬ada jauh di atas gadis itu.
Disertai jerit kesakitan tubuh Siau In terpental ke belakang. Sesaat gadis itu mencoba untuk bangkit kembali, na¬mun gagal. Tubuhnya kembali terhempas ke tanah dan pingsan. Semua serangan lawannya tidak ada yang meleset. Semua mengenai tubuhnya.
Sejenak pertempuran itu berhenti. Masing-masing melihat korban serangan mereka, tapi ketika tidak seorangpun diantara mereka yang mengenal Siau In, mereka saling bercuriga satu sama lain.
“Kukira Kwa Yung Ling, ternyata… bukan! Hmmm siapakah gadis ini, Tai bong kuibo? Salah seorang dari tiga lelaki berbaju putih itu bertanya kepada Wanita bongkok.
“mana aku tahu? Aku juga mengira ia kawan yang kau bawa dari Tai bong pai, sejak dulu kalian, giam lo sam kui tak pernah pergi sendirian, selalu saja bertiga atau membawa kawan yang lain.” Wanita bongkok itu mengejek.
Orang tertua dari Giam lo tai bong itu mendengus, wajahnya yang pucat itu tampak semakin kusam.
“Kurang ajar, perempuan tua tak tahu diri! Sudah dekat liang kubur, masih juga bersikap sombong, mari kita teruskan
lagi pertempuran kita! Jangan harap kau dan Kwa Yung Lin bisa melepaskan diri dari hukuman Tai bong pai. Lihat serangan…!”
“bagus, kalau kalian memang bisa mengalahkan aku, akan kukatakan dimana Kwa Yu Ling berada!”
Maka pertempuranpun pecah kembali, masing-masing tak mau mengalah lagi, begitu bergebrak mereka segera mengeluarkan kemampuan sepenuhnya, sekali lagi tempat itu menjadi ajang pertempuran yang dahsyat.
Meskipun dari perguruan yang sama tapi kemampuan mereka memang berbeda, sejak kecil Tai bong kuibo ikut keluarga mendiang ketua Tai bongpai lama Kwa Eng Ki, meskipun tidak diambil murid tapi Kwa Eng Ki juga memberinya pelajaran silat.
Ketika Kwa Eng Ki meninggal dan diganti Kui Mo Siang, sutenya, Tai Bong Kui bo diangkat menjadi pengurus rumah tangga perguruan, meskipun Tai bong kui bo tetap berada di rumah keluarga Kwa Eng Ki, wanita itu tetap mengasuh Kwa Yung Ling, cucu perempuan Kwa Eng Ki.
Malapetaka timbul setelah Kui Mo Siang meninggal dunia.. Penggantinya Yok Si Ki, murid Mo Siang sendiri. Tapi wa¬tak mereka benar-benar bertolak bela¬kang. Yok Si Ki sangat kejam dan licik. Usianya yang masih terhitung muda, di¬tambah dengan ilmu silatnya yang ting¬gi membuat wataknya menjadi sombong dan sewenang-wenang. Lebih celaka lagi Yok Si Ki memiliki watak hidung belang dan suka main perempuan.
Banyak wanita dan gadis baik-baik yang menjadi korban kebiadabannya, di antaranya adalah Kwa Yung Ling, cucu Kwa Eng Ki sendiri. Padahal saat itu Kwa Yung Ling masih terlalu muda. Ha¬nya karena menolak menjadi isteri muda¬nya, Kwa Yung Ling ditangkap dan di¬masukkan ke dalam penjara. Dan di da¬lam penjara itu berkali-kali Kwa Yung Ling diperkosa dan dihina, sehingga akhirnya ia melahirkan seorang bayi pe¬rempuan.
Dua belas tahun lamanya Kwa Yung Ling terkurung bersama anaknya. Dan selama itu pula pengasuhnya, Tai-bong Kui-bo, tak pernah kelihatan batang hi¬dungnya. Perempuan itu menghilang se¬jak dikalahkan oleh pengawal-pengawal Yok Si Ki.
Selama dua belas tahun itu pula Yok Si Ki selalu menyebar anak buahnya un¬tuk mencari Tai-bong Kui-bo, karena wa¬nita itu ternyata menghilang bersama buku pusaka Tai-bong Pit-kip. Tetapt usahanya tak pernah berhasil. Tak se¬orang pun di antara orang-orangnya yatig dapat menemukan perempuan itu. Tai-bong Kui-bo seakan-akan sudah lenyap ditelan tanah.
Maka Yok Si Ki benar-benar tidak menduga ketika dua tahun yang lalu Tai-bong Kui-bo tiba-tiba muncul di gedang penjara, membunuh para penjaga, kemu¬dian membawa pergi Kwa Yung Ling dan anaknya! Bahkan ketika Tai-bong Kui-bo yang kini sudah tua dan bongkok itu ke-pergok dengan Hiat-tok Mo-li (Iblis Wa¬nita Darah Beracun), dia masih bisa me¬ngecoh dan meloloskan diri. Padahal Hiat-tok Mo-li merupakan orang nomor tiga di partai Tai-bong-pai setelah Yok Si Ki dan Mo-gan Wan-ong (Si Raja Ke¬ra Bermata Iblis).
Sebab itulah selama dua tahun ini Yok Si Ki benar-benar mengerahkan se¬luruh kekuatannya untuk memburu Tai-bong Kui-bo. Seluruh pelosok negeri di¬aduknya. Puluhan orang kepercayaannya tersebar hampir di segala tempat. Tak heran kalau akhirnya jejak perempuan tua itu dapat ditemukan juga. Giam-lo Sam-kui, tiga oraflg Petugas- Hukum dari Tai-bong-pai, berhasil mencium persembunyiannya1.dan sekarang ketiga iblis neraka itu mencoba meringkusnya.
Kepandaian Giam-lo Sam-kui memang masih di bawah Mo-gan Wan-ong mau¬pun Hiat-tok Mo-li. Tapi di dalam Par¬tai Tai-bong-pai, kedudukan Giam-lo Sam-kui sangat dihormati. Mereka berti¬ga adalah Pengawas Hukum di dalam Partai Tai-bong-pai. Kedudukan mereka sejajar dengan Pengurus Partai, yang kini dipegang oleh Mo-gan Wan-ong. Oleh karena itu tidak mengherankan bila me¬reka bertiga mampu melayani Tai-bong Kui-bo dengan baik.
Sebenarnya kepandaian Tai-bong Kui-bo sendiri juga sulit diduga pula. Selama dua belas tahun bersembunyi, ditambah dengan dua tahun dalam pelariannya ber¬sama Kwa Yung Ling, kesaktiannya benar-benar lain dengan Tai-bong Kui-bo dahu¬lu. Dengan mempelajari Buku Pusaka Tai-bong Pit-kip yang berisi rahasia Ilmu Silat Tai-bong-pai, ilmunya te¬lah meningkat berlipat ganda.
Sayang sekali cacat pada tulang punggungnya, akibat keroyokan pengawal Yok Si Ki lima belas tahun lalu, membuat dia tidak bisa mempelajari Tai-bong Pit-kip seca¬ra tuntas. Itulah sebabnya dalam per¬tempuran sekarang, Tai-bong Kui-bo tampak sangat geram kepada Giam-lo Sam-kui, karena ketiga Iblis Neraka ter¬sebut termasuk pula di antara para pe¬ngeroyoknya pada waktu itu.
Demikianlah, pada lima belas tahun lalu memang mudah bagi Giam-lo Sam-kui untuk mengalahkan Tai-bong Kui-bo.
Tapi sekarang mereka tidak dapat mela¬kukannya lagi. Kini ilmu silat Tai-bong Kui-bo telah sejajar dengan ilmu silat mereka. Bahkan tenaga dalam perempu¬an tua itu juga sudah mencapai tingkat¬an tertinggi pula.
Oleh karena itu pertempuran mere¬ka tidak mungkin selesai dalam waktu pendek. Masing-masing sudah saling me¬ngenal ilmu silat lawannya. Mereka ha¬nya bisa mengandalkan memujuran saja, siapa tahu lawan mereka lengah atau sa¬lah langkah—
Demikianlah, lima puluh jurus telah ' berlalu. Dan matahari pun mulai berge¬ser ke arah barat. Tubuh mereka telah mulai basah dengan keringat, sementara kekuatan mereka telah berimbang.
Namun menginjak jurus ke sembilan puluh, tiba-tiba perimbangan kekuatan mereka mulai berubah. Sedikit demi se- | dikit gerakan Tai-bong Kui-bo kelihatan | melemah. Bahkan setiap kali beradu te- I naga, mulut perempuan tua itu tampak menyeringai kesakitan. Malah sesekali 1 perempuan tua itu terhuyung seolah-olah kehilangan tenaga.
Ternyata perbedaan usia dan jumlah lawan berpengaruh juga pada daya tahan mereka. Walaupun berkepandaian tinggi tetapi tulang dan otot Tai-bong Kui-bo tidak sekuat dan sesegar tubuh Giam-lo Sam-kui yang masih muda. Apalagi Tai-bong Kui-bo memiliki cacat pada pung¬gungnya, sehingga ia selalu merasa kesa¬kitan setiap kali beradu kekuatan.
Semakin lama perimbangan kekuatan mereka juga semakin berat sebelah. Pe¬lan tetapi pasti perbedaan kekuatan itu membuat Tai-bong Kui-bo mulai terdesak. Malah beberapa saat kemudian satu dua pukulan mulai mendarat pada tubuh bongkok itu.
"Iblis pengecut...!" Perempuan tua itu menjerit-jerit.
"Sudahlah, Kui-bo! Lebih baik kau me¬nyerah saja dan katakan di mana Kwa Yung Ling berada!"
"Persetan! Kalian tidak mungkin... aduuuh!"
Sebuah sabetan kaki mengenai ping¬gang perempuan itu sehingga tubuhnya terlempar jauh. Tapi dengan gin-kangnya yang tinggi Tai-bong Kui-bo mampu men¬daratkan kakinya di atas tanah kembali. Meskipun demikian tendangan itu tetap melukai bagian dalam perutnya.
"Ayoh, cepat katakan! Di mana Kwa Yung Ling, hah...?" Saudara tertua dari Giam-lo Sam-kui membentak seraya me¬nahan dua saudaranya untuk memberi ke¬sempatan kepada lawannya.
Namun Tai-bong Kui-bo tak menja¬wab. Matanya justru mendelik penuh ha¬wa pembunuhan. Dan itu sudah cukup bagi Giam-lo Sam-kui untuk segera meng akhiri pertempuran mereka. Oleh karena "itu Giam-lo Sam-kui segera' mempersiap¬kan diri mereka untuk menggempur pe¬rempuan itu dengan kekuatan penuh.
Meski sedang goyah, tapi Tai-bong Kui-bo menyadari bahaya yang hendak menimpanya. Dalam * keadaan terdesak itulah timbul kenekatannya. Lebih baik mati daripada jatuh ke tangan lawannya.
Tiba-tiba Tai-bong Kui-bo bergeser mundur, berbareng dengan itu kedua ta¬ngannya terayun ke depan dan belakang
bergantian. Serentak dari kedua telapak tangannya berhembus angin berputar me¬ngelilingi tubuhnya, membentuk sebuah benteng untuk melindungi diri dari ser¬gapan lawannya.
Pusaran angin yang keluar dari tela¬pak tangan Tai-bong Kui-bo makin lama terasa semakin kuat, sehingga pengaruh¬nya mulai melanda pinggiran air terjun itu. Semak-semak mulai bergoyang, se-mentara dedaunan juga mulai tanggal dan bertebaran ke segala penjuru.
Tapi ke tiga iblis itu hampir tak ter¬pengaruh oleh kedahsyatan ilmu Tai-bong Kui-bo tersebut. Mereka bertiga tetap menerjang ke depan, menerobos benteng angin itu. Di dalam puncak ilmu mereka, Giam-lo Sam-kui benar-benar memiliki kekuatan seperti iblis. Ketiga pasang ta¬ngan mereka bagaikan palu godam yang menggedor benteng pertahanan Tai-bong Kui-bo. Dan akibatnya sungguh mende¬barkan!
Dhuuuuaaaaaarrrr!
Tubuh Tai-bong Kui-bo terpental ba¬lik bagaikan layang-layang putus! SebaUknya salah seorang di antara lawannya juga jatuh terduduk di atas rumput! Ter¬data benturan kekuatan itu telah mem-bawa korban!
"Kui-bo...!" Tiba-tiba terdengar jeritan dari jauh.
"Kwa Yung Ling!" Tiga Iblis dari Neraka itu menggeram bersama-sama. Salah seorang dari Giam-lo Sam-kui yang jatuh tadi telah dapat berdiri kembali.
Sekejap kemudian seorang wanita cantik berusia tiga puluh satu atau tiga puluh dua tahun, datang ke tempat itu dan menubruk tubuh Tai-bong Kui-bo yang tergeletak lemah di atas tanah. Darah segar tampak mengalir deras dari mulut perempuan tua itu.
"Kui-bo, bertahanlah! Aku akan me¬ngobati lukamu...!" Wanita yang tidak lain memang Kwa Yung Ling itu menangis di samping Tai-bong Kui-bo. Dia sama sekali tidak mempedulikan Giam-lo Sam-kui yang berdiri garang di sekeli¬lingnya.
Mata yang terpejam itu terbuka. Ke¬tika melihat kehadiran Kwa Yung Ling, mata yang telah mulai meredup itu tam¬pak kaget. Dengan segala kekuatan yang masih tersisa bibir itu dipaksakan untuk berkata.
"Ce-cepatlah... laari!" Bibir itu ber¬getar lemah, kemudian terkatup rapat kembali. Nyawa tua itu keburu lepas da¬ri tubuhnya.-
"Kui-bo...!!!" Sekali lagi wanita yang baru tiba itu menjerit pilu dan memeluk tubuh Tai-bong Kui-bo.
"Diam! Kau tidak perlu menangis la¬gi! Sekarang berikan buku itu dan ikut kami ke Tai-bong-pai!" Tiba-tiba orang tertua dari Giam-lo Sam-kui menghardik dan menyambar lengan Kwa Yung Ling.
Tapi dengan tangkas wanita cantik itu menghindar. Walau sedang menangisi pengasuhnya, namun Kwa Yung Ling te¬tap waspada terhadap lawan-lawannya. Maka ketika tangan Giam-lo Sam-kui menyambar, dia buru-buru melompat ke samping. Di lain saat ia telah berdiri tegak di hadapan lawan-lawannya. Bah¬kan tangan kanannya telah memegang selendang putih yang tadi membelit di pinggangnya. Di kedua ujung selendang itu terpasang gelang kecil dan besar.
"Kalian bertiga memang bukan manu¬sia baik-baik. Kalian telah mengkhianati sumpah kalian terhadap Tai-bong-pai. Kalian mengabdi kepada Si Iblis Yok Si Ki, yang telah berbuat makar terhadap Tai-bong-pai. Sebagai pejabat Pengawas Hukum seharusnya kalian tahu bahwa Yok Si Ki telah menginjak-injak peratur¬an dan adat istiadat Tai-bong-pai, yang selama ini dijunjung tinggi oleh leluhur kita."
Wajah Giam-lo Sam-kui yang putih pucat itu untuk sesaat berubah menjadi merah padam. Namun rasa malu justru membuat mereka menjadi marah sekali. Dengan pandangan mengerikan ketiga iblis itu mengangkat tangannya. Terde¬ngar suara berkerotokan ketika lengan itu mengeluarkan asap tipis berwarna keme¬rahan.
Sebagai seorang anggota partai Tai-bong-pai, Kwa Yung Ling segera tahu apa yang sedang dilakukan lawannya Cepat ia mengerahkan segala kemampuannya, semua ilmu yang diberikan men¬diang Tai-bong Kui-bo selama dua tahun ini. Selendang itu cepat direntangkan di depan dadanya. Seluruh tenaga sakti dia kerahkan di kedua lengannya, karena ia tahu bahwa dia bukan tandingan Giam-lo Sam-kui. Namun yang jelas ia tak mau menyerah begitu saja.
"Mulutmu sangat tajam, maka tiada jalan lain bagi kami selain membungkam mulutmu selama-lamanya! Nah, bersiap¬lah untuk mati!" Orang tertua dari Gia lo Sam-kui menggeram, kemudian mem¬beri aba-aba kepada saudaranya untuk menyerang.
Wuuuuuus! Singgggg! Taaaaak' Giam-lo Sam-kui tidak peduli lagi akan pandangan orang. Sebagai seorang tokoh Tai-bong-pai mereka tidak ma!u~ malu lagi mengeroyok seorang wanita muda. Bagi mereka yang penting adalah menunaikan tugas yang diberikan oleh Jcetua mereka. Mereka tidak ingin kehi¬langan kesempatan itu. Mereka harus se¬gera memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan buku Tai-bong Pit-kip itu kembali.
Mereka bertiga menyerang tanpa be¬las kasihan lagi. Seluruh kemampuan me¬reka tercurah untuk secepatnya membu¬nuh Kwa Yung Ling, kemudian mengele-dahnya.
Kwa Yung Ling memang tidak bisa berbuat banyak. Tai-bong Kui-bo saja kalah, apalagi dia. Meskipun selendang¬nya yang berujung gelang itu sangat ce¬pat dan bergerak lincah melindungi diri, tapi ketiga lawannya memiliki ilmu yang lebih tinggi daripada dia. Maka belasan jurus kemudian gerakan selendang itu justru menjadi kacau dan menyulitkan dirinya sendiri. Beberapa kali gelang di ujung selendang itu malah berbalik me¬nyerang dirinya. Bahkan tangkai selen¬dang itu sering membelit dan membe¬lenggu tangannya sendiri.
"Hihihi, kelihatannya selendangmu justru ingin mengantung lehermu sendiri. Lihat saja...!" Saudara termuda dari Giam-lo Sam-kui tertawa mengejek.
Benar juga. Pertempuran selanjutnya ketiga Iblis Neraka itu selalu berusaha untuk mempengaruhi jalannya ujung selendang Kwa Yung Ling. Mereka membu¬at gerakan agar selendang itu selalu ber-balik menyerang kepada tuannya. Dan hal itu tidak sulit mereka lakukan kare¬na kepandaian mereka memang jauh le¬bih tinggi daripada Kwa Yung Ling.
Beberapa jurus kemudian wanita can¬tik itu benar-benar dalam kesulitan. Be¬berapa kali ia ingin membuang selendang¬nya, tapi Giam-lo Sam-kui selalu men¬cegahnya. Selendang itu selalu berbalik kembali ke dalam genggamannya. Akhir¬nya dalam keputusasaannya Kwa Yung Ling nekat untuk mengadu jiwa. Ia tidak lagi mempedulikan keselamatannya. Se¬lendang itu diputar di atas kepalanya, kemudian ia hentakan dalam jurus yang tak terduga.
Giam-lo Sam-kui memang terkejut bukan main. Dalam gerakan ilmu silat Tai-bong-pai, tidak ada jurus memutar senjata sambil menghentak seperti itu. Gerakan itu justru sangat membahaya¬kan keselamatan sendiri, karena di dalam ajaran tenaga dalam Tai-bong-pai, gerak¬an tersebut justru akan memecah himpunan tenaga sakti di dalam tubuh, ke¬mudian menutup seluruh jalan darah yang ada. Menggunakan gerakan seperti itu sama saja dengan bunuh diri.
Tapi justru itu memang sengaja diciptakan oleh Tai-bong Kui-bo, yang ke¬mudian diajarkan kepada Kwa Yung Ling, untuk sewaktu-waktu dipergunakan bila tidak ada jalan lain lagi.


Jilid 15                                                                                                                          


Rabu, 09 Mei 2018

PENDEKAR PEDANG PELANGI 15


Jilid 15
Soat Ban Ong menatap mata A Liong beberapa saat lamanya, ke¬mudian, menghela napas panjang berkali-kali.
"Kelihatannya laut di sini biasa-biasa saja. Tidak berbahaya. Bahkan berkesan sangat tenang. Tapi pada waktu-waktu tertentu air laut ini akan berubah men¬jadi ganas darn mengerikan . Jangankan hanya sampan kecil seperti ini, perahu dagang yang sangat besar pun tidak akan berani melewati tempat ini. Itulah se¬babnya daerah ini sangat sepi dan tak pernah dilalui orang."
"Tapi Locianpwe berdua berani juga sampai di sini, walaupun hanya dengan sampan kecil."
Soat Ban Ong tertawa. "Ya, karena selama setengah abad kami berdiam di sini, kami telah mengenal betul semua lika-liku dan rahasianya. Sehingga kami bisa memilih dan menghindari bahaya-bahaya yang ada. Nah, kau lihat tempat yang kini sedang dilalui oleh Kakek Bok Kek Ong itu? Tempat itu justru tempat yang paling aman dibandingkan dengan tempat-tempat yang lain. Tempat itu me¬rupakan titik pertemuan antara arus laut dari arah barat dan arus laut dari arah selatan. Karena tempat itu adalah tem¬pat bertemunya dua buah arus laut, ma¬ka di sekelilingnya banyak terbentuk pu-saran-pusaran maut yang berbahaya. Ka¬mi pernah menghitung, kira-kira ada se¬belas pusaran besar dan kecil di tempat itu. Semua pusaran itu dapat menghisap dan menelan perahu sebesar apa pun."
"Menghisap dan menelannya?"
"Ya, pusaran itu berputar pada poros¬nya. Semakin mendekati porosnya, putar¬annya semakin cepat dan kuat. Dan pa¬da porosnya itu terdapat lubang menga¬nga, yang siap menelan semua mangsa-nya."
A Liong mengerutkan dahinya dengan perasaan ngeri. Pikirannya \ segera membayangkan dasar laut yang gelap dan dalam di mana pusat dari pusaran itu berada. Di sana tentu banyak barang-barang atau makhluk-makhluk yang per¬nah ditelan oleh pusaran itu.
"Ah!" A Liong berdesah pendek. "Tapi mengapa kita tidak menghindar saja se¬jauh-jauhnya, keluar dari aliran arus ini?"
"Waduh, tidak semudah itu melaku¬kannya. Keluar dari arus ini berarti kita harus bertempur dengan rombongan ikan hiu dan ikan cucut yang haus darah. Ki¬ta tidak dapat melawan mereka dengan sampan sekeejj ini. Lubang mulut mere¬ka mampu mencaplok dan menelan sam¬pan ini berikut isinya."
"Lalu... kenapa Locianpwe tidak ber¬usaha membuat perahu yang lebih besar agar bisa keluar dari tempat ini?"
"Hai, bagaimana kami bisa membuat perahu besar kalau di pulau itu hanya ada tumbuhan jamur dan lumut? Coba kaulihat sampanku ini! Sampan ini hanya terbuat dari tulang rusuk ikan hiu. Ra-tusan batang tulang rusuk ikan hiu kami susun dan kami rekatkan dengan getah jamur. Kau tahu, berapa tahun kami harus menyelesaikan pembuatan sampan ini? Lima belas tahun!
A Liong terbelalak. Otomatis tangan¬nya meraba pinggiran sampan itu. Me¬mang benar, sampan itu terbuat dari ja¬jaran tulang rusuk ikan hiu. Kotoran dan lumut tebal yang tumbuh di sela-selanya telah menyembunyikan bentuk aslinya.
"Bukan main...." A Liong membatin.
Bok Kek Ong telah berhasil melewati daerah berbahaya itu. Kini giliran sam¬pan Kakek Soat Ban Ong yang harus me¬lewati daerah tersebut. *, Hati A Liong menjadi tega cangan air di bawah sampan m lai terasa. Semakin lama semakin kuat Bahkan hantaman ombak datang dari se¬gala jurusan. Kadang kala dari depan, kemudian dari belakang, dan di lain saat dari samping. Akibatnya Soat Ban Ong menjadi sulit mengendalikan arahnya. Namun demikian kakek itu tetap ber¬usaha mengarahkan sampannya ke tempat pertemuan dua arus itu.
A Liong merasa ngeri menyaksikan deburan air yang semakin lama semakin menggila. Semburan air yang melonjak ke atas membasahi udara di sekitarnya, membuat tempat itu bagaikan tertutup oleh kabut tebal. Bagi yang belum tahu, tempat itu tentu akan dihindari dan di¬jauhi. Padahal justru tempat itulah dae¬rah yang paling aman untuk menyeberang Di luar daerah itu merupakan daerah berbahaya yang menyimpan seribu jebak¬an mengerikan.
Rasa takut justru membuat A Liong tidak bisa memejamkan matanya. Begitu menembus kabut air itu ia merasakan goncangan-goncangan yang keras pada sampannya. Tubuhnya yang terguyur sem¬buran air itu merasakan adanya hawa panas dan dingin di sekitarnya. Remang-remang A Liong melihat jilatan-jilatan lidah ombak menggapai ke udara. Sepin¬tas lalu bagaikan jin dan setan yang ber¬loncatan gembira dalam semburan kabut tebal.
Kakek Soat Ban Ong mati-matian mengendalikan sampannya. Namun demi¬kian ia selalu berseru memperingatkan A Liong agar berpegangan dengan kuat. Sekali terpental dari sampan dan jatuh ke dalam air, berarti jiwa A Liong tak bisa tertolong lagi.
Meskipun tak bisa melihat dengan je¬las, tapi A Liong benar-benar kagum menyaksikan kehebatan Kakek Soat da¬lam mengemudikan sampannya. Berkali-kali kakek itu harus melompat, berjum-palitan, dan menjepit sampannya, untuk tetap menjaga agar sampan itu tidak terbalik.
"A Liong, pejamkan matamu! Jangan melihat apa-apa! Rasa ngeri-akan mem¬buatmu mual dan pusing! Berpeganglah kuat-kuat pada pinggir perahu.
Tapi mana bisa A Liong memejam¬kan matanya? Semakin dahsyat gempur¬an air laut menggoncang sampannya, jus¬tru semakin lebar pula pemuda itu mem¬buka matanya. Rasa takut dan ngeri ma¬lah membuat pemuda itu semakin waspa¬da. Matanya justru jelalatan ke sana ke mari, berjaga-jaga bila ada sesuatu yang membahayakan dirinya.
Semburan air yang tinggi, ditingkah oleh gemuruhnya suara air da angin, membuat suasana di tempat itu benar-benar menakutkan! Namun justru di tem¬pat itulah A Liong melihat betapa he-batnya kepandaian Kakek Soat Ban Ong. Kakek tua yang bertubuh gemuk pendek itu bergerak lincah melebihi kemampuan anak muda. Untuk mengendalikan sampan agar tidak bergeser dari tujuannya; serta menjaga agar sampan itu tidak terbalik. Kakek itu benar-benar mengeluarkan se-gala kesaktiannya. Sampan kecil yang ditumpangi A Liong itu bagaikan sebuah barang mainan saja baginya. Kadang-ka-, dang sampan itu dijepit dengan kedua kakinya dan dibawa melenting ke atas seperti meninjing keranjang sampah atau suatu saat dayung kecilnya yang terbuat dari tulang itu menghantam lidah ombak yang hendak menggempur sampan¬nya. Dan A Liong sampai melongo me¬nyaksikan ombak itu meledak berhambur¬an seperti menerjang batu karang!
"Siapa sebenarnya kakek ini? Rasa¬nya aku belum pernah mendengar nama¬nya di Dunia Persilatan...."
Mungkin ada sepeminuman teh lama¬nya mereka harus bertarung dengan tem¬pat berbahaya itu. Begitu terlepas dari tempat itu Kakek Soat masih harus me¬ngendalikan sampannya agar tetap bera-da pada jalur arus laut yang membawa¬nya. Sedikit saja melenceng, maka ke¬mungkinan hidup akan sangat kecil. Ka¬lau tidak ditelan oleh pusaran air, mere¬ka tentu akan dikeroyok dan diperebut¬kan oleh kawanan ikan buas.
A Liong mendengar bermacam-macam gaung suara angin di sekitarnya. Ada yang bernada rendah, tapi juga ada yang bernada tinggi. Suara itu seperti suara-suara gasing di lomba permainan anak-anak.
"Suara apa itu, Locianpwe?"
Soat Ban Ong menarik napas lega. Setelah melewati daerah berkabut itu tugasnya menjadi lebih ringan, walaupun sebenarnya bahaya-bahaya yang lain ma¬sih banyak lagi.
"Itulah suara Pusaran Air yang kuce¬ritakan tadi. Di kanan-kiri jalur perjalan¬an kita ini terdapat belasan Pusaran Air. Begitu kencangnya putaran air sehingga menimbulkan gesekan angin seperti itu."
Walaupun tidak merasa ngeri lagi, tapi wajah A Liong masih tampak pucat. Pemuda itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelas¬an kakek itu.
Kakek Bok Kek Ong yang telah me¬nunggu di depan, melambaikan tangan¬nya begitu melihat Kakek Soat Ban Ong keluar dari tabir kabut.
Kakek Soat Ban Ong membalas lam¬baian itu dan memberi isyarat untuk me¬neruskan perjalanan mereka.
"Kau lihat gugusan pulau-pulau di garis cakrawala itu? Di sanalah tempat tinggal kami...." Kakek Soat Ban Ong mengangkat jarinya ke depan. "Oooo, indah sekali...!" A Liong membelalakkan matanya. Di depan matanya terbentang sebuah pano¬rama alam yang luar biasa sekali. Per¬mukaan laut tampak berkilat-kilat kuning kemerahan. Sementara kabut yang ter-cipta dari semburan air pusaran, berte¬baran ke udara bagaikan mau menggapai langit. Ditingkah oleh cahaya mentari maka semburan kabut itu menciptakan beberapa lembar pelangi, yang berkelak-
kelok mempesonakan. Benar-benar kein¬dahan alam yang sangat mentakjubkan!
"Tempat ini memang selalu dikelilingi pelangi. Kabut tipis yang ditimbulkan oleh pusaran air itu akan membiaskan cahaya matahari dalam bentuk warna yang indah-indah."
Tiba-tiba A Liong teringat ucapan Kakek Soat Ban Ong tadi malam, pada saat kakek itu melihat dia untuk perta¬ma kali.
"Locianpwe... kalau tidak salah tadi malam Locianpwe mengatakan bahwa aku datang dari Pondok Pelangi. Apa yang Locianpwe maksudkan? Apakah ada Pon¬dok Pelangi di sekitar tempat ini? Di mana tempatnya?"
Sungguh mengherankan. Mendengar pertanyaan A Liong tentang Pondok Pe¬langi, wajah Kakek Soat Ban Ong tam¬pak kaget. Tapi cuma sebentar, karena di lain saat orang tua itu telah tertawa kembali.
"Yah... jauh di sebelah utara sana memang ada sebuah gugusan pulau lagi. Namanya Kepulauan Pelangi, karena se-
tiap hari tempat itu juga diselimuti pe¬langi. Berbeda dengan tempat tinggal ka¬mi, tempat itu sangat subur dan menye¬nangkan untuk tempat tinggal. Maka ti¬dak mengherankan bila pulau-pulau itu telah dihuni orang sejak ribuan tahun la¬lu. Mereka hanya terdiri dari tiga buah keluarga besar, yaitu Keluarga Soat, Souw, dan Bok. Karena tempat itu ter¬pencil dan tidak bisa didatangi orang, maka mereka mendirikan kekuasaan sen¬diri, terlepas dari daratan Tiongkok. Me¬reka menyebut negeri mereka Kerajaan Pelangi. Mereka mendirikan sebuah ista¬na sederhana yang disebut Pondok Pela-ngi. Dan yang paling menonjol dari me¬reka adalah ilmu silat khusus yang hanya bisa dipelajari oleh masyarakat mereka sendiri...."
A Liong mengerutkan keningnya dan kakek itu tertawa melihatnya.
"Kau tak percaya?"
A Liong tersenyum kecut. Ia memang tidak mempercayainya. Bagaimana mung¬kin sebuah ilmu silat hanya bisa dipela¬jari oleh masyarakat tertentu? Apakah ilmu silat itu menuntut sesuatu yang khusus dari orang yang ingin mempela¬jarinya? Misalnya orang itu harus mem¬punyai empat tangan atau empat kaki?
Kakek Soat Ban Ong duduk di ping¬giran sampan. Mereka telah melewati daerah berbahaya, dan kini tinggal me¬ngikuti arus saja. A Liong merasa lega. Sambil lalu pemuda itu ikut-ikutan duduk di tepi sampan.
"Aaaaaaah...!"
A Liong menjerit. Sampan itu bergo¬yang miring begitu menerima beban tu¬buhnya. Untunglah Kakek Soat Ban Ong cepat menyambar lengannya.
"Lalala, kenapa kau ini? Mau bunuh diri, ya? Enak saja duduk di pinggiran sampan. Kaukira tubuhmu itu enteng? Tubuh gembrot segede gajah begitu mau main goyang-goyangan, lalalalaaaa."
"Tapi... tapi... Locianpwe sendiri juga duduk di pinggiran sampan. Padahal Lo¬cianpwe... malah lebih gemuk dari pada saya." Dalam kegugupannya A Liong mencoba membela diri.
Tak terduga orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh. Begitu geli hatinya se¬hingga matanya yang sipit itu sampai mengeluarkan air mata. Selesai tertawa tiba-tiba orang tua itu melemparkan da-yungnya ke laut, lalu tubuhnya yang ge¬muk pendek itu melesat mengejarnya.
Dayung kecil dari tulang ikan yang panjangnya hanya satu lengan orang de¬wasa itu jatuh di atas permukaan air. Dan sebelum benda itu hanyut dibawa gelombang, kaki kanan Soat Ban Ong le¬bih dulu mendarat di atasnya. Selanjut¬nya bagaikan seorang pemain sulap kakek itu berayun-ayun di atas dayung kecil tersebut. Sungguh sangat mengherankan sekali, dayung kecil itu sama sekali ti¬dak amblas atau terbenam karenanya.
Tentu saja pertunjukan ilmu meri¬ngankan tubuh yang nyaris sempurna itu benar-benar mengagumkan hati A Liong.
"Wah, seharusnya aku sudah tahu se¬jak tadi kalau orang tua ini memiliki ke¬saktian yang hebat."
Selesai mempertunjukkan kebolehan¬nya Kakek Soat Ban Ong kembali melon¬cat ke dalam sampan. Tak lupa dayung kecilnya itu dibawa pula. Dengan mengu¬lum senyum ia mengawasi A Liong.
"Nah, sebelum kau bisa berdiri di atas dayung ini... tak mungkin kau dapat du¬duk di pinggiran sampanku. Lalalaaaaa..."
"Wah, mana mungkin bisa...." A Liong menyahut dengan cepat.
"He, kenapa tidak bisa? Asal mau be¬lajar setiap orang pasti bisa."
A Liong tak menjawab. Sebenarnya ingin sekali dia belajar Ilmu Meringankan Tubuh seperti orang tua itu, karena dia juga ingin bisa bergerak lincah seperti halnya Siau In. Tapi bagaimana caranya? Sebagai orang yang baru saja kenal, tak mungkin kakek itu mau mengajarinya.
"Tapi Locianpwe tadi mengatakan bahwa ilmu silat dari Kerajaan Pelangi tidak bisa dipelajari oleh sembarang orang." A Liong menjawab sekenanya.
Tak terduga wajah Soat Ban Ong berubah hebat mendengar jawaban terse¬but. Matanya yang sipit berkilat-kilat memandang A Liong.
"Kau bilang apa? Kau tahu ilmu si¬latku dari... dari Pondok Pelangi?"
A Liong menjadi kaget juga. Sebenar¬nya dia cuma bicara sembarangan, kare¬na otaknya yang cerdas hanya menerka-nerka saja tentang siapa kakek itu.
"Maaf, Locianpwe. Aku hanya mendu¬ga-duga saja dari cerita Locianpwe tadi. Locianpwe mengatakan bahwa Pondok Pelangi hanya dihuni oleh keluarga Soat, Souw dan Bok. Sementara Locianpwe ber¬dua dari keluarga Soat dan Bok...."
Kakek Soat Ban Ong termangu seben¬tar, tapi sesaat kemudian tawanya me¬ledak lagi.
"Bukan main! Kau sangat cerdas dan teliti sekali, lalalala."
Wajah A Liong menjadi merah oleh pujian itu. Dan kakek itu semakin senang melihatnya.
"Sudahlah! Kita sudah sampai. Lihat ...! Pulau itu tak memiliki apa-apa, bukan?"
A Liong mengangkat mukanya. Benar, pulau itu telah berada di depan mata¬nya. Sebuah gugusan pulau berpasir putih, dengan batu-batu karang berwarna putih pula, membuat pulau itu bagaikan lembaran kapas yang terapung di atas air.
Demikianlah, akhirnya mereka sampai juga di tempat Kakek Soat Ban Ong. A Liong melihat Kakek Bok Kek Ong sudah mendaratkan sampannya di atas pasir. Bahkan kakek itu telah menyeretnya jauh ke daratan. Tampaknya kakek itu tak ingin sampannya yang sangat berharga itu ter¬seret kembali ke tengah lautan.
Selesai menyimpan sampannya, Kakek Bok Kek Ong segera menyelinap pergi tanpa menunggu kedatangan mereka. Na¬mun Kakek Soat Ban Ong juga tidak pe¬duli. Setelah mengikat sampannya di tempat aman, Kakek Soat Ban Ong sege¬ra menggandeng lengan A Liong.
"Nah, A Liong... marilah kita pergi ke rumahku dulu. Setelah menyiapkan makan kita bisa bercerita lagi. Ayoh...!"
Mereka berjalan ke tengah pulau, mengikuti jejak Bok Kek Ong yang telah berjalan lebih dulu. Di sepanjang jalan A Liong tidak henti-hentinya mengagumi panorama di atas pulau itu. Walaupun tidak ada tumbuh-tumbuhan besar, namun bebatuan yang ditumbuhi lumut dan ja-
mur itu mampu menampilkan pemandang¬an tersendiri.
Di bawah pantulan cahaya matahari, batu-batu karang yang menonjol di sana-sini itu seperti memercikan sinar warna-warni. Merah, biru, kuning, hijau. Sung¬guh indah sekali. Apalagi lumut dan ja¬mur yang tumbuh di atasnya juga memi¬liki warna yang bermacam-macam. Dari jauh tumbuh-tumbuhan kecil itu seperti rangkaian bunga yang mekar bersama-sama.
"Ah, suasananya benar-benar seperti di taman istana saja!" Tak terasa lidah A Liong berdecak kagum.
Kakek Soat Ban Ong mengajak A Liong ke suatu tempat di mana terda¬pat rimba batu karang yang menjulang tinggi ke udara. Seperti halnya bebatuan di tepi pantai tadi, maka batu karang raksasa yang ada di tempat itu juga memiliki warna yang beraneka macam. Berkilat-kilat gemerlapan seperti batu permata.
Kakek Soat Ban Ong memasuki sebu¬ah gua kecil. Di dalamnya tampak tertata rapi. Ada bermacam-macam peralat¬an di pojok gua itu. Ada peralatan ma¬sak, peralatan memancing dan sebagai-nya.
"Locianpwe tinggal di gua ini?"
Kakek Soat Ban, Ong mengangguk. "Memangnya ada apa?"
A Liong tidak menjawab. Dia justru keluar dan melongok ke luar gua. "Sejak tadi aku tidak melihat Bok Kek Ong Lo¬cianpwe. Ke manakah dia?"
' alala aa.. tentu saja dia berada di rumahnya sendiri. Eh, apakah kau ingin berkunjung ke sana, A Liong?"
"Oh? Jadi Locianpwe tidak tinggal bersama?"
"Wah, gawat! Jelek-jelek kami ber¬dua ini lelaki semua. Masa kami harus tinggal bersama seperti suami isteri, heh? Kau pikir salah satu dari kami ini banci?"
A Liong cepat merangkapkan tangan di depan dada. "Maaf, Locianpwe Bukan... bukan begitu maksudku. Locian- . pwe berdua tidak memiliki sanak sauda¬ra lagi. Bukankah lebih baik hidup berde-
katan... agar dapat saling tolong-meno¬long satu sama lain?"
"Wah, siapa bilang kami tidak mem¬punyai sanak saudara lagi? Kau salah! Keluarga kami sangat banyak. Cuma kami tak bisa bertemu dengan mereka, kare¬na semuanya berada di Kepulauan Pela-ngi." Kakek Soat Ban Ong menyela de¬ngan suara tinggi.
"Sangat banyak?" A Liong berdesah kaget. "Tapi... mengapa tak bisa ke sa¬na? Bukankah Locainpwe dapat naik sampan?"
Kakek Soat Ban Ong menatap A Liong dengan tajamnya. Mata itu seper¬ti hendak berbicara banyak, tapi tak ja¬di. Kakek itu membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam gua. Wajah yang biasanya tampak gembira itu tertun¬duk lesu.
A Liong bergegas mengikutinya. Tapi kini pemuda itu tak berani berkata sem-barangan lagi. Dia segera duduk pula ketika kakek itu merebahkan tubuhnya di atas batu datar, yang selama ini di-pergunakan sebagai tempat tidur.
"Kau ingin tahu mengapa kami tidak dapat kembali ke Kepulauan Pelangi? Baiklah, aku akan bercerita. Tapi sebe¬lumnya aku ingin tahu juga tentang kau. Kau belum berkata sepatah pun tentang dirimu sendiri...” Akhirnya Kakek Soat Ban Ong berkata pelan.
A Liong tersenyum kecut. Setiap kali ditanya tentang dirinya atau riwayat hidupnya, pemuda itu selalu bingung dan salah tingkah. Riwayat hidupnya yang kurang manis itu membuatnya tidak enak setiap kali harus diceritakan.
"Tak ada yang bisa diceritakan, Lo-cianpwe. Siaute (aku yang hina ini) ha¬nyalah anak keturunan pengemis gelan¬dangan yang hidup dari mengais-ngais sisa makanan di jalanan. Siaute tidak tahu siapa orang tuaku, karena sejak ke¬cil siau-te berada dalam lingkungan ke¬lompok pengemis yang selalu berjalan dan berpindah-pindah dari kota ke kota."
Soat Ban Ong tersentak kaget. Mata¬nya memandang wajah A Liong hampir tak percaya. Masa anak gelandangan yang hidup menjadi pengemis bisa memiliki tubuh kekar, kuat dan sehat se¬perti itu?
"Kalau begitu... apa nama keluarga¬mu?" kakek sakti itu bertanya ragu.
A Liong cepat menggelengkan kepa¬lanya. "Jangankan nama keluarga, nama sendiri pun siau-te tak punya. Nama A Liong hanyalah sebutan yang diberikan oleh kawan-kawan, karena ada gambar tatto naga di dada siau-te."
Jawaban itu benar-benar mencengang¬kan Soat Ban Ong. Orang tua itu sama sekali tak menduga kalau A Liong mem¬punyai riwayat hidup yang runyam seper¬ti itu.
"Lalu... bagaimana kau bisa tercebur ke laut dan terseret ombak sampai ke Laut Utara? Apakah kau sudah bosan hi¬dup dan berniat bunuh diri?"
A Liong tersenyum. "Ah, Locianpwe ini ada-ada saja. Bagi siau-te hidup ini terasa nikmat dan menyenangkan. Bagai¬mana mungkin siau-te berniat untuk me¬ninggalkannya?"
"Kalau begitu... yah, sudahlah! Cerita¬kan saja semua riwayatmu! Tentu saja sejauh yang kauingat!"
A Liong menurut. Dibeberkannya se¬mua pengalaman dan riwayat hidupnya, seperti yang pernah dia ceritakan pula kepada Siau In. Lalu diceritakannya juga perjalanannya ke rumah Tabib Tong Kiat Teng bersama gadis itu. Hanya dalam hal terseretnya dia ke Laut Utara, dia benar-benar tak tahu. Selain malam sa¬ngat gelap, suasana di laut pun sangat asing baginya, sehingga ia benar-benar tidak tahu bagaimana dia sampai di Laut Utara.
Soat Ban Ong benar-benar terkesan pada penuturan A Liong. Terutama keti¬ka A Liong menceritakan tragedi pem¬bantaian di tepi pantai itu. Walaupun pa¬da saat itu A Liong dalam keadaan ping¬san, tapi Siau In telah menceritakan se¬muanya, sehingga A Liong bisa menutur¬kannya dengan lancar. Sebuah pertem¬puran yang amat dahsyat, yang melibat¬kan tokoh-tokoh kenamaan dari Beng-kau, lm-yang-kau, dan orang-orang Hun.
Kakek Soat Ban Ong sama sekali ti¬dak mengenal tokoh-tokoh dalam cerita
itu. Tapi cerita tentang kedahsyatan ilmu mereka benar-benar menggelitik hatinya. Sebagai orang yang sangat menyukai il¬mu silat, maka kaki dan tangannya men¬jadi gatal untuk menjajal ilmu kepandai¬an tokoh-tokoh dalam cerita itu.
"Kau bilang Orang Hun itu bisa ber¬gerak... seperti ini?" Orang tua itu ber¬seru penasaran.
Telapak tangan Soat Ban Ong tiba-tiba menepuk batu di bawahnya. Plaak! Kontan tubuhnya yang gemuk itu mence¬lat ke atas bagaikan seekor belalang yang menyentakkan kaki belakangnya. Gerakannya cepat bukan main, sehingga mata A Liong sama sekali tak bisa mengikutinya. Tahu-tahu kakek sakti itu-sudah melekat di atas langit-langit gua, seperti seekor cecak yang sedang menan¬ti mangsa.
Mulut A Liong ternganga menyaksi¬kan kecepatan gerak orang tua itu. Na¬mun demikian A Liong tak bisa memban¬dingkan, mana yang lebih cepat dan le¬bih tangkas antara Mo Hou dan Soat Ban Ong. Seperti telah diketahui pada saat pertempuran itu berlangsung /\ Liong dalam keadaan pingsan. Tapi yang jelas bagi A Liong kakek yang berada di depannya itu memang benar-benar he¬bat. Gerakan kakek itu sama sekali tak bisa diikuti dengan matanya. Bahkan ka¬kek itu juga mampu menempelkan tubuh¬nya di langit-langit gua. Tubuh yang ge¬muk itu melekat seperti cecak.
"Maaf, Locianpwe... siau-te tak bisa menilai. Pengetahuan siau-te tentang il¬mu meringankan tubuh sama sekali tidak ada”jawab Aliong sambil tersenyum malu.
Sesaat Ban Ong tertwa, lalukembali ke depan Aliog, ia tidak mendesak lebih lanjut, karena dari sinar mata A Liong saja dia bisa menduga apa yang ada di dalam pikiran pemuda itu.
"Jangan khawatir. Kami berdua sudah sepakat untuk mengajarkannya kepadamu. Meskipun kau tidak akan dapat mendala¬mi rahasia ilmu Pondok Pelangi secara tuntas, tapi paling tidak kau dapat me¬ngenal dan mainkan jurus-jurusnya. De¬ngan cara begitu tubuhmu akan selalu sehat dan cekatan, sehingga kau bisabertahan seperti kami nanti."
"Apa...? Mengapa harus tinggal di si¬ni? Apakah Locianpwe berdua hendak me¬nyandera aku?" A Liong menjerit keta¬kutan.
Kakek Soat Ban Ong tertawa. "Lala-la, tenang A Liong... tenang! Jangan menjerit-jerit begitu! Aku tidak bermak¬sud apa-apa. Aku tidak bermaksud me¬nyandera kamu. Apa gunanya? Tanpa ka¬mi sandera pun kau tak mungkin bisa keluar dari kawasan ini. “Kau lihat kami berdua, aku dan kakek Bok Kek Ong itu apakah kami berdua tak ingin keluar dari pulau ini dan kembali ke Pon dok Pelangi? Telah enam puluhan tahun kami berada di sini dan entah sudah be¬rapa ribu kali kami mencobanya. Tapi hasilnya? Padahal ilmu yang kami pelajari rasa-rasanya juga sudah cukup untuk mo¬dal menghadapi segala macam kesulitan. Nah...!" Ucapnya kemudian dengan suara renyah. Sama sekali tak ada kesan sedih ataupun kesal di wajahnya.
A Liong lah yang kemudian tertunduk sedih. Apa yang dikatakan orang tua itu tentu saja benar. Mereka tentu sudah kembali ke keluarganya kalau memang mampu. Mengapa harus susah-susah hidup sendirian di tempat terpencil seperti ini?
Ingat akan hal itu A Liong menjadi sedih sekali. Tak terasa satu persatu wajah kawan-kawannya berkelebat di pe¬lupuk matanya. Mereka hidup susah dan selalu dalam kesulitan, namun mereka selalu bergembira. Selalu berbagi rasa dan berbagi rejeki bersama-sama. Bahkan setelah ia memisahkan diri, karena ingin bekerja dan mendapatkan uang sendiri, ia selalu menyempatkan diri menjumpai kawan-kawannya itu. Dengan gaji yang diperolehnya, ia sering mentraktir atau membeli makanan untuk berpesta bersa¬ma.
Kawan-kawannya itu tentu akan me¬rasa kehilangan apabila lama dia tidak muncul. Pernah terjadi, gerombolannya itu berjalan berkeliling ribuan Lie jauh¬nya di daerah Tiong-goan, dari kota yang satu ke kota yang lain, hanya untuk men cari dirinya. Waktu itu secara diam-diam
ia pergi ke utara, keluar dari Tembok Besar untuk mencari pengalaman.
"Sudahlah, A Liong. Kau tidak per¬lu bersedih. Kau tidak boleh berputus asa. Setiap orang memiliki keberuntung¬annya sendiri-sendiri. Kami berdua me¬mang tidak mampu keluar dari tempat ini, tapi siapa tahu Thian entakdirkan lain buatmu? Nah, kalau memang nasib¬mu baik dan memperoleh jalan keluar dari tempat ini, kau harus tetap memiliki badan dan semangat yang sehat. Jangan menjadi manusia yang loyo dan sinting. Tidak akan ada gunanya lagi kalau waktu keberuntungan itu datang, engkau telah berubah menjadi sinting dan loyo. Benar tidak?"
Nasihat sederhana itu ternyata sangat mengena di hati A Liong. Ya, siapa ta¬hu? Selama ini ia selalu memiliki sema¬ngat yang tinggi. Segala macam kesulitan dan kesengsaraan selalu diterimanya de-ngan penuh tawakal dan lapang dada. Dia tak pernah mengeluh ataupun menyesali nasibnya. Sebaliknya dia malah selalu 'pemberi semangat dan membesarkan hati teman-temannya. Nah, kalau begitu mengapa sekarang dia harus bersedih?
Tidak seorang pun tahu, apa yang i akan terjadi besok atau lusa. Manusia : hanya wajib berusaha dan berikhtiar. Yah, siapa tahu nasibnya memang lain dari¬pada kedua orang tua itu?
"Terima kasih, Locianpwe. Siau-te benar-benar beruntung bisa menjadi mu¬ridmu. Siau-te berjanji akan belajar de¬ngan sepenuh hati. Mudah-mudahan siau-te mampu menerimanya sehingga tidak mengecewakan Locianpwe berdua."
A Liong segera berlutut di depan Ka¬kek Soat Ban Ong.
"Bagus! Bagus! Aku tahu kau anak yang baik. Lalalala...."
Orang tua itu merangkapkan kedua J tangannya sambil menengadahkan kepala¬nya ke atas, ke langit-langit gua. Sepa- i sang matanya tampak berkaca-kaca.
Demikianlah pada hari berikutnya A Liong sudah mulai belajar ilmu silat dari Kakek Soat Ban Ong. Karena A Liong pada dasarnya memang belum pernah belajar silat, maka Soat Ban Ong juga memulainya dari awal.
"Hari ini kau berlatih menggerak-gerakkan kaki tanganmu dulu, agar urat-uratmu menjadi lemas dan mapan. Cobalah dengan berlari mengelilingi pulau ini!"
"Baik, Locianpwe."
"Lalala, bagaimana kau ini? Panggil aku Suhu, dong!"
A Liong tertegun sebentar, namun segera menyadarinya. Bergegas ia mene¬kuk lututnya.
"Baik, Suhu." Ia memberi ho|rnat de¬ngan bersemangat. "Murid akan segera berlari mengelilingi pulau ini."
"Bagus! Nah, mulailah!"
A Liong mengangguk, kemudian ber¬gegas ke pantai. Dengan bersemangat ia lalu berlari di atas pasir. Karena sejak kecil dia sudah terbiasa melakukan cara-cara pernapasan yang diajarkan oleh orang tua tak dikenal itu, maka sekarang pun secara otomatis dia juga melakukan¬nya pula.
Dengan hembusan dan tarikan napas yang teratur A Liong berlari perlahan.
Kadang-kadang juga di dalam air yang dangkal. Karena pulau itu memang kecil dan berpantai pasir landai, maka A Liong tidak menemui kesulitan untuk mengeli¬linginya. Bahkan sambil berlari dia sem¬pat melihat-lihat panorama indah di se¬kitar pulau tersebut.
Memang benar . apa yang dikatakan oleh gurunya kemarin, bahwa gugusan pulau itu terdiri- dari beberapa buah pu¬lau kecil-kecil. Malah antara pulau yang satu dengan pulau yang lain hampir me-lekat satu sama lain. Masing-masing ha¬nya dibatasi oleh air setinggi lutut saja.
"Kelihatannya Suhu Bok Kek Ong ti¬dak tinggal di pulau ini, tapi di pulau se¬berang itu."
Sementara itu Soat Ban Ong meng¬ambil beberapa macam jamur yang seca¬ra khusus ditanamnya di pulau itu. Dia ingin menyiapkan makan siang untuk A Liong nanti. Dia juga mengambil bebera¬pa ekor ikan laut yang diternakkannya di dalam kolam.
Kakek Soat Ban Ong memang pandai memasak. Ikan laut itu dioles dengan jamur yang telah dilumatkan, kemudian diberi bumbu dan dibakar di atas api. Beberapa waktu kemudian asapnya yang berbau gurih itu telah berhembus ke ma¬na-mana, memenuhi udara di atas pulau kecil itu.
"Hei kura-kura gemuk! Kau mau ber¬pesta, ya?" Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja Kakek Bok Kek Ong telah berdiri di dekat Soat Ban Ong.
"Lalalala, apa kataku? Mudah sekali untuk memanggilmu. Buat saja masakan yang enak, -tanegung mukamu yang ru¬sak itu akan segera muncul." Soat Ban Ong tertawa meledek.
Tapi Bok Kek Ong tidak mempeduli-kan ejekan itu. Bahkan tanpa berbasa-basi lagi dia memungut ikan yang telah masak dan mencicipinya. Liurnya sampai menetes saking nikmatnya ia merasakan ikan laut bakar itu.
"Bukan main...! Enak sekali! Cek...
oolc«a« cek.!
"Wah! Wah! Masakan ini bukan untuk kita, Cacing Kurus! Ini untuk murid kita!
Apakah kau tak melihat dia sedang ber¬lari melemaskan otot-ototnya mengeli¬lingi pulau ini? Huh, kau ini!"
Tiba-tiba Bok Kek Ong menengadah¬kan wajahnya. Mulutnya berhenti mengu¬nyah.
' "Jadi... dia setuju menjadi murid ki¬ta?" katanya kemudian seperti tak per¬caya.
Soat Ban Ong mengangguk. Bibirnya yang tertutup kumis dan jenggot lebat berwarna hitam legam itu tersenyum.
"Tapi kau tak memaksanya, bukan?" Bok Kek Ong menegaskan lagi.
"Tentu saja tidak. Kau ini ada-ada saja. Memangnya mudah mempelajari il¬mu silat dari Pondok Pelangi? Apalagi tanpa keinginan dan semangat yang ting¬gi dari orang itu sendiri? Memaksa orang untuk belajar ilmu silat Pondok Pelangi, sama saja memaksa orang menjadi gila!"
Bok Kek Ong tertawa dan kembali mengunyah makanannya. "Wah, aku juga cuma bertanya saja, kok! Siapa tahu ka¬rena sulitnya mencari ahli waris, engkau lantas jual murah ilmu silat kita? Apa-
lagi selama ini juga baru sekali ini ada orang yang mampu keluar dari pusaran iblis itu. Dan kebetulan pula orang itu adalah seorang bocah yang bertulang amat bagus."
Soat Ban Ong ikut tertawa pula. sambil mengangkat pundak dia berkata santai. "Yah, kita memang orang yang beruntung. Karena selalu sabar dan ta¬wakal, jerih payah kita selama ini akhir¬nya membuahkan hasil pula. Memang un¬tuk mendapatkan ikan besar, diperlukan umpan yang sepadan pula. Bukankah be¬gitu Lo Kek Ong (Si Tua Kek Ong)?" Bok Kek Ong tidak menjawab.
bakar yang telah masak itu, ditaruhnya di dalam mangkuk batu, lalu dibawanya ke pantai. Bok Kek Ong bangkit pula. Seperti seekor kucing ia mengikuti dari belakang.
'JA Liong...! A Liong...!11 Soat Ban Ong berseru.
Sampai di atas hamparan pasir tiba-tiba Soat Ban Ong tertegun. Matanya terbelalak mengawasi bekas-bekas sepa¬tu di atas pasir tersebut. Hampir saja mangkuk batu yang dibawanya itu terle¬pas.
Bok Kek Ong cepat menghampiri. dia tersenyum, suatu hal yang tidak per¬nah dilakukannya selama ini. Biasanya setiap kali berhadapan dengan Soat Ban Ong, mereka tentu bertengkar dan ber¬debat. Bahkan kadang-kadang sampai berkelahi pula. Kelihatannya kedatangan A Liong tersebut telah mengubah pera¬ngainya.
Karena Bok Kek Ong tidak menja¬wab, maka Soat Ban Ong pun tidak am¬bil pusing pula. Diambilnya ikan-ikan
!'Ada apa, Lo Ban Ong (Si Tua Ban Ong) ...?" Ia menegur.
Soat Ban Ong menunjuk ke bekas se¬patu itu. "Banyak benar bekasnya! Bera¬pa puluh kali anak itu mengelilingi pulau ini?"
"Lhoh... memangnya kausuruh bagai¬mana dia?"
Soat Ban Ong menghela napas pan¬jang. Matanya segera melongok ke sana ke mari mencari bayangan A Liong. Dan wajahnya menjadi lega begitu melihat pemuda itu berlari mendatangi.
"A Liong berhenti dulu!" Dia berteri¬ak memanggil.
Pemuda itu berhenti di depan Soat Ban Ong. Namun serentak dilihatnya Bok Kek Ong juga ada di situ, A Liong cepat menghampiri dan berlutut di hadapannya.
Bok Kek Ong menyembunyikan pera¬saan gembiranya. Tangannya meraih pun¬dak A Liong dan ditariknya agar berdi¬ri. Mereka saling berpandangan. Tiba-tiba Bok Kek Ong tertegun menyaksikan wajah A Liong yang tampan itu sama sekali tidak berkeringat. Wajah pemuda itu masih tampak segar, seakan-akan ti¬dak pernah berlari atau melakukan sesu¬atu yang menguras tenaganya. Bahkan pernapasannya pun tetap halus dan ter- I atur. Sama sekali tidak tampak lelah I atau tersengal-sengal.
Ternyata Soat Ban Ong menjadi heran melihat kenyataan tersebut. Melihat be- " kas sepatu yang ada di atas pasir, bisa dikira-kira kalau A Liong lebih dari pu¬luhan kali melewati tempat itu. Tapi, mengapa pemuda itu sama sekali tidak kelihatan lelah? Bahkan berkeringat pun tidak?
"Anak baik, duduklah!" Akhi nya Bok Kek Ong menyuruh A Liong untuk duduk di atas pasir.
"Benar, A Liong. Duduklah! Marilah kita kukuhkan secara resmi hubungan gu¬ru dan murid ini dengan berpesta ikan bakar...." Soat Ban Ong berkata pula.
"Lo Ban Ong...?" Bok Keng Ong ber¬desah. Ia tak tahu apa yang hendak di¬lakukan oleh Soat Ban Ong terhadap A Liong.
Soat IJan Ong memberi tanda kepada kawannya itu. "Kita berpesta dulu. Urus¬an yang lain kita bicarakan belakangan."
Demikianlah siang hari itu Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong meresmikan A Liong sebagai murid mereka. Bok Kek Ong yang lebih tua daripada Soat Ban Ong disebut Toa-suhu, sedangkan Soat Ban Ong disebut dengan Ji-suhu. Selesai melakukan upacara sederhana, mereka berpesta ikan bakar yang dimasak oleh Soat Ban Ong tadi.
"Hmmmh! Omong-omong... sudah berapa kali kau mengitari pulau ini?" Sele¬sai makan Soat Ban Ong segera berta¬nya kepada A Liong.
A Liong mengangguk. "Lima puluh kali, Suhu!"
"Lima... puluh kali?" Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong berseru hampir berba¬reng. Mata mereka terbelalak seolah tak percaya.
"Benar, Suhu. Mengapa? Apakah ma¬sih harus ditambah lagi?" A Liong ber¬tanya dengan suara tegas.
"Ah, sudah cukup!" Soat Ban Ong bu¬ru-buru menggoyangkan tangannya.
Namun diam-diam Soat Ban Ong sa¬ling pandang dengan Bok Kek Ong. Sinar mata mereka menunjukkan perasaan he¬ran, karena menurut cerita A Liong sen¬diri, pemuda itu belum pernah belajar ilmu silat. Tapi kenyataannya berlari da¬ri pagi hingga siang hari, pemuda itu masih tetap segar bugar dan tidak me-ngeluarkan keringat yang berarti. Bah¬kan pernapasannya pun tetap biasa pula, tidak tersengal-sengal.
Apakah sebenarnya yang terjadi?
Apakah A Liong telah membohongi me¬reka? Tapi, bagaimana dengan jejak-jejak sepatu di atas pasir itu? Tidak mungkin jejak itu tiba-tiba tercipta sen¬diri, seolah-olah ada sepasukan hantu yang berbaris di tempat itu.
Satu-satunya kemungkinan memang hanya pada A Liong sendiri. Mungkin pe¬muda itu memang telah menyembunyi¬kan kepandaiannya.
Akhirnya Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong sepakat menanyakannya kepada A Liong.
"A Liong... tampaknya kau pernah be¬lajar ilmu silat, ya? Kau tidak merasa lelah meskipun telah berlari sekian la¬manya. Napasmu juga tidak tersengal-sengal pula...." Soat Ban Ong bertanya perlahan.
A Liong menatap kedua orang tua itu bergantian. Alisnya berkerut. Tapi sesa¬at kemudian otaknya yang cerdas sege¬ra menangkap kecurigaan mereka. Pemu¬da itu masih ingat akan keheranan Siau In ketika tubuhnya mampu menahan pu¬kulan dayung.
"Ah, maaf... Suhu. Siau-te memang benar-benar belum pernah belajar ilmu silat. Tapi kalau yang Suhu maksudkan itu tentang cara-cara pernapasan untuk menguatkan tubuh, siau-te memang per-nah mempelajarinya. Seorang kakek aneh mengajarkan kepada siau-te ketika siau-te masih kecil."
"Cara-cara pernapasan? Dapatkah kau perlihatkan cara pernapasan itu kepada kami?" Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong berdesah hampir berbareng.
"Tentu saja, Suhu. Begini...."
A Liong lalu duduk bersila di atas pasir. Punggungnya tegak lurus sampai kepala, sementara matanya menatap ta¬jam ke arah ujung hidungnya sendiri. Ke¬dua buah telapak tangannya yang terbu¬ka terkatup rapat di depan dada. Kemu- . dian dengan sikap yang amat tenang, serta penuh keyakinan, dia melakukan cara pernapasan seperti yang telah dia¬jarkan oleh kakek aneh dulu.
Dan tak lama kemudian dari ubun-ubun A Liong mengepul asap tipis ber¬warna putih. Asap itu tidak buyar terti-
up angin. Asap itu melayang ke atas perlahan-lahan, bagaikan ular kobra yang meliuk dan menari mengikuti irama su¬ling. Dan anehnya asap itu makin lama makin pekat, bahkan warnanyapun juga berubah. Sedikit demi sedikit asap putih itu berubah menjadi merah.
Bukan main kagetnya hati Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong! Cara dan bentuk ilmu pernapasan itu mirip sekali dengan ilmu pernapasan mereka! Asap yang tim¬bul di atas kepala pun nyaris sama pula.
Perbedaannya, asap A Liong itu jauh lebih pekat dan lebih kental daripada asap milik mereka! Dan asap yang tim¬bul di atas kepala A Liong cuma ada dua macam warna saja, yaitu merah dan putih. Demikian pula dengan bentuk asap nya. Asap milik A Liong cuma bergerak naik di atas kepalanya.
Sebaliknya asap yang mereka miliki bisa -berubah-ubah dalam tujuh macam warna, sesuai dengan warna pelangi. Bentuknya pun tidak hanya mengepul di atas kepala, tetapi bisa menebar lembut menyelimuti badan.
Akan tetapi bagaimanapun juga ke¬nyataan itu telah membuka mata Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong, bahwa A Liong memiliki sebuah ilmu pernapasan yang mirip dengan ilmu pernapasan dari Pondok Pelangi. Dan kenyataan itu be¬nar-benar menggelitik hati mereka untuk menyelidikinya.
Dengan sangat hati-hati Soat Bari Ong mendekati A Liong "Baiklah, A Liong... kau...?"
Ucapan Soat Ban Ong tiba-tiba ter¬henti ketika hidungnya mencium bau amis yang amat keras! Demikian kuat¬nya bau amis itu sehingga perut mereka menjadi mual dan mau muntah!
"Bau keringat! Kenapa bau keringat A Liong seperti ini?" Bok Kek Ong ber¬seru kaget.
A Liong menghentikan latihannya. Wajahnya kelihatan bingung ketika Soat Ban Ong tiba-tiba mengulurkan tangan¬nya, dan meraba tempurung kepalanya. Bahkan Bok Kek Ong yang berdiri di be¬lakangnya pun ikut-ikutan memeriksa be¬berapa jalan darah di sepanjang tulang
belakangnya.
"Aaaaaah...!" Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong sama-sama berteriak kaget.
Keduanya saling memandang, kemudi¬an bersama-sama menganggukkan kepala mereka. Ternyata dalam waktu yang bersamaan tadi mereka telah memeriksa tubuh A Liong. Soat Ban Ong meneliti bentuk tulang kepala A Liong, sedang¬kan Bok Kek Ong memeriksa susunan urat di sekitar tulang belakang. Dan ternyata mereka berdua menemukan hal-hal yang aneh dan mustahil!
Ternyata beberapa buah urat penting di kanan-kiri tulang belakang A Liong, telah disusun secara khusus seperti hal¬nya anak keturunan penghuni Pondok Pelangi. Dan susunan tersebut telah di-bentuk sejak A Liong lahir, sehingga tempurung A Liong telah tumbuh dalam bentuk yang khusus pula.
Soat Ban Ong memegang pundak A Liong dan menatap wajah pemuda itu dengan tajamnya. Kalau semula mereka hanya berpendapat bahwa ilmu pernapas¬an A Liong sangat mirip dengan ilmu pernapasan mereka, kini mereka justru menjadi yakin bahwa ilmu yang dimiliki A Liong benar-benar ilmu dari Pondok Pelangi!
"A Liong! Katakan yang sebenarnya! Siapakah kau ini? Bukankah engkau da¬tang dari Pondok Pelangi juga?"
Perubahan sikap gurunya itu benar-benar membingungkan A Liong. Dengan wajah pucat ia memandang Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong bergantian. Sinar matanya tampak bergetar, karena tidak mengerti apa yang sebenarnya dikehen¬daki oleh gurunya.
"Lo-cian... Locianpwe! A-ada apa se¬benarnya? Bukankah siau-te... sudah me¬ngatakannya? Siau-te anak seorang pe¬ngemis, , dan siau-te... tidak tahu menahu soal Pondok Pelangi."
A Liong berkata dengan suara geme¬tar, menandakan ucapannya itu benar-benar keluar dari lubuk hatinya. Dan se¬sungguhnya, baik Soat Ban Ong maupun Bok Kek Ong dapat merasakan juga. Tapi tanda-tanda khusus yang mereka temukan pada tubuh A Liong itu tidak
mungkin salah lagi. Tanda-tanda itu per¬sis seperti milik mereka! Tanda-tanda khusus bagi keturunan warga Pondok Pelangi!
Mereka benar-benar pusing. Di suatu pihak mereka percaya akan semua penu¬turan A Liong. Tapi di pihak lain mere¬ka juga yakin bahwa anak itu tentu anak keturunan dari Warga Pondok Pelangi.
Hanya ada satu hal yang membuat mereka sedikit ragu akan kebenaran du¬gaan mereka itu, yaitu bau amis yang keluar dari badan A Liong. Penghuni Pondok Pelangi rata-rata memiliki bau harum, bau khas yang timbul bila mere¬ka menghentakkan tenaga sakti mereka.
"A Liong, ketahuilah! Kami berdua benar-benar bingung melihatmu.... Semu¬la kami memang percaya pada riwayat hidupmu. Tapi setelah menyaksikan ke¬mampuanmu dan meneliti keadaan tubuh¬mu, kepercayaan tersebut menjadi kabur lagi. Ternyata sejak lahir susunan urat darahmu telah dibentuk sesuai dengan ilmu warisan dari Pondok Pelangi. Nah, hal itu berarti kau memiliki hubungan dengan Pondok Pelangi, karena hal itu tidak mungkin dilakukan oleh orang lain. Kecuali orang tuamu atau salah seorang dari para pengemis itu tahu tentang il¬mu warisan tersebut. Dan kalau memang demikian halnya, berarti orang itu ada¬lah orang dari Pondok Pelangi pula." Soat Ban Ong berkata dengan hati-hati.
"Tapi... jangan khawatir! Kami masih tetap percaya pada ceritamu. Kau tentu takkan membohongi kami." Bok Kek Ong ikut menambahkan.
Soat Ban Ong tersenyum. "Benar. Kami tetap percaya padamu. Tapi harap kau ingat juga, bahwa kami tetap ber¬pendapat bahwa kau tentu seorang anak keturunan Pondok Pelangi. Hanya saja... kami tak bisa menerka, apa yang dulu terjadi padamu. Mungkin kau memang keturunan seorang warga Pondok Pelangi yang terdampar di daratan Tiongkok."
Namun demikian kami juga belum ya¬kin pula pada dugaan itu, karena... tiba-tiba badanmu mengeluarkan bau amis yang amat menyengat! Padahal ilmu per¬napasan dari Pondok Pelangi justru mengakibatkan bau harum pada pemiliknya, bukan bau amis seperti itu." Bok Kek Ong menambahkan lagi.
Soat Ban Ong mengangguk. "Itulah sebabnya kami menanyakan lagi asai-usulmu. Tapi kalau kau memang benar-benar tidak tahu, kami berdua juga me¬makluminya. Mungkin kau memang anak keturunan warga Pondok Pelangi, yang ditemukan oleh kawanan pengemis, yang kemudian menjejalimu dengan makanan-makanan kotor, sehingga bau keringatmu menjadi amis^ ketika mengerahkan tenaga Bok Kek Ong menepuk pundak A Liong. "Tapi bisa juga kau bukan anak keturunan Pondok Pelangi. Mungkin memang anak pengemis, yang pada saat kelahiranmu mendapat pertolongan dari seorang warga Pondok Pelangi. Dan orang itu kebetulan menyukaimu, semua ingin mengangkatmu sebagai murid, se¬hingga ia mempersiapkan susunan urat-urat di dalam tubuhmu."
"Maksud Suhu... orang tua yang me¬ngajariku ilmu pernapasan itu? Tapi... orang itu hanya sekali saja bertemu de¬nganku." A Liong mencoba mengikuti ja¬lan pikiran gurunya.
"Mungkin juga. Yah, siapa tahu? Kau bisa menanyakannya bila bertemu nanti! Lalalalala...! Kulihat riwayat hidupmu sangat aneh dan menarik. Kurasa masih ada suatu rahasia yang belum kau keta-hui. Kau kelihatan berbeda dangan anak-anak sebayamu. Dan kau tidak sesuai menjadi seorang anak pengemis. Kau tentu bukan anak sembarangan. Tapi... yah, se¬baiknya kau menyelidikinya sendiri nanti. Lalalalala...!" Soat Ban Ong yang suka melucu itu tertawa.
A Liong tercenung diam. Kata-kata gurunya itu benar-benar tercerna ke da¬lam hatinya. Rahasia? Benarkah masih ada rahasia yang belum diketahuinya? Apakah itu?
Selama ini A Liong memang tidak pernah memikirkan siapa dirinya. Dia su dah pasrah akan nasibnya, dan ia tak per¬nah mempersoalkan siapa orang tuanya, la sudah menganggap dirinya sebagai ba¬gian dari kelompok pengemis itu.
Tapi kata-kata gurunya itu masuk akal juga. Selama ini nasibnya, jalan hi¬dupnya, memang tampak berbeda dengan para pengemis yang lain. Benarkah ia bukan keturunan mereka? Lalu anak si-apakah dia sebetulnya?
' "Tapi... apa yang telah siau-te ceri¬takan itu memang benar, Lo-cianpwe. Siau-te tidak berbohong." Akhirnya A Liong berkata dengan memelas.
"Yaya, kami tahu. Itulah sebabnya kami tetap menginginkan kau menjadi murid kami." Soat Ban Ong mengiyakan.
Sekarang kami akan menguji dulu lu. sebelum kami memberi pelajaran silat."
Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong lalu membawa A Liong ke tempat yang lebih datar. Mereka duduk melingkar saling berhadapan.
"Sekarang... coba kau kerahkan ilmu pernapasanmu tadi, lalu pukullah telapak tanganku ini!" Soat Ban Ogg -mengang¬kat tangannya ke depan.
"Memukul? Tapi cara pernapasan itu hanya digunakan untuk melawan hawa dingin, Suhu."
"Sudahlah! Kau turuti saja perintah kami!" Bok Kek Ong menimbrung.
Meskipun agak ragu, tetapi A Liong melaksanakan juga perintah itu. Setelah mengerahkan ilmu pernapasannya, sehing¬ga uap putih mengepul di atas kepala¬nya, tangannya diayun ke depan, ke arah s.e!apak tangan gurunya.
Whuuuuuut... dhug! A Liong meringis kesakitan. Buku tangannya bagaikan membentur sebongkah batu karang!
Sebaliknya Soat Ban Ong merengut ':arena kecele. Dia terlanjur mengerah¬kan sebagian besar tenaga dalamnya, ka¬rena ia melihat pekatnya asap yang me¬ngepul di ubun-ubun A Liong. Namun '•ukulan yang terlontar dari tangan pe¬muda itu ternyata tak berisi apa-apa. i ' jcan itu benar-benar tak tahu ilmu si¬at. Tidak tahu cara menyalurkan tena¬ga sakti untuk menyerang lawan!
Orang tua itu memandang Bok Kek '^ng untuk menanyakan pendapatnya.
"Baiklah! Kalau memang dia hanya membutuhkan ilmu itu untuk bertahan
terhadap udara dingin, artinya dia bisa menggunakannya untuk mempertahankan diri. Sekarang... biarlah dia tetap berta¬han! Kau saja yang menyerangnya!" Bok Kek Ong berkata.
"Menyerang dia? Hei, kau jangan ma¬in-main! Bocah ini bisa lumat oleh pukul-anku!"
"Belum tentu! Apakah kau tidak me¬lihat asapnya tadi? Asapmu belum tentu etebal itu!"
"Tapi...?" Soat Ban Ong bergumam ragu.
"Yah, tentu saja kau pun harus meli¬hat keadaan pula. Terlalu meremehkan, kau bisa celaka. Tapi terlalu bernafsu, kau juga bisa membunuhnya. Nah, laku¬kanlah!"
"Tidak! Kalau begitu kau saja yang menguji dia! Tenaga dalammu lebih baik daripada aku. Kaulah yang bisa meng¬aturnya."
Bok Kek Ong yang kurus itu menarik napas panjang. Terpaksa dia mengambil alih ujian itu. Sambil menggeser badan¬nya ia mengangguk kepada A Liong.
"Baiklah! Nah, A Liong... kau laku¬kan lagi cara pernapasan itu! Berbuat¬lah seperti kalau kau bertahan terhadap udara dingin, dan aku akan mencoba menghembuskan udara dingin kepadamu. Berusahalah untuk bertahan! Syukur kau bisa menolak atau menentangnya!"
"Baik, Suhu!"
Sekali lagi A Liong melakukan cara-cara pernapasannya. Begitu uap putih yang keluar dari ubun-ubunnya berubah menjadi merah, maka Bok Kek Ong juga mengerahkan tenaga dalamnya. Uap pu¬tih mengepul pula menyelimuti tubuh Bok Kek Ong, seakan-akan tubuh yang kurus itu telah berubah menjadi sebongkah es yang dingin. Lalu perlahan-lahan tangan orang tua itu mendorong ke depan.
Serangkum udara dingin meluncur me¬nuju ke dada A Liong. Desau suaranya seolah-olah mengalahkan suara angin yang bertiup dari arah barat. Untuk me¬nguji kekuatan A Liong, Bok Kek Ong sengaja mengeluarkan sepertiga dari se¬luruh tenaga saktinya.
A Liong tidak bereaksi atau berbuatapa-apa, selain tetap meneruskan sema¬dinya. Di dalam hatinya hanya ada satu keinginan, yaitu melawan hawa dingin yang tiba-tiba membentur dadanya.
Dan apa yang terjadi kemudian benar-benar membuat kecut hati Bok Kek Ong. Hentakan udara dingin dari telapak ta¬ngannya tiba-tiba terserap ke dalam alir¬an darah A Liong, dan ikut berputar di dalam tubuh, kemudian keluar melalui ubun-ubun dalam bentuk asap putih yang semakin tebal.
Bok Kek Ong terkejut. Dorongan te¬naga saktinya itu cukup untuk membu¬nuh seekor kerbau liar, namun kenyata¬annya tak selembar rambut pun tergon-cang dari tubuh A Liong. Bahkan dari raut wajahnya, pemuda itu sama sekali 1 tak merasakan gangguan tersebut.
Bok Kek Ong menambah tenaganya. Dan kali ini kedua telapak tangannya bersama-sama mendorong ke depan, meng gempur dada A Liong dengan dua pertiga bagian dari seluruh kekuatannya.
"Lo Kek Ong (Si Tua Kek Ong)...!" Soat Ban Ong berseru kaget, karena kekuatan Bok Kek Ong itu dapat melem¬parkan seekor gajah dengan gampangnya.
Tapi kekuatan A Liong benar-benar mentakjubkan. Begitu mendapat serangan yang lebih kuat, kekuatan yang terpen¬dam di dalam tubuhnya tiba-tiba juga bereaksi dengan keras pula. Segumpal hawa panas otomatis muncul dari bawah pusarnya, kemudian berputar dengan ce¬pat ke arah seluruh jalan darah di tu¬buhnya, membentuk asap tipis yang mem bungkus kulitnya.
Tiupan angin dingin yang meluncur dari tangan Bok Kek Ong itu menggem¬pur asap tipis yang menyelubungi badan A Liong! Terdengar suara desis yang ke¬ras sekali, seperti suara bara api tersi-ram air.
1 Asap mengepul semakin tebal di se¬keliling tubuh A Liong, namun pemuda itu seperti tak merasakan apa-apa. Bah¬kan ketika Bok Kek Ong menjadi pena¬saran, dan kemudian menghentakkan pu¬kulan udara kosongnya, tiba-tiba timbul daya tolak yang hebat dari tubuh A Liong!
Wuuuuuus...! Blugh!
Badan Bok Kek Ong yang kurus itu terlempar tinggi ke udara, kemudian ter¬hempas kembali ke atas pasir! Untung¬lah orang tua itu sudah menduganya le¬bih dahulu, sehingga tubuhnya tidak ter-banting ke pasir, tapi mendarat dengan ringan bagaikan segumpal kapas tertiup angin!
Untuk sesaat air muka Bok Kek Ong menjadi merah padam. Dia benar-benar tak mengira kalau A Liong memiliki te¬naga simpanan sedahsyat itu!
Sementara itu A Liong telah membuka matanya, dengan penuh harap ia menunggu pendapat kedua orang tua itu Sa ma sekali tak disadarinya, bahwa ia baru saja melemparkan Bok Kek Ong ke udara.
Soat Ban Ong buru-buru menghampiri sahabatnya. "Kau tidak apa-apa?"
Bok Kek Ong menggelengkan kepala¬nya. "Untung bukan engkau yang meng¬ujinya. Kalau kau yang maju, niscaya sa¬lah seorang dari kalian akan mati di te-pian pantai ini...."
"Ya-ya-ya, kulihat... kulihat tenaganya hebat sekali!"
“hebat sekali!"
Bok Kek Ong melirik ke arah A Liong, lalu mengangguk kuat-kuat. "Anak itu... benar-benar mempunyai tenaga ajaib. Dan... ia sama sekali tak menya¬darinya. Yang dia ketahui... tenaga itu hanya dipergunakan untuk menolak hawa dingin. Wah, Lo Ban Ong... jangan-jangan dia masih menyimpan tenaga yang lebih besar lagi!"
Soat Ban Ong menatap sahabatnya mata melotot. "Maksudmu... maksudmu lwekangnya masih lebih tinggi lagi.Waduh kalau begitu kita harus mengujinya lagi, kita harus tahu sampai dimana kekuatannya agar kita dapat menyesuaikan dengan pelajaran silatnya nanti”.
Bok Kek Ong mengerutkan keningnya. Kedua alisnya yang berbeda warna itu seolah-olah menumpuk jadi satu di te¬ngah dahi. "Baiklah...!"
"Bagaimana, Suhu?" A Liong tidak sabar lagi menantikan jawaban gurunya.
"Aku belum selesai, A Liong. Coba, kau ulangi lagi cara pernapasanmu tadi!
Aku akan mengujimu kembali."
A Liong berdesah pajang. Ia kelihat¬an kurang bergairah untuk melaksanakan perintah itu. Tapi apa boleh buat, ia terpaksa melakukannya juga.
Demikianlah, ketika asap putih di atas kepala A Liong sudah berubah men¬jadi merah, Bok Kek Ong segera menge¬rahkan lwekangnya pula. Karena dengan dua pertiga bagian tenaganya belum da¬pat mengusik kekuatan A Liong, maka kini Bok Kek Ong mengerahkan hampir seluruh tenaga saktinya. Terdengar sua¬ra gemeratak di dalam tubuh kurus itu, seolah-olah tulang-tulangnya pada berpa-tahan.
Untuk menguji kekuatannya, orang tua itu menepuk batu karang di sam¬pingnya. Perlahan-lahan saja. Plaaak...! Tapi batu karang sebesar kerbau itu ti¬ba-tiba merekah dan terbelah menjadi dua bagian!
Melihat demikian besar kekuatan yang dipersiapkan untuk menguji A Liong, Soat Ban Ong berteriak khawatir.
"Lo Kek Ong, hati-hati! Kalau anak itu sampai mati, kau harus bertanggung jawab!"
Bok Kek Ong tersenyum untuk mene¬nangkan hati sahabatnya. Lalu perlahan-lahan tangannya terangkat ke atas. Wuuuuuus...! Sekonyong-konyong tangan itu menerkam ke bawah, menuju ke da¬da A Liong! Angin dingin menyambar de¬ngan dahsyatnya seolah-olah hendak mem belah tubuh pemuda itu!
"Kek Ong, awas... kalau sampai cede¬ra, kubunuh kau!" Di dalam puncak ke¬khawatirannya Soat Ban Ong menjerit keras sekali. Thaaaaaas! Klaaaak! Tak ada benturan! Tak ada suara ke¬sakitan! Tapi hanya suara tepukan yang lemah! Namun apa yang terlihat di are¬na sungguh diluar dugaan!
Dalam posisi tetap berdiri Bok Kek | Ong masih menempelkan telapak tangan¬nya yang penuh tenaga itu di dada A Liong! Sedang pemuda itu sendiri juga tetap dalam keadaan duduk bersamadhi seperti semula. Bedanya, kalau wajah A Liong tetap tenang, segar dan bersih,
sebaliknya wajah Bok Kek Ong tampak merah padam, kaku dan penuh keringat! Bahkan mata orang tua itu tampak me¬lotot menahan sakit!
Sekejap Soat Ban Ong tak tahu apa yang terjadi di antara mereka. Tapi ke tika tampak olehnya sinar mata ketakut- ' an di wajah sahabatnya itu, ia baru me¬nyadari apa yang terjadi. Bok Kek Ong mendapat kesulitan besar!
"A Liong...! Hentikan! Hentikan ilmu pernapasanmu!"
Sambil berteriak Soat Ban Ong mele¬sat ke belakang Bok Kek Ong. Kemudian dengan cepat ia mengerahkan tenaga saktinya dan menepuk punggung sahabat¬nya itu. Plaaaak! Arus tenaga yang amat kuat mengalir dari dalam tubuhnya, mem banjir ke dalam tubuh Bok Kek Ong, dan , berbaur menjadi satu. Dengan tenaga gabungan itu mereka melawan daya se- j dot yang keluar dari dada A Liong!
Sedikit demi sedikit Soat Ban Ong meningkatkan penyaluran tenaga sakti¬nya. Tapi betapa kagetnya dia ketika se¬luruh kekuatan lwekangnya telah terhentak keluar, tenaga gabungan mereka te¬tap tak dapat mengatasi daya sedot yang keluar dari dalam tubuh A Liong!
Sekarang mereka benar-benar dalam kesulitan! Mereka tak kuasa untuk meng¬alihkan perhatian lagi. Sedetik saja me¬reka melepaskan konsentrasi, nyawa me¬reka akan melayang!
i Yang bisa mereka lakukan sekarang hanyalah bertahan. Bersama-sama mere¬ka menghentakkan seluruh sisa-sisa tena¬ga mereka. Keringat sampai membanjir membasahi pakaian mereka. Bahkan se¬saat kemudian tangan dan kaki mereka mulai bergetar.
Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong mu¬lai berpikir untuk berdoa ketika daya se¬dot itu mendadak hilang. Ternyata pada saat-saat terakhir A Liong telah meng¬hentikan semadinya. Teriakan Soat Ban Ong tadi telah menyadarkannya, meski¬pun agak lambat.
A Liong membuka matanya. Melihat dua orang gurunya terlentang tumpang tindih di depannya, wajahnya segera men jadi pucat ketakutan. Bergegas ia berlutut memohon maaf.
"Suhu! Apakah... apakah siau-te telah berbuat salah?"
Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong bang¬kit dengan cepat. Mereka saling pandang dengan wajah merah. Mereka hampir-hampir tidak percaya akan kejadian itu. Bagaimana mungkin seorang anak berusia lima belas tahun dapat mengalahkan te¬naga gabungan, yang telah mereka him¬pun selama lima puluhan tahun? Sungguh tidak masuk akal! Kekuatan sedahsyat itu hanya bisa diperoleh setelah berlatih selama seratus tahun! Mungkinkah A Liong seorang anak ajaib yang muncul setiap lima ratus tahun sekali? Kalau me¬mang demikian halnya, mereka benar-be¬nar beruntung. Mereka mendapatkan bi¬bit unggul untuk mewarisi ilmu mereka. Dan kenyataan itu sungguh sangat menggembirakan mereka.


 Jilid 14                                                                                                       Jilid 16