Selasa, 20 September 2016

PENDEKAR PENYEBAR MAUT 33



Jilid 33

CHIN YANG KUN berpacu terus. Semakin dekat dengan kota Sin-yang semakin sering pula mereka melewati perkampungan penduduk. Meskipun demikian orang yang mereka kejar itu tetap tidak mereka ketemukan juga.

Sementara itu hari telah menjadi sore. Matahari telah hampir mencapai cakrawala barat, sehingga sinarnyapun menjadi semakin redup. Tetapi keredupan ini justru membuat suasana menjadi segar dan nyaman. Angin timur yang membawa air itu bertiup lembut, menghalau udara sore yang sudah tidak begitu panas lagi.

Tapi udara yang sejuk dan nyaman itu ternyata tidak dapat mengobati hati Chin Yang Kun yang penasaran. Pemuda itu tetap saja merasa jengkel karena tak bisa menemukan
buruannya.

"Baiklah, agaknya aku memang takkan bisa menemukan orang itu. Lebih baik aku pergi saja sekarang ke Sin-yang meneruskan rencanaku semula, menemui Thio Lung di Gedung Kim-liong Piauw-kiok," akhirnya pemuda itu mengambil keputusan.

Demikianlah, Chin Yang Kun Ialu memacu kudanya kembali. Semakin dekat dengan kota Sin-yang, tanah ladang dan persawahan semakin berkurang jumlahnya. Di kanan kiri jalan yang dilaluinya sekarang mulai banyak didirikan bangunan dan perkampungan penduduk. Dan makin dekat dengan Sin-yang, bangunan dan perkampungan itu semakin tumbuh rapat.

Tiba-tiba pemuda itu menarik tali kendali kudanya. Sekejap pemuda itu berdebar-debar hatinya ketika mendadak dilihatnya sebuah iring-iringan gerobag berjalan perlahan di depannya. Iring-iringan itu terdiri dari lima buah gerobag besar, yang masing-masing ditarik oleh dua ekor kudan beban yang kuat-kuat. Beberapa orang penunggang kuda tampak berjaga-jaga di depan dan di belakang barisan.

“Kim-liong Piauw-kiok……” Chin Yang Kun bergumam perlahan ketika dilihatnya sebuah bendera besar bersulamkan gambar naga di tengah tengahnya.

“Sungguh kebetulan sekali aku bersua dengan mereka disini. Aku tak usah bersusah-susah mencari mereka di Sin-yang nanti…..”

Dengan hati gembira Chin Yang Kun memacu kudanya mengejar iring-iringan gerobag tersebut. Di dalam hati pemuda itu sudah merencanakan, bagaimana dia akan menegur orang-orang itu nanti. Siapa tahu diantara mereka ada yang telah mengenal dirinya.

Tapi kegembiraan itu segera musnah ketika Chin Yang Kun melihat kain-kain putih yang melilit di kepala mereka. Orang-orang itu sedang berkabung! Wajah mereka tampak sedih, pucat dan lelah!

Chin Yang Kun cepat menahan kendali kudanya. Tapi karena jarak mereka sudah dekat dan suara kaki Cahaya Biru sangat nyaring, maka kedatangan pemuda itu segera didengar oleh orang-orang Kim-liong Piauw-kiok tersebut.

Dengan tangkas dan sigap orang-orang itu menoleh dan bersiap-siaga. Terpaksa Chin Yang Kun tak dapat menghindarkan diri lagi. Dengan perasaan tegang pemuda itu mengendarai kudanya melewati mereka. Mulut yang sedianya mau menyapa tadi mendadak bungkam, sebab diantara orang-orang itu ternyata tak seorangpun yang pernah dikenalnya. Orang-orang yang sedang berkabung itu menatap dirinya dengan pandangan asing dan curiga.

Angin bertiup sedikit kencang dan tiba-tiba Chin Yang Kun mencium bau yang tidak sedap. Pemuda itu menjadi curiga. Diliriknya gerobag-gerobag yang ditutup rapat dengan kain tebal itu. Apakah gerangan isi gerobag itu sebenarnya?

Chin Yang Kun menjadi bimbang, apa yang sebaiknya harus ia lakukan! Menyapa mereka dan mengatakan maksudnya untuk menemui Thio Lung, sehingga mereka bisa berjalan bersama-sama ke kota Sin-yang? Ataukah lebih baik ia diam saja meninggalkan mereka dan langsung menemui Thio Lung disana? Pemuda itu tidak dapat segera mengambil keputusan.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda yang bergemuruh di kejauhan. Semuanya terperanjat, tak terkecuali Chin Yang Kun! Untuk sesaat mereka melupakan kecurigaan masing masing, karena seluruh perhatian mereka sedang tertuju kepada suara gemuruh tersebut.

“Suara apa itu…..?” salah seorang dari anggota Kim-liong Piauw-kiok itu bertanya kepada temannya.

“Tampaknya seperti suara barisan berkuda berjumlah besar. Hah!! Lihatlah itu……! Debu di depan itu!”

Semuanya berdiri di atas punggung kuda masing-masing.

“Oh……pasukan kerajaan kiranya!” orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu bernapas lega begitu melihat bendera dan panji-panji yang dibawa oleh barisan itu.

“Ya! Hampir terbang semangatku! Kukira kaum perusuh itu…..” yang lain mengangguk sambil menyeka keringatnya.

Tanpa terasa semuanya mempercepat langkah kaki kuda mereka, sehingga roda-roda gerobag itu berdentangan pula semakin riuh. Chin Yang Kun dan kudanya ikut terseret pula dalam iring-iringan mereka.

“Hei…..pasukan itu ternyata tidak sedang menuju ke arah kita!” anggota Kim-liong Piauw-kiok yang berada di depan sendiri berteriak memberi tahu kawan-kawannya yang berada di antara iring-iringan gerobag itu.

“Apa…..?” orang yang berada di belakang iring-iringan itu berseru menegaskan.

“Mereka tidak melintasi jalan ini! Mereka cuma memotong jalan ini menuju ke bukit-bukit itu!” orang yang di depan itu berteriak lagi seraya menuding ke arah perbukitan di sebelah utara.

“Yaa…..tampaknya pasukan itu sedang mencari tempat berkumpulnya gerombolan-gerombolan perusuh itu. Kata orang Baginda Kaisar secara diam-diam telah mengerahkan tentaranya untuk menggempur tempat-tempat pemusatan mereka di seluruh negeri,” yang lain memberi keterangan pula.

“Hei! Mengapa bendera Hong-thian-liong-cu (Burung Hong Langit Mustika Naga) itu ada diantara panji-panji mereka?” dengan kaget salah seorang diantara orang Kim-liong Piauw kiok itu berseru.

“Apa? Bendera Hong-thian-liong-cu? Hei……benar juga penglihatanmu! Itu memang bendera Hong-thian-liongcu…..  Panji Kekaisaran! Apakah baginda berada diantara mereka?”

Chin Yang Kun mengernyitkan alis matanya. Dilihatnya diantara bendera-bendera dan panji-panji itu memang ada sebuah panji besar berwarna merah bergambarkan seekor burung Hong dan naga sedang bercengkeraman. Dan menurut apa yang telah didengarnya, panji tersebut memang bendera pertanda kekaisaran Tiong-kok.

Barisan itu berderap seperti tiada habis-habisnya. Selain pasukan berkuda, di dalam barisan itu ternyata ada pula pasukan panah dan perbekalan. Mereka berjejal di atas pedati-pedati yang mereka bawa, bercampur dengan makanan dan perbekalan yang mereka angkut. Dan di ekor barisan tampak gerobag-gerobag pengangkut peralatan perang, seperti jaring, alat-alat perangkap, senjata dan alat pelempar batu dan api.

“Wah, biarpun bukan sebuah laskar yang besar, tetapi kekuatan itu benar-benar merupakan pasukan penggempur yang komplit,” terdengar salah seorang anggota Kim-liong Piauw-kiok itu berkata.

“Dan tampaknya dipimpin oleh Baginda Kaisar……” yang lain menambahkan.

Begitulah, pasukan yang kurang lebih berjumlah lima ratus orang perajurit lengkap itu memotong jalan di depan mereka, menuju ke perbukitan yang memanjang di sebelah utara jalan.

Yaitu sebuah perbukitan yang mempunyai banyak lembah lembah subur. Dan derap langkah pasukan itu meninggalkan kepulan debu yang bergulung-gulung tinggi di udara.

Beberapa saat lamanya Chin Yang Kun dan orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu tetap berdiam diri saja di tempat masing-masing, menanti hilangnya atau habisnya kepulan debu yang menggelapkan jalan di depan mereka. Dan sambil menanti itu tanpa sadar mereka saling berpandangan lagi. Dan Chin Yang Kun kembali bimbang dan ragu-ragu pula.

“Keteprak….! Keteprak…..! Keteprak…..!” tiba-tiba mereka dikejutkan lagi dengan suara derap kaki kuda yang datang ke arah mereka. Dan sebelum semuanya bisa menduga siapa yang telah datang, dari balik kepulan debu muncul bayangan lima orang penunggang kuda berpacu ke arah mereka.

Saking kencangnya lima orang berkuda itu hampir saja menabrak iring-iringan gerobag mereka. Untunglah orang orang Kim-liong Piauw-kiok itu sudah berwaspada sebelumnya. Dengan tangkas mereka mengelak dan menyabetkan cambuknya.

“Taar! Taar! Taaaaar !” ujung cambuk mereka menyengat kuda-kuda yang hampir melanggar mereka itu. Kontan saja kuda-kuda yang terkena sabetan itu melonjak tinggi ke atas, seolah mau melemparkan penunggangnya ke udara.

“Kurang ajar! Siapa berani mengganggu jalannya kuda kuda kami?” salah seorang dari lima penunggang kuda itu menjerit marah. Tubuhnya yang terlempar ke atas itu berjumpalitan di udara dengan manisnya, lalu mendarat di atas tanah tidak jauh dari penyerangnya!

“Kalianlah yang tidak punya mata…..!” orang Kim-liong Piauw-kiok yang baru saja mengayunkan cambuknya itu memaki pula tidak kalah berangnya.

“Bangsat ! kalian….hei! Su-te, kau…..?”

Penunggang kuda yang marah-marah itu tiba-tiba berteriak kaget serentak mengenali siapa yang mencambuk kudanya tadi. Ternyata orang yang menghadang jalan dan mencambuk kudanya itu adalah adik seperguruannya sendiri. Yang lain-lainpun segera menjadi kaget pula. Ternyata mereka segolongan, sama-sama anggota Kim-liong Piauw-kiok juga. Maka beberapa saat kemudian merekapun lantas saling berpelukan dengan hangatnya. Tapi sekejap kemudian kegembiraan itu segera beralih menjadi tersendat-sendat lagi manakala mereka teringat akan keadaan mereka yang sedang dalam keadaan berkabung itu. Dan kesedihan mereka itu ternyata masih berlanjut dan …….belum selesai!

“Suheng, kenapa kau membawa kemari saudara-saudara kita ini? Apakah Thio su-hu mengkhawatirkan keadaan kami sehingga kalian mengutus su-heng kemari untuk menyongsong rombongan ini?” orang yang memimpin iring iringan gerobag itu bertanya kepada penunggang kuda yang baru tiba.

Orang yang dipanggil su-heng itu tiba-tiba merangkul lagi dengan sedihnya. Sesaat lamanya dia tak bisa menjawab pertanyaan tersebut. “Su-te……” rintihnya.

Tentu saja sikap itu membuat cemas dan gelisah orang orang yang membawa iring-iringan itu. Apalagi ketika mereka melihat saudara-saudara mereka yang baru datang itu tiba-tiba meruntuhkan air mata semuanya.

Dan entah apa kabarnya, melihat keributan kecil itu Chin Yang Kun menjadi tertarik. Tanpa terasa pemuda itu ikut berhenti pula diantara mereka. Matanya hampir tak pernah berkedip memandang orang-orang itu.

“Su-heng, ada apa pula ini? Mengapa semuanya lantas menangis? Bukankah kita semua sudah menangis kemarin?” orang yang disebut su-te itu menggoyang-goyangkan tubuh su-hengnya. “Sudahlah! Su-heng dan kawan-kawan jangan menangis lagi! Kita selesaikan dulu tugas kita. Jenazah para susiok itu telah kubawa pulang semua……lihatlah gerobag-gerobag itu! Marilah kita segera membawanya ke hadapan Thio Lung su-hu!”

“Su-te, kau belum mengetahui semuanya…..” orang yang dipanggil su-heng itu meratap semakin sedih. “Ketahuilah! Thio……Thio su-hu juga mati dibunuh orang!”

“Huh……..? apa……..??” orang-orang yang membawa iring iringan gerobag itu menjerit kaget. Berita itu seperti petir di siang bolong.

“Thio su-hu dibunuh orang?”

“Be-benar……..! malam tadi……”

“Lalu…….siapa yang membunuhnya?” orang yang dipanggil suheng itu menatap sutenya dengan air mata berlinang. “Sute, kau jangan kaget……! Kaupun pernah pula mendengar nama si pembunuh itu sebelumnya, karena namanya pernah kita sanjung-sanjung sebagai “dewa penolong” Kim-liong Piauw-kiok beberapa waktu yang lalu…..”

“Maksud su-heng…..yang membunuh Thio su-hu itu adalah si pemuda aneh yang menolong Kim-liong Piauw-kiok ketika berhadapan dengan Tiat-tung Kai-pang di tempat para pengungsi dahulu itu?”

“Tepat! Pemuda itulah pembunuhnya! Entah mengapa…..pemuda itu tiba-tiba berbalik memusuhi Kim-liong Piauw-kiok dan …..membunuh su-hu Thio Lung malam tadi!”

“Ah, benarkah itu? Tapi Tuan Hua dan pembantunya itu bilang……”

“Eh, benar! Dimanakah Tuan Hua itu sekarang?” orang yang disebut su-heng itu cepat-cepat memotong perkataan su-tenya yang menyebut-nyebut nama Tuan Hua.

Orang yang memimpin iring-iringan gerobag itu menghela napas sedih. “Luka yang diderita oleh Tuan Hua itu benar benar sangat parah, sehingga ia tak dapat mengikuti rombongan gerobag pengambil jenazah ini. Dia dan pembantunya terpaksa kutinggalkan di Ko-tien untuk berobat dulu….. eh! Suheng, benarkah kata-katamu tadi? Benarkah pemuda yang menolong kita itu yang membunuh Thio su-hu? Apakah su-heng tidak salah?”

“Apa katamu? Kaukira aku membohongimu? Su-te, kenapa kau ini……!” orang yang disebut su-heng itu melangkah mundur dengan mata terbelalak.

“Ah, su-heng! Kau jangan terburu-buru marah dulu! Aku tidak bermaksud demikian,” adik seperguruannya cepat-cepat berkata.

“Lalu….mengapa kau berkata begitu tadi?”

“Ahh…….!” Adik seperguruannya berdesah. Wajahnya tampak kebingungan dan serba salah. Berkali-kali kepalanya menoleh ke belakang ke arah para pembantunya.

“Wah, pusing aku…..!” akhirnya ia berkata. “Su-heng, sebenarnya keterangan siapa yang benar dalam masalah ini?  Keterangan yang su-heng berikan tadi atau……atau keterangan yang diberikan oleh Tuan Hua?”

“Maksudmu?”

“Su-heng tadi mengatakan bahwa orang yang membunuh Thio su-hu itu adalah pemuda yang dulu pernah menolong kita. Tapi…..Tuan Hua tadi pagi juga berkata kepadaku bahwa orang yang telah menolong dia menghadapi para perampok kemarin siang juga pemuda itu pula. Eh, bagaimana ini…..? jarak antara Poh-yang dan Sin-yang yang luar biasa jauhnya, tak mungkin ditempuh hanya dalam beberapa jam saja. Masakan pemuda itu sedemikian saktinya sehingga dia bisa “terbang” secepat burung walet? Maksudku, masakan hanya dalam beberapa jam saja setelah pemuda itu membantu Tuan Hua, dia sudah berada di Sin-yang untuk membunuh Thio suhu?”

“Tidak! Apa yang dikatakan oleh Tuan Hua itu tentu salah! Dia pasti telah salah lihat kemarin…..” orang yang disebut suheng itu berteriak keras sekali.

“Su-heng, kau…..”

“Su-te, percayalah kepadaku. Apa yang kukatakan tadi adalah benar, karena orang yang melihat si pembunuh itu adalah su-couw Kim-liong Lo-jin sendiri. Beliaulah yang memergoki pembunuh itu ketika keluar dari kamar Thio suhu…..”

“Su-couw Kim-liong Lo-jin? Bukankah su-couw itu……?”

“Su-couw itu sakit keras maksudmu?” orang yang dipanggil su-heng itu memotong.

“Benar! Su-couw memang masih selalu berbaring di tempat tidurnya. Tapi justru karena tidak pernah pergi kemana-mana itulah beliau dapat melihat keterangan si pembunuh itu. Sayang su-couw sedang sakit parah…..”

“Jadi……jadi…….?”

“Nah, su-te…..kini kau lebih percaya kepadaku dari pada keterangan Tuan Hua itu bukan?”

"Ohhh…...” pemimpin iring-iringan gerobag yang dipanggil su-te itu menundukkan kepalanya seraya menghela napas panjang.

Dan orang yang disebut su-heng itu segera menghampiri su-tenya serta menepuk-nepuk bahunya.

“Su-te, marilah……! Kedatanganku ini memang atas perintah su-couw untuk menolongmu membawa jenazah-jenazah itu pulang……”

Sementara itu debu tebal yang menutupi jalan itu sudah hilang, sehingga semuanya bisa saling melihat wajah masing-masing dengan jelas. Dan orang yang disebut su-heng itu tiba-tiba tertegun tatkala pandang matanya terbentur pada seraut wajah asing yang belum pernah dilihatnya. Wajah yang tampan namun bermata tajam mengerikan! Dan orang itu berada di atas punggung kuda tunggangannya yang tegar dan gagah di tepi jalan.

“Su-te! Siapakah dia……?” orang yang disebut su-heng itu berbisik.

“Siapa yang su-heng maksudkan? Dia? Ohhhh……entahlah! Entahlah! Aku juga belum mengenalnya……” pemimpin rombongan gerobag pembawa jenazah itu menggelengkan kepalanya.

“Tapi…..kulihat dia disitu sejak tadi. Kukira ia memang ikut dalam rombonganmu ini.”

“Tidak! Orang itu baru saja muncul beberapa saat yang lalu. Semula aku juga mencurigainya karena matanya selalu mengawasi kami dan gerobag-gerobag itu.”

“Su-te, kalau begitu bersiaplah! Aturlah semua anak buahmu! Kita harus berhati-hati terhadap orang ini. Meskipun demikian kita tak perlu merisaukannya. Yang penting kita harus menyelesaikan tugas kita dahulu. Marilah……!” demikianlah, orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu lalu bersiap-siap kembali untuk membawa gerobag-gerobag pembawa jenazah itu ke Sin-yang. Mereka berharap, sebelum matahari benar-benar tenggelam dan hari menjadi gelap, mereka telah memasuki kota Sin-yang. Segala sesuatupun akan lebih mudah diselesaikan disana dari pada di tempat lain. Nama Kim-liong Piauw-kiok merupakan jaminan yang tak tergoyahkan bagi setiap orang di kota besar itu.

Sementara itu pemuda yang mereka percakapkan dan mereka curigai, yaitu Chin Yang Kun, tiba-tiba maju ke depan rombongan mereka dan melintangkan kudanya di tengah jalan! Wajah pemuda itu tampak kaku dan pucat, sementara tatapan matanya terasa dingin menyeramkan, sehingga penampilannya yang tiba-tiba di tengah jalan itu bagaikan malaikat elmaut yang mendirikan bulu roma di setiap hati anggota rombongan Kim-liong Piauw-kiok tersebut.

"Dia......dia merintangi jalan yang akan kita lalui, su-heng ! Heran! Mengapa perbawanya demikian besarnya? Dia cuma sendirian, tapi ..... tapi kenapa hatiku menjadi ketakutan begini?" pemimpin iring iringan gerobag yang dipanggil su-te itu berdesah kepada su-hengnya.

"Kau benar, su-te .... aku merasa seperti yang kaurasakan juga. Aku yang tidak pernah merasa takut selama hidupku ini tiba-tiba juga seperti seorang yang sedang dirayapi perasaan ngeri dan gelisah. Pemuda ini mempunyai perbawa yang luar biasa……”

“A-apa yang …..harus kita lakukan, su-heng?”

“Eng……entahlah!” matahari sudah tidak kelihatan lagi. Yang kini tertinggal hanyalah sisa-sisa sinarnya yang kemerah-merahan di langit sebelah barat. Suasana di jalan tersebut sudah tidak begitu terang lagi. Yang masih tampak jelas tinggallah pucuk pepohonan tinggi di sekitarnya.

“Semuanya berhenti!” Chin Yang Kun menggertak.

Suaranya terdengar nyaring dan bergema seolah-olah suara guruh yang menggelegar di atas awan. “Dengarlah........! Sucouw (kakek guru) kalian itulah yang telah salah mengenali pembunuh su-humu! Pemuda yang pernah menolong kalian itu tak pernah memusuhi Kim-liong Piauw-kiok, apa lagi sampai membunuh Thio Lung! Mengerti......?"

Belasan orang anggota Kim-liong Piauw-kiok itu terdiam tak berkutik. Semangat mereka seperti tiada lagi dalam tubuh mereka. Keberanian yang selama ini selalu menjadi ciri khas para anggota Kim-liong Piauw-kiok kini seolah-olah menjadi melempem. Seluruh jiwa dan semangat mereka menjadi
hancur tertindih perbawa Chin Yang Kun!

''Dan....... kau!" tiba-tiba pemuda itu menuding ke arah si pemimpin iring-iringan gerobag pembawa jenasah. “Apa yang dikatakan oleh Tuan Hua itu…. Benar ! Memang pemuda itulah yang membantu dia menghadapi para perampok di lereng bukit itu!"
"Kau….. kau, eh....... bagaimana kau bisa memastikan hal itu?" orang yang dipanggil suheng itu akhirnya memperoleh keberaniannya kembali. "Dan...... dan siapakah kau ini ? Mengapa tiba-tiba ikut mencampuri urusan kami ?"

"Yaa........ ya, siapakah tuan ini?" su-tenya ikut mendesak. Chin Yang Kun menyibakkan rambut yang menutupi pipi dan pelipisnya. “Lihatlah baik-baik! Akulah pemuda itu!”

"Hah ?”

“Ohh ?!"

"Eh………!??"

Tiba-tiba belasan orang anggota Kim-liong Piauw-kiok itu mencabut senjata masing-masing. Mereka menyebar ke segala penjuru dengan perasaan was-was.

“Apa yang hendak kalian lakukan? Mengeroyokku? Hmmm….jangan gegabah. Meskipun jumlah kalian banyak, tapi kalian masih tetap bukan lawanku. Masih ingat bentrokan antar kaum kalian melawan Tiat-tung Kai-pang di tempat para pengungsi itu? Hmm, tujuh orang su-siok kalian yang lihai-lihai itu tak mampu melawan tiga orang pengemis Tiat-tung Kaipang. Coba, kalau aku tak tampil di arena itu dan membunuh tiga orang pengemis itu, apa jadinya nasib tujuh orang su-siok kalian itu? Nah, sekarang pikirkanlah baik-baik! Apakah kepandaian kalian ini sudah lebih hebat dari tujuh orang susiok atau tiga orang pengemis itu?”

“Tapi……” kedua orang su-heng dan su-te itu mencoba membela diri.

“Tidak ada tetapi…..! kalian harus percaya bahwa bukan aku pembunuhnya. Aku akan membuktikannya nanti." Chin Yang Kun memotong dengan  suara tegas.

"Bagaimana tuan membuktikannya......?” su-heng dan su-te itu masih belum percaya juga.

"Dan kalau memang bukan tuan, lalu siapakah….. pembunuhnya?"

“Bodoh! Kalau aku kalian pertemukan dengan Tuan Hua atau su-couw kalian itu, bukankah semuanya akan menjadi beres? Masakan mereka tidak bisa menimbang dan membedakan antara aku dan si pembunuh itu? Dan….tentang pembunuh itu, aku tidak tahu-menahu ! Itu urusan kalian sendiri ! Aku tidak mau mencampurinya."

"Baik! Kalau begitu tuan kami undang ke gedung kami. Tuan akan kami pertemukan dengan su-couw Kim-liong Lojin," orang yang dipanggil su-heng itu menyetujui pendapat Chin Yang Kun. Chin Yang Kun menghela napas, laIu membalikkan kudanya dan melangkah mendahului rombongan itu. “Aku akan berangkat lebih dahulu. Aku akan menanti kalian di sana.”

“Eh, bagaimana kami menghubungi tuan nanti?”

“Jangan terlalu repot! Akulah yang akan menghubungi kalian nanti. Bukan kalian!” Chin Yang Kun berseru sambil melarikan kudanya.

Demikianlah, dengan perasaan dongkol dan geram Chin Yang Kun memacu Si Cahaya Biru ke kota Sin-yang. "Kurang ajar…..aku telah kehilangan jejak ! Orang yang kucari-cari dan ingin kudengar keterangannya telah mati dibunuh orang. Dan kau justru didakwa sebagai pembunuhnya, sungguh penasaran!”

Hari semakin gelap dan semuanya tampak remang-remang. Bulan belum muncul, sementara bintang-bintangnya juga baru beberapa buah saja yang kelihatan. Namun demikian si Cahaya Biru tetap saja berderap dengan kencangnya. Kuda jantan yang berwarna hitam legam itu menerobos kegelapan tanpa kesukaran. Sepasang matanya yang terlatih itu menembus kepekatan malam seperti mata kucing dalam kegelapan.

Beberapa saat kemudian kota Sin-yangpun telah kelihatan di depan mereka. Kota besar yang dilingkari parit dan tembok tinggi yang tampak kehitam-hitaman dari kejauhan, sepintas lalu seperti raksasa tidur dalam kegelapan.

Satu-satunya petunjuk atau tanda bahwa tempat itu adalah kota yang dihuni manusia hanyalah sinar-sinar lampunya yang gemerlapan di balik tembok tinggi berwarna hitam tersebut.

“Lihatlah, Cahaya Biru! Kita telah sampai di Sin-yang.

Sebentar lagi kita akan mencari penginapan yang baik dan kau boleh beristirahat lagi sepuas-puasmu.” Chin Yang Kun mengelus-elus rambut kudanya yang berkibaran tertiup angin.

Kuda itu meringkik, lalu melesat ke depan lebih cepat lagi, seakan-akan ikut bergembira dan ingin lekas-lekas pula sampai di sana. Pintu gerbang kota itu masih terbuka lebar dan jembatan gantungnyapun masih terpasang di atas paritnya yang lebar.

Masih banyak orang yang hilir mudik melewati jembatan tersebut sehingga kedatangan Chin Yang Kun diantara orang orang itu benar-benar tidak menarik perhatian sama sekali.

Banyak juga diantara orang itu yang naik kuda, keledai atau pedati yang ditarik kuda beban.
Di dalam tembok suasana sungguh ramai dan meriah. Sinyang memang sebuah kota yang amat besar.

Penduduknyapun sangat banyak, berjejal di dalam kampung kampungnya yang rapat. Maka tak heran kalau kehidupan kota itu setiap harinya amat sibuk dan hiruk-pikuk luar biasa.

Toko-toko, warung-warung buka di jalan-jalan setiap saat selalu ramai dengan orang. Apalagi di jalan besar, para penjaja makanan dan minuman, penjual obat dan pedagang pedagang lainnya selalu ribut bersaing menawarkan dagangan mereka. Chin Yang Kun mengendarai kudanya perlahan-lahan.

Sambil menikmati kehidupan malam yang riuh dan semarak itu ia akan mencari sebuah rumah penginapan yang baik dan bersih. Malahan kalau bisa ia akan mencari yang mewah, agar istirahatnya nanti dapat lebih nikmat dan tidak terganggu. Soal uang ia tidak perlu khawatir, uang pemberian Liutwakonya itu masih lebih dari cukup untuk membeli hotel dan seluruh isinya.

Pemuda itu tidak menjadi heran tatkala beberapa kali harus berpapasan dengan perajurit kerajaan yang bersenjata lengkap. Sebagaimana layaknya sebuah kota besar kota itu tentu juga diperlengkapi dan dijaga oleh pasukan kerajaan yang cukup besar pula, sehingga kehadiran perajurit-perajurit itu di jalan tidak perlu diherankan lagi.

Tapi ketika pemuda itu melihat kereta-kereta perang dan persenjataan-persenjataannya yang lengkap diparkir di depan sebuah penginapan besar dan mewah, hatinya menjadi terkejut juga. Keadaan itu benar-benar aneh. Tak biasanya alat-alat perang seperti itu ditaruh di depan rumah penginapan. Lain halnya kalau alat-alat itu ditaruh di tangsi atau barak-barak para perajurit!

Apalagi ketika pemuda itu melihat puluhan atau belasan orang perajurit memenuhi ruangan depan rumah penginapan itu, hatinya semakin bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi di dalam rumah penginapan mewah itu?

Saking tertariknya, tanpa terasa Chin Yang Kun membawa kudanya berbelok ke tempat itu. Dan ketika pemuda itu menyadari apa yang telah dilakukannya, ia sudah terlanjur memasuki halaman rumah penginapan tersebut, sehingga ia tak enak hati untuk berbalik keluar lagi tanpa alasan. Apalagi ketika dilihatnya beberapa orang perajurit berkuda juga ikut pula memasuki halaman itu, rasa sungkan itu menjadi semakin besar. Maka untuk menghilangkan rasa canggungnya pemuda itu lalu berpura-pura sebagai pelancong biasa yang tak tahu apa-apa. Dengan tenang ia menuju tempat penambatan kuda untuk menitipkan kudanya.

Tapi baru beberapa langkah kudanya berjalan, empat atau lima orang perajurit pengawal yang berjaga-jaga di halaman itu telah mencegatnya. Dengan sopan namun tegas para perajurit pengawal itu menyuruhnya turun.

“Saudara mau kemana?” salah seorang dari para pengawal itu bertanya.

“Ohh……? Ada apa ini?” Chin Yang Kun berpura-pura kaget.

“Saya sedang mencari tempat penginapan. Mengapa tempat ini dijaga para perajurit…..?”

“Maaf, saudara…….kaucari saja di tempat lain. Penginapan ini telah penuh, karena semua kamar telah kami sewa sejak kemarin.” Pengawal itu menjawab sambil tersenyum sabar.

“Sudah tuan sewa semuanya? Eh, mengapa begitu? Apakah asrama atau barak-barak perajurit yang ada di kota ini telah penuh sesak sehingga sudah tidak bisa memuat tuan-tuan lagi? Waduh, celaka……! Aku terus menginap dimana sekarang? Aku sudah terbiasa menginap di penginapan ini kalau singgah kemari sehingga aku tak mempunyai langganan yang lain. Ahhhhh……!” Chin Yang Kun berpura-pura bingung.

“Ah, saudara tak usah merasa bingung. Kota ini adalah kota yang sangat besar, dimana mana
banyak penginapan. Saudara bisa memilih salah satu diantaranya…..”

“Yaa……tapi tentu tidak akan sebaik rumah penginapan ini. Dan……suasananya serta pelayanannyapun tentu juga tidak sebagus suasana dan pelayanan di sini. Apalagi aku mempunyai kesenangan-kesenangan dan selera khusus yang telah dikenal baik oleh para pelayan di rumah penginapan ini. Aku tidak perlu meminta ini dan itu, atau harus memberi perintah ini dan itu kepada para pelayan, karena para pelayan di sini sudah mengenal baik semua adat kebiasaan saya. Oleh karena itu……”

“Yaa……..ya, kami tahu semua itu,” perajurit pengawal itu cepat-cepat memotong perkataan Chin Yang Kun yang panjang lebar itu.

“Tapi bagaimana lagi kalau tempat ini sudah terlanjur kami sewa semuanya? Masakan saudara mau mengusir kami yang datang lebih dahulu?”

“Ah……tidak begitu maksudku. Masakan aku berani mengganggu para petugas negara? Yang hendak kuminta kepada tuan-tuan cuma pengertian dan sedikit belas kasihan, yaitu berikanlah padaku sebuah kamar saja untuk tidur malam ini. Biarlah yang paling kotor dan paling jelekpun tidak apa……” Chin Yang Kun yang semakin tergelitik hatinya untuk mengetahui rahasia para perajurit itu mencoba berbohong untuk mendapatkan tempat di penginapan itu.

“Maaf, kami tetap tak bisa meluluskan permintaan saudara. Kami cuma pengawal-pengawal yang diberi tugas utuk menjaga tempat ini. Dan tugas yang diberikan kepada kami itu diantaranya ialah….menjaga jangan sampai orang luar memasuki rumah penginapan ini! Oleh karena itu kami terpaksa dengan berat hati mengusir saudara dari halaman ini……!” pengawal itu menjawab sedikit kaku. Tampaknya sikap Chin Yang Kun yang agak kepala batu itu mulai menjengkelkannya.

“Kalau begitu tolong tuan katakan kepada pimpinan tuan, siapa tahu beliau mengijinkannya? Soalnya……” Chin Yang Kun tetap saja tak mau beranjak
dari tempat itu. Dalam hati pemuda itu berharap semoga ada salah seorang pengawal atau anak buah Liu-twakonya di tempat itu, sehingga suara ribut-ribut itu terdengar oleh mereka.

“Maaf, saudara......! Sekali lagi kami minta kau meninggalkan tempat ini dengan segera! Kuharap kau jangan menyusahkan dan menjengkelkan hati kami!” perajurit itu akhirnya membentak karena sudah hilang kesabarannya.

Perajurit-perajurit pengawal itu lalu menodongkan tombak tombak mereka ke arah Chin Yang Kun sehingga Si Cahaya Biru menjadi kaget dan melonjak-lonjak. Dan keributan itu segera dilihat oleh pengawal-pengawal yang lain. Mereka bergegas mendatangi tempat itu dan sebentar saja Chin Yang Kun telah dikepung oleh belasan orang perajurit.

Tapi keributan itu juga telah menarik perhatian para perwira yang tadi berkuda di belakang Chin Yang Kun ketika memasuki halaman rumah penginapan tersebut. Para perwira itu cepat membelokkan kudanya ke tempat Chin Yang Kun dikepung.

“Ada apa ribut-ribut di sini?” salah seorang perwira itu yang bertubuh tegap dan berkumis Iebat membentak.

Kepungan itu segera menyibak untuk memberi jalan masuk perwira berkumis lebat itu. Dan perajurit pengawal yang mula-mula mencegat Chin Yang Kun tadi segera maju ke depan dengan tergopoh-gopoh menyongsongnya. Lalu dengan singkat namun jelas ia melaporkan semua kejadian yang telah terjadi di tempat itu. Perwira berkumis lebat itu lalu turun dari punggung kudanya. Diambilnya sebuah obor dari tangan perajurit di dekatnya, kemudian berjalan mendekati Chin Yang Kun.

"Kau sia ... eh, Tuan Yang Kun rupanya!” perwira berkumis lebat yang sudah siap untuk marah itu tiba-tiba terbelalak kaget.

“Wah, maaf.......... maaf. Kami sungguh tidak tahu kalau tuan yang akan datang berkunjung kemari…." Katanya meminta maaf. Lalu dengan garang perwira itu membubarkan kepungan tersebut.

Sesaat lamanya Chin Yang Kun hanya terIongong-longong bingung mengawasi lawannya. Baru beberapa saat yang lalu dia berharap agar supaya ia dapat bertemu dengan salah seorang pengawal atau anak buah Liu twakonya, tapi setelah harapan itu kini benar-benar terkabul ternyata dia telah melupakannya malah. Tampaknya perwira berkumis lebat itu tahu kalau Chin Yang Kun sudah lupa kepadanya.

“Tuan, marilah kita masuk dulu ke dalam! Kami akan menyediakan sebuah kamar yang bagus kepada Tuan Yang, setelah itu kita dapat saling berbicara tentang diri kita masing-masing. Bagaimana……?”Chin Yang Kun tetap belum bisa mengingat nama perwira berkumis lebat itu. Tapi melihat kesungguhan orang itu, ia tak bisa berdiam diri terus menerus.

Akhirnya ia mengangguk ketika perwira itu mempersilahkannya sekali lagi.

“Baiklah….. terimakasih! Maaf, aku benar-benar sudah tak ingat lagi kepada tuan. Ehm…..bolehkah aku mengetahui nama tuan?” sambil melangkah Chin Yang Kun bertanya kepada perwira tegap berkumis lebat tersebut. Sementara itu dengan cekatan seorang pengawal sudah mengambil si Cahaya Biru dan membawanya ke belakang.

“Ahaa…..baru kemarin kita berjumpa, Tuan Yang sudah lupa lagi. Eh, aku adalah pengawal Hong….Hong……uh, bukan. Aku adalah pengawal Tuan Liu……Liu Ciangkun, yang kemarin berjumpa dengan tuan di jalan dekat kota Poh-yang itu.” Perwira itu menjawab dengan gagap dan hampir saja dia melupakan pesan junjungannya, yaitu menyebutkan sebutan “Hong-siang” atau Baginda di depan Chin Yang Kun. Untunglah pemuda itu tidak bercuriga.

“Ohh……jadi tuankah pengawal yang hampir saja marah karena aku telah menghentikan kereta Liu twa-ko itu?” pemuda itu bertanya dengan suara gembira.

“Benar! Setelah itu…..setelah itu Tuan Liu, eh……Liu ciangkun bercerita tentang Tuan Yang. Dan beliau juga berpesan kepada kami semua agar menghormati tuan Yang seperti kami menghormati beliau sendiri.”

“Wah…….Liu twako itu ada-ada saja.” Chin Yang Kun pura pura tidak senang.

Mereka melangkah naik ke atas pendapa, melewati beberapa orang penjaga yang berdiri tegak memegang tombak. Dan diatas pendapa itu terang benderang dengan lampu-lampu yang tergantung disana-sini, menerangi semua perabotan mewah yang diletakkan dan dipajang di dalam ruangan itu. Beberapa orang perwira berpakaian indah gemerlapan kelihatan sedang duduk-duduk disana, dilayani oleh pelayan-pelayan cantik berpakaian bersih menarik.

Belasan orang perajurit pengawal juga tampak berdiri dimana-mana. Mereka bersikap biasa dan santai, berjalan hilir mudik kian kemari, sambil kadangkala mengambil minuman dan makanan yang telah tersedia dan memakannya bersama para penjaga yang berdiri tegak di depan pintu tersebut. Meskipun begitu tampak benar bahwa mereka selalu waspada dan siap siaga menjaga segala kemungkinan.

Sekejap Chin Yang Kun menjadi silau dengan sinar lampu yang tiba-tiba menimpanya. Dan tiba-tiba pula dia menjadi risih dan sungkan dengan keadaannya yang kotor dan berdebu itu. Apalagi ketika beberapa orang pelayan cantik cantik dan berpakaian bersih-bersih itu datang menyongsongnya! Rasa-rasanya kaki yang bersepatu kotor berlepotan lumpur itu menjadi berat untuk melangkah di atas lantai pendapa yang licin mengkilap seperti kaca.

"Ohh........ Siangkoan Ciangkun telah pulang. Selamat datang, Ciangkun ! Mari, silahkan........!" pelayan-pelayan cantik itu menyapa dan memberi hormat kepada perwira kumis lebat yang datang bersama Chin Yang Kun itu. Lalu mereka tertawa cekikikan melihat tampang Chin Yang Kun yang merah padam dan kemalu-maluan itu. Mereka saling
mencubit satu sama lain.

"Hai, kalian mentertawakan siapa ? Jangan kurang ajar ! Ayoh, panggil teman-teman kalian yang lain ! Siapkan sebuah kamar yang baik untuk tuan Yang ini! Awas, jangan sembrono……!” Siangkoan Ciangkun pura-pura membentak mereka.

“Baik, ciangkun!”

“Baik, ciangkun……! Akan kami laksanakan!”

“Baik, Siangkoan ciangkun……akan hamba kerjakan!” para pelayan itu menjawab seperti anak ayam yang menciap-ciap di hadapan induknya.

Mereka saling berebut di depan untuk mendapatkan perhatian Siangkoan Ciangkun yang tegap dan gagah itu. Dan sebelum Chin Yang Kun menyadari keadaannya, pelayan-pelayan cantik itu telah menariknya ke ruangan yang lain.

"Ciangkun ! Ciangkun ! Ini........ ini.......bagaimana ini?"

Chin Yang Kun berteriak-teriak kebingungan. Pemuda itu meronta-ronta, tapi karena ia tak ingin melukai gadis-gadis itu maka diapun tak bisa melepaskan pegangan mereka pula.

Malahan sebentar kemudian ada suatu perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar dari jari-jari halus dan lembut yang berpegangan pada tubuhnya tersebut. Dan makin lama perasaan aneh itu berkembang semakin mengasyikkan bagi Chin Yang Kun sehingga akhirnya pemuda itu menjadi keenakan dan tak mau meronta lagi!

Gadis-gadis itu lalu menyiapkan air hangat dan pakaian bersih untuk Chin Yang Kun. Setelah itu mereka mempersilakan pemuda itu mandi.

"Tuan Yang, silakan kau mandi dulu! Biarlah kami semua ke pendapa untuk menyiapkan makan malam."

"Terima kasih…..!"

Dengan dada berdebar-debar pemuda itu mengawasi kepergian gadis-gadis cantik tersebut.

"Ah, gila....... ! Kenapa aku ini? Mengapa watakku menjadi jorok dan mudah terangsang paras cantik sekarang? Heran aku.......!"

Pemuda itu lalu menghela napas sedih. Perlahan-lahan direbahkannya tubuhnya diatas pembaringan, kemudian dipandangnya langit-langit kamarnya yang berwarna kelabu tua itu. Warna sedih yang selama ini selalu merundung dirinya. Pemuda itu lalu memejamkan matanya. Bau harum yang keluar dari pembaringan itu membuat pikirannya lantas melayang jauh menyelusuri
bayang-bayang hidupnya.

Mula-mula terlintas di dalam pikiran pemuda itu nasib seluruh keluarga dan kerabatnya yang amat buruk. Satu persatu keluarga dan kerabatnya meninggal dunia dengan cara yang sangat menyedihkan. Mereka dibunuh dan dibantai oleh lawan yang tak pernah menampakkan dirinya, sehingga akhirnya tinggal dia sendirilah yang masih hidup di dunia ini.

Pemuda itu menghela napas sekali lagi. Setelah itu berkelebat pula di dalam pikirannya bayangan-bayangan dendam kesumat yang dibawanya akibat peristiwa yang sangat menyedihkan itu. Dendam kesumat itu menuntun dirinya menjadi pemburu manusia yang sekiranya dapat ia curigai dan ia sangka sebagai pembunuh keluarganya.

Berbagai macam cobaan dan pengalaman telah melanda dirinya, dari yang kecil sampai yang besar, dari yang biasa sampai yang aneh-aneh, sehingga semua itu membuat dirinya menjadi seorang manusia aneh seperti keadaannya sekarang ini.

Chin Yang Kun berdesah sedih seperti mau menyesali hidupnya yang kurang berbahagia itu. Bagaimana dia bisa berbahagia kalau kini hanya tinggal sebatangkara di dunia? Bagaimana dia bisa berbahagia kalau sanak keluarganya dibantai orang tanpa ia tahu siapa yang melakukannya? Bagaimana dia bisa berbahagia kalau dalam tubuhnya mengalir racun aneh yang sangat menyusahkan kehidupannya kelak?

Dan……sekarang ada satu gejala lagi di dalam tubuhnya yang sangat mencemaskan hatinya. Beberapa hari terakhir ini nafsu berahinya terasa mudah sekali bergolak. Dan apabila sudah terlanjur bergolak, rasa-rasanya otak dan akal sehatnya sudah tidak bisa mengendalikannya lagi. Rasa-rasanya seperti ada suatu dorongan aneh di dalam tubuhnya sendiri yang sulit dijinakkan ataupun dielakkan. Dan dorongan nafsu iblis itu belum akan hilang kalau belum terlampiaskan!

Chin Yang Kun lalu teringat akan pengalamannya bersama Tiau Li Ing. Kemudian pemuda itu teringat pula pengalamannya yang mengerikan dan menjijikkan bersama wanita muda isteri pemilik rumah penginapan itu. Wanita itu mati keracunan karena telah berhubungan dengannya!

“Ohhh…….!” Chin Yang Kun menutup mukanya dengan telapak tangannya. Batinnya benar-benar merasa terpukul oleh peristiwa itu. Ia sungguh menyesal bukan main. Kejadian itu benar-benar membuat dirinya merasa kotor dan berdosa!

“Ada apa sebenarnya di dalam tubuhku ini? Mengapa selalu ada-ada saja cobaan yang harus kuterima? Semakin lama rasanya aku menjadi semakin asing terhadap diriku sendiri……” Chin Yang Kun meratapi nasibnya.

Tok! Tok! Tok!

Tiba-tiba pintu kamar itu diketuk orang dari luar. Dan sebelum Chin Yang Kun bangkit untuk membukanya, dari luar sudah menerobos masuk pelayan-pelayan cantik tadi. Begitu masuk mereka langsung mengepungnya.


“Tuan Yang Kun sudah selesai mandi? Kalau sudah…..hei!? mengapa tuan belum mandi juga?”

“sebentar……ini…..ini……” Chin Yang Kun mencoba menerangkan sambil tersenyum.

Tapi gadis-gadis cantik itu ternyata sudah tidak sabar lagi. Sambil tertawa cekikikan mereka menyergap Chin Yang Kun dan……melucuti pakaiannya!

Sedetik lamanya Chin Yang Kun melongo saking kagetnya. Serentak sadar ia langsung meronta sebisa-bisanya. Dipertahankannya habis-habisan selapis celana dalam yang masih tersisa!

“Ini……ini……jangan! Ja-jangan…….!” Teriaknya ketakutan.

Gadis-gadis itu melangkah mundur dengan tertawa cekikikan.

“Nah! Tuan Yang Kun ingin kami mandikan sekalian…..atau mandi sendiri?” mereka bertanya dengan nada menggoda.

“Aaaaa…….tidak! Jangan! Aku akan mandi sendiri……!” Chin Yang Kun menjerit seraya berlari tunggang-langgang ke kamar mandi.

Ditutupnya pintu kamar mandi itu keras-keras, sehingga gedung itu rasanya mau runtuh. Sekali lagi gadis-gadis itu tertawa gembira menyaksikan tingkah laku Chin Yang Kun yang konyol dan menggelikan itu.

“Cepat sedikit Tuan Yang! Kau telah dinantikan oleh Siangkoan Ciangkun di pendapa depan!” mereka berteriak dengan suara genit.

Lalu dengan tertawa riang mereka kembali ke ruang depan. Sama sekali mereka tidak mengira atau menyadari bahwa perbuatan mereka tadi sungguh sangat berbahaya sekali. Hampir saja Chin Yang Kun tadi tidak bisa mengekang nafsu iblisnya yang mulai merambat naik ke otaknya.

Sementara itu di dalam kamar mandi Chin Yang Kun langsung saja terjun ke dalam bak air dan membenamkan diri untuk beberapa saat lamanya. Dikibas-kibaskannya kepalanya di dalam air agar supaya menjadi dingin kembali. Setelah itu barulah ia keluar dari bak air itu dan mandi seperti biasanya.

Dan beberapa waktu kemudian ketika gadis-gadis itu kembali lagi Chin Yang Kun telah siap berdandan. Sepatu dan celananya sudah berganti dengan yang baru, sementara rambutnya yang hitam panjang itu digelung ke atas dan diikat dengan kain sutera kuning gemerlapan. Hanya baju pemberian Hong-gi-hiap Souw Thian Hai itu saja yang tidak berganti.

Meskipun demikian karena baju tersebut juga masih baru, maka pemuda itu benar-benar tampak rapih dan tampan sekali.

Sesaat lamanya gadis-gadis itu hanya berdiri saja mengawasi di depan pintu. Tampak benar bahwa mereka terkejut melihat Chin Yang Kun yang tampan itu. Kelihatannya mereka tidak menyangka sama sekali bahwa pemuda desa yang dekil dan kotor itu ternyata demikian tampan dan menariknya!

“Oh, Tuan Yang…….” Mereka menyapa, dan kini mereka benar-benar tidak berani atau sungkan mengolok-olok lagi.
Kini merekalah yang menjadi canggung dan salah tingkah! Tapi Chin Yang Kun tidak mempedulikan sikap mereka itu.

Dengan tenang pemuda itu melangkah keluar menuju ke pendapa. Di tempat itu Siangkoan Ciangkun telah menunggu di pojok ruangan, menghadapi sebuah meja besar yang telah siap dengan segala macam masakan untuk makan malam. Beberapa orang perwira tampak berada di meja itu pula menemani Siangkoan Ciangkun.

Bagaikan sedang menghadapi tamu besar saja Siangkoan Ciangkun dan para perwira itu berdiri menyambut kedatangan Chin Yang Kun. Akibatnya Chin Yang Kun menjadi malu dan sungkan ketika diperkenalkan kepada para perwira itu. Sikap para perwira yang sangat menghormat itu sungguh membuat pemuda itu menjadi kikuk dan tidak enak hati.

“Tuan Yang, perkenalkanlah…..! Tuan-tuan yang sekarang duduk bersama kita ini adalah para pembantu dekat Liu……Liu Ciangkun! Atas perintah Hong-siang mereka membawa pasukan mereka masing-masing kemari untuk membantu LiuCiangkun……” perwira berkumis lebat itu berkat. Dan kepada para perwira itu Siangkoan Ciangkun juga berkata.

“Dan…….seperti yang telah saya katakan tadi, inilah Tuan Yang…….saudara angkat Liu Ciangkun.”

Mereka lalu saling memberi hormat. Dan sekali lagi sikap para perwira yang sangat menghormat dirinya itu membuat Chin Yang Kun menjadi sungkan sekali. Sementara di dalam hatinya Chin Yang Kun semakin heran sekaligus kagum terhadap Liu twa-konya. Ternyata Liu twa-konya itu sedemikian tinggi kedudukannya, sehingga perwira-perwira itupun cuma merupakan pembantu-pembantunya saja.

“Ah, bodoh benar aku ini! Jangankan cuma perwira-perwira ini, sedang Yap Tai-ciangkun yang berkedudukan sangat tinggi itu masih menjadi bawahannya juga.” Chin Yang Kun berkata di dalam hatinya. “Kalau begitu tidak heran kalau mereka juga sangat menghormati aku…..” lima orang pelayan cantik yang mengantar Chin Yang Kun tadi datang membawa cangkir dan minuman. Mereka meletakkan cangkir-cangkir itu di depan Chin Yang Kun dan para perwira tadi dan mengisinya dengan arak putih yang sedap dan harum. Setelah itu mereka membuka tutup makanan yang mereka sediakan di atas meja itu dan mempersilakan semuanya untuk memulainya.

“Terima kasih!” Siangkoan Ciangkun mengangguk, kemudian merogoh saku dan mengeluarkan beberapa keping uang perak untuk hadiah mereka. “Nih, kalian bagi yang rata!”

“Terima kasih, Siangkoan Ciangkun……” gadis-gadis itu tersenyum dengan gembira.

“Nah, Tuan Yang……marilah kita makan dulu seadanya!” setelah para pelayan itu pergi Siangkoan Ciangkun mempersilakan Chin Yang Kun dan yang lain untuk makan. Chin Yang Kun terpaksa menurut juga. Sambil makan mereka berbicara tentang apa saja, sehingga akhirnya mereka berbicara tentang tugas yang sedang mereka lakukan di daerah itu.

“Jadi…..peralatan-peralatan perang yang berada di jalan itu memang sengaja Ciangkun bawa untuk menghadapi gerombolan-gerombolan perusuh itu?” Chin Yang Kun bertanya kepada Siangkoan Ciangkun.

“Benar! Menurut laporan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee kepada Hong-siang, kekuatan mereka yang terbesar berada di daerah ini. Oleh sebab itu Hong-siang sengaja mengirimkan pasukan-pasukan terbaiknya ke sini, dan dipimpin langsung oleh……eh, oleh Liu Ciangkun sendiri!”

Chin Yang Kun mengangguk-angguk karena diapun beberapa kali melihat pasukan-pasukan tersebut tersebar di beberapa tempat, termasuk pula diantaranya adalah pasukan yang dipimpin oleh Kim Cian-bu itu!

“Jadi…..jadi Baginda telah mencium adanya rencana pemberontakan itu dari Hong-lui-kun Yap Kiong Lee? Tapi mengapa…..malahan tak kulihat pendekar sakti dan Yap Tai-ciangkun itu disini…..?” sambil lalu Chin Yang Kun menanyakan kakak beradik yang sangat terkenal itu.

“Ah, mereka berdua telah mendapat tugas sendiri dari Hong-siang, dan tugas mereka justru lebih berat dari pada tugas kami disini. Mereka harus melacak dan menangkap para pimpinan gerombolan perusuh itu, yang tempatnya telah diketahui pula oleh Hong-lui-kun Yap Kiong Lee. Dan karena dikhabarkan bahwa pimpinan gerombolan tersebut dan para pembantu utamanya berkepandaian sangat tinggi, maka Hong-siang mengikutsertakan juga pasukan Sha-cap-mi-wi untuk membantu gerakan mereka.”

Sekali lagi Chin Yang Kun hanya mengangguk-angguk, karena dia juga telah tahu siapa pemimpin gerombolan itu dan para pembantunya. Memang kalau cuma pasukan biasa saja tidak mungkin dapat menangkap Hek-eng-cu dan para pembantunya yang lihai-lihai itu.

Pembicaraan itu lalu berhenti untuk beberapa saat lamanya. Masing-masing tampak sedang sibuk menghabiskan bagian-bagian terakhir dari makan malamnya. Hidangan makan malam tersebut benar-benar lezat sehingga Chin Yang Kun dan para perwira itu merasa puas sekali. Seluruh masakan yang berada di atas meja itu betul-betul istimewa sehingga rasa-rasanya mereka segan untuk menghentikan makan malam mereka. Tetapi perut mereka ternyata tidak bisa memuatnya lagi.

Sambil mengisi cangkirnya lagi Siangkoan Ciangkun menatap Chin Yang Kun. “Nah, Tuan Yang……puas bukan? Sekarang marilah kita nikmati sebuah hiburan lagi! Ayoh, kalian mulailah……!”

Perwira berkumis lebat itu bertepuk tangan dan tiba-tiba Chin Yang Kun dikejutkan oleh suara kecapi yang mendadak berdenting nyaring memenuhi ruangan pendapa yang luas tersebut. Dan seperti juga datangnya suara kecapi yang sangat mengejutkan itu, tiba-tiba dari pintu dalam muncul pula dengan mendadak belasan orang penari cantik, berlari berurutan ke tengah-tengah pendapa tersebut. Sambil berlari mereka mengibas-ngibaskan kipas yang mereka bawa ke kanan dan ke kiri bersama-sama, sementara pakaian mereka yang berwarna-warni itu berkibaran seperti bunga mekar yang bergetar tertiup angin.

Kemudian mulailah gadis-gadis itu menggerak-gerakkan tubuh mereka dengan indahnya. Berbareng dengan denting suara kecapi yang semakin panas tubuh merekapun bergerak semakin cepat dan menggairahkan. Mereka melangkah, meliuk dan berputar bersama-sama dengan lemah gemulai, membikin semua orang terpaksa menahan napas tanpa berkedip!

"Ahhh…..!" Chin Yang Kun berdesah tanpa terasa. Siangkoan Ciangkun menoleh dan........tersenyum melihat air muka Chin Yang Kun yang mulai terbakar itu.

"Tuan Yang, coba kaulihat mereka itu! Cantik-cantik, bukan?” perwira itu mencoba untuk menjajagi hati Chin Yang Kun. “Eeh, manakah yang tercantik menurut pendapat Tuan Yang?”

Chin Yang Kun tersentak kaget. Mukanya menjadi merah seketika. Tapi sebaliknya gairah yang mulai menyala di dalam tubuh itu menjadi padam malah!

"Ah…….eh……..oh, Ci…..Ciangkun ini ada-ada saja! Aku……aku tidak sedang memikirkan para penari itu. Aku sedang berpikir tentang……..”

“Oooh, aku tahu ! Tuan Yang telah terlanjur jatuh hati kepada para pelayan tadi, bukan? Hehehe….jangan khawatir! Mereka akan kusuruh menemani Tuan Yang nanti.” Siangkoan Ciangkun cepat-cepat memotong perkataan Chin Yang Kun.

“Ahhhh!” Chin Yang Kun berdesah lagi dengan hati berdebar-debar. Satu persatu wajah para pelayan itu berkelebat di depan matanya. Namun dengan menggeretakkan giginya pemuda itu berusaha menghapus bayangan-bayangan tersebut.

“Terimakasih, Siangkoan Ciangkun. Aku benar-benar tidak sedang memikirkan siapa-siapa. Aku hanya ingin lekas-lekas bertemu dengan Liu twa-ko. Dan…..sejak tadi Siangkoan Ciangkun belum mengatakan kepadaku, dimana Liu twa-ko sekarang berada……”

“Hah? Ooo…..benar……benar! mengapa aku menjadi orang ling-lung begini? Sejak semula seharusnya aku sudah tahu bahwa kedatangan Tuan Yang kemari ini tentu hendak bertemu dengan Liu Ciangkun, hahaha……” perwira berkumis lebat itu tertawa.

“Maafkanlah aku, Siangkoan Ciangkun……” Chin Yang Kun tersenyum pula.

“Hahaha…..akulah yang seharusnya meminta maaf kepada Tuan Yang. Tapi……..sudahlah, sebentar juga Liu…..Liu Ciangkun akan datang. Sejak siang tadi beliau ikut Hong-siang pergi berburu.”

"Hong siang.........? Berburu.......?”

Chin Yang Kun terbelalak matanya. Tiba-tiba pemuda itu teringat pada pasukan besar yang melintasi jalan raya sore tadi. Tapi Siangkoan Ciangkun menyangka bahwa kekagetan tamunya itu disebabkan karena hadirnya Hong-siang di kota Sin-yang.

Oleh karena itu diam-diam Siangkoan Ciangkun tertawa di dalam hati. Perwira yang telah diberitahu oleh Baginda tentang sandiwara “Liu twa-ko” atau Liu Ciangkun” itu benar-benar tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan pemuda itu kalau nanti akhirnya tahu bahwa orang yang selama ini ia anggap sebagai “Liu twa-ko” itu ternyata adalah Kaisar Han sendiri.

“Maaf…….aku tadi belum mengatakan pula kepada Tuan Yang tentang kedatangan Hong-siang kemari.” Perwira itu cepat-cepat berkata. “Pagi tadi seluruh pasukan kamipun juga terkejut melihat kedatangan Hong-siang di kota ini! Apalagi Hong-siang hanya dikawal oleh empat orang perwira kepercayaannya……”

“Oooh! Tapi…….tapi sore tadi kulihat sebuah pasukan besar dan lengkap menuju ke bukit di sebelah utara kota ini. Dan……aku melihat juga bendera Hong-thian-liong-cu diantara mereka. Masakan untuk berburu saja Hong-siang membawa Liu twa-ko dan pasukan sebesar itu?”

“Hei……….jadi Tuan Yang telah berjumpa dengan pasukan Hong-siang tadi? Ah, kalau begitu mereka cuma berada di sekitar kota ini saja sekarang,” perwira berkumis lebat itu menatap Chin Yang Kun dengan perasaan lega.

“Lhoh…….memangnya kemana Hong-siang pergi berburu?” Chin Yang Kun bertanya dengan wajah sedikit curiga. Masakan perwira-perwira itu tak tahu dimana Hong-siang sedang
berburu?

“Eh-oh, maaf……Tuan Yang! Berburu itu cuma istilah yang kami pakai untuk gerakan kami dalam menumpas gerombolan perusuh itu. Maaf……” Siangkoan Ciangkun cepat-cepat memberi keterangan.

“Ohh……!”

Keduanya lalu menatap ke depan lagi, melihat ke arah para penari yang ternyata telah mulai menutup bagian terakhir dari tari-tarian mereka. Para penari itu tampak berdiri berjajar sambil meletakkan kipas di dada masing-masing, lalu secara berbareng mereka membungkuk ke arah Chin Yang Kun dan para perwira itu. Setelah satu persatu mereka berlari mengundurkan diri ke ruangan dalam lagi.

Sekejap kemudian tempat itu menjadi riuh dengan tepuk tangan para perajurit dan pengawal yang ternyata telah memadati pintu pendapa. Mereka berdiri berdesakan di belakang para penjaga yang membatasinya dengan tombak mereka yang panjang.

“Lagi! Lagi! Lagi…..!” mereka berteriak.

Siangkoan Ciangkun tersenyum memandang Chin Yang Kun.

“Lihat, Tuan Yang…..! para perajurit kami itu benar benar haus akan hiburan. Mereka merasa bosan juga tampaknya kalau setiap hari harus bertempur dan berkelahi.”

Chin Yang Kun tersenyum pula. "Yaaa…. dan tampaknya Siangkoan Ciangkun memang bermaksud untuk menghibur mereka pula."

"Benar. Pertunjukan malam ini selain untuk menyambut Tuan Yang memang kami maksudkan untuk sekalian menghibur mereka juga.”

"Pertunjukan malam ini.......? Apakah masih ada yang lain lagi ?” Chin Yang Kun bertanya dengan kening berkerut.

"Ya! Dan pertunjukan berikutnya malah akan lebih menarik lagi, karena kami akan meminta
kepada Tuan Yang untuk ikut memeriahkannya pula nanti......"

"Apa....? Pertunjukan apakah itu ?” Chin Yang Kun bertanya pula semakin tidak mengerti.

Lagi-lagi Siangkoan Ciangkun hanya tersenyum sambil menuding ke pintu ruangan dalam.

"Tuan lihat saja nanti.....!” katanya menggoda.

Chin Yang Kun menjadi penasaran. Dengan hati gelisah dan tak sabar ia menatap ke arah pintu yang ditunjuk oleh Siangkoan Ciangkun.

Terbeliak mata Chin Yang Kun ketika dari dalam pintu tersebut tiba-tiba muncul empat orang gadis cantik membawa tombak berkait pada masing masing tangannya. Tetapi bukanlah tombak berukuran pendek dan terbuat dari perak itu yang mengejutkan hati Chin Yang Kun, melainkan gadis-gadis itulah yang membuatnya kaget. Dan perubahan wajah Chin Yang Kun ini tak luput dari pandangan mata Siangkoan Ciangkun yang sedari tadi selalu memperhatikan pemuda tersebut.

"Hahaha, Tuan Yang kali ini benar-benar tak menyangka bukan? Pelayan-pelayan cantik yang telah mampu menarik hati Tuan Yang ini memang bukan pelayan-pelayan biasa. Mereka adalah dayang-dayang istana yang selalu mengikuti kemanapun Hong-siang pergi. Dan mereka adalah dayang dayang yang sangat terlatih dalam memainkan senjata, meskipun tentu saja tidak semahir para pengawal khusus Hong-siang yang lain........." Siangkoan Ciangkun menerangkan dengan suara gembira.

"Aaah.......!" Chin Yang Kun tersipu-sipu.

"Lihat……!"

Gadis-gadis yang tadi tampak lemah lembut dan halus gerak-geriknya, kini kelihatan tangkas dan garang ketika menarikan tombak pendeknya. Mereka memainkan jurus demi jurus secara mantap, indah dan serempak ! Tombak berkait yang seluruhnya terbuat dari besi berselaputkan perak itu kelihatan ringan tanpa bobot di tangan gadis-gadis itu.

Setelah mereka memainkan kira-kira sepuluh jurus secara mengagumkan, gadis-gadis itu lalu menyebar. Masing-masing berhadapan dengan pasangannya, sehingga mereka lalu berpisah menjadi dua kalangan. Dan sebentar kemudian masing-masing lantas terlibat dalam pertempuran sengit dengan pasangannya!

Masing-masing bertempur seperti dua ekor ayam aduan. Makin lama makin cepat, sehingga banyak dari para penonton yang merasa gelisah dan khawatir terhadap keselamatan mereka. Tiba-tiba.......

"Traaaaang! Traaang!"

Pertempuran berhenti dengan mendadak. Keempat orang gadis itu tahu-tahu telah berdiri berjajar sambil menjura ke arah meja Chin Yang Kun.
Dan empat buah tombak mereka tampak menancap di atas lantai di depan mereka. Ujung ujung tombak itu masih kelihatan bergetar, suatu tanda bahwa tenaga yang mereka keluarkan benar-benar tidak ringan.

Sekejap ruangan itu malah menjadi sepi seperti kuburan, semua penonton bagai dicengkam oleh permainan tombak yang sangat mengagumkan itu. Tapi di lain saat merekapun lalu bertepuk tangan dengan gegap-gempita seperti pasukan perajurit yang memperoleh kemenangan di medan perang.

"Terima kasih! Terima kasih......!" gadis-gadis itu menjura pula ke arah penonton.

Wajah mereka tampak segar berseri, sedikitpun tidak terlihat keringat yang mengalir di dahi mereka.

Sambil menikmati tepuk tangan kekaguman dari penonton gadis-gadis itu berkali-kali melirik ke arah Chin Yang Kun, seolah-olah permainan mereka itu tadi memang mereka peruntukkan bagi pemuda itu. Tentu saja pemuda yang sejak semula memang telah tertarik kepada gadis-gadis itu menjadi semakin sukar mengendalikan nafsu aneh yang bergejolak di dalam dirinya. Tetapi dengan segera kekuatan jiwa dan batinnya pemuda itu berusaha menindasnya! Tiba-tiba Siangkoan Ciangkun berdiri sambil mengangkat kedua tangannya ke atas, sehingga tepuk tangan dan sorak sorai yang gegap gempita itupun berhenti dengan mendadak.

Lalu dengan tersenyum lebar perwira berkumis lebat itu berseru, "Nah ! Siapakah yang ingin bermain-main sebentar dengan mereka? Ayoh....... siapa yang berani silakan maju ke depan ! Hitung-hitung kalian ikut memeriahkan pertunjukan mereka malam ini........!”

Hening sesaat. Semuanya tampak saling menantikan siapa yang hendak maju ke arena untuk menguji kepandaian para dayang istana itu. Sebetulnya banyak juga diantara para perajurit pengawal yang ingin mencobanya, tapi mereka tampaknya masih sungkan dan malu untuk mendahului maju ke depan.

"Ayoh.......mengapa ragu-ragu? Heh, Teng Bo....... kau ingin maju tidak?" Siangkoan Ciangkun menuding seorang perajurit berperawakan tinggi besar, yang sejak tadi selalu memilin-milin kumisnya.

"Baik, Siangkoan Ciangkun…. Siauwte akan mencobanya !" perajurit itu segera melangkah ke depan. Sebuah goIok besar kelihatan tergantung di pinggangnya.

Setelah memberi hormat lebih dahulu ke arah para perwira yang duduk satu meja dengan Chin Yang Kun, Teng Bo meloloskan golok besarnya. Dengan rasa percaya diri yang besar Teng Bo menyilangkan golok itu di depan dadanya.

"Marilah, nona…..kita bermain-main sebentar! Aku yang rendah ingin berkenalan dengan ilmu tombak berkait nona yang hebat itu." perajurit itu berkata merendah.

Keempat dayang itu tersenyum sambil mencabut tombak masing-masing, kemudian salah seorang diantara mereka, yang berbaju putih-putih, maju ke depan membalas penghormatan Teng Bo. “Maaf, Tuan Teng.....kami berempat ini selalu maju bersama. Maka dari itu agar pertempuran kita nanti menjadi adil, kami harap Tuan Teng mencari kawan lagi untuk melawan kami," katanya.

"Terima kasih, nona....... kukira tak usahlah ! Akupun sudah biasa bertempur sendiri dalam setiap peperangan.”

"Kalau begitu maafkanlah kami terpaksa mengeroyok Tuan Teng......."

"Tak apa! Marilah......!"

Sambil berkata Teng Bu memutar golok besarnya, lalu dengan mengandalkan kekuatan tubuhnya yang hebat ia menyabetkan golok tersebut ke depan, ke arah lengan dayang berbaju putih yang memegang tombak itu. Dalam sorotan lampu pendapa yang terang benderang golok yang putih mengkilap itu berkelebat cepat bagai kilatan petir menyambar!

Semua penonton menahan napas, mereka khawatir terhadap keselamatan gadis itu ! Mereka melihat Teng Bo yang biasa berlaku ganas di setiap pertempuran itu benar benar menyerang lawannya dengan sungguh-sungguh!

Tapi dayang berbaju putih itu meloncat ke belakang dengan cepat, sementara ketiga orang temannya yang berbaju merah, kuning dan hijau tampak melesat ke depan melindunginya. Ketiga batang tombak mereka merunduk ke depan, memapaki ayunan golok Teng Bo!

“Traaaang!”

Terdengar suara nyaring yang memekakkan telinga ketika golok tersebut menghantam tiga ujung tombak lawannya.

Begitu hebat tenaga yang dikeluarkan Teng Bo sehingga ketiga buah tombak itu terpental menghantam lantai. Perajurit bertenaga raksasa itu memang sangat terkenal di dalam kesatuannya. Dia langsung berada di bawah pimpinan Siangkoan Ciangkun dan mendapat kepercayaan memimpin enam puluh orang perajurit pengawal yang lain. Selain mempunyai tenaga gwa-kang yang hebat Teng Bo juga mahir mempergunakan golok, sebab dia adaIah murid Kim-to-pai (Perguruan Golok Emas) yang terkenal di daerah Shoa-tang beberapa puluh tahun yang lalu.

Empat orang dayang istana itu lalu menyebar ke segala penjuru. Mereka menempatkan diri mereka pada titik mata angin, yaitu Utara, Timur, Selatan dan Barat, sementara Teng Bo mereka tempatkan di tengah-tengah mata angin tersebut.

Sambil memutar-mutarkan goloknya di depan dada Teng Bo membiarkan dirinya dikepung oleh lawannya. Kenyataan bahwa tenaganya masih jauh lebih besar dari pada tenaga perempuan-perempuan cantik itu membuat Teng Bo sangat yakin dapat menundukkan mereka dalam waktu singkat. Oleh karena itu dengan jurus Kai san siu-yi (Membuka Payung Menerobos Hujan), Teng Bo mendahului menerjang! Sekali lagi yang dia serang adalah dayang berbaju putih yang berdiri di titik Utara.

Mendadak mata angin itu berputar ke arah kanan seperti jarum jam, dan gadis yang berdiri di titik utara itu tiba-tiba telah berganti dengan gadis berbaju hijau, yaitu gadis yang semula berada di titik barat. Begitu datang gadis berbaju hijau itu lantas menyodokkan ujung tombaknya ke arah putaran golok Teng Bo yang cepat seperti baling-baling itu, sementara teman-temannya yang lain cepat pula membantunya dari arah kanan kiri dan belakang Teng Bo.

Pada waktu yang bersamaan ternyata serangan Teng Bo itu dipapaki dengan serangan pula oleh keempat orang lawannya.Tentu saja keadaan itu sangat merepotkan Teng Bo, karena tidak mungkin kedua tangannya bisa melayani delapan buah tangan sekaligus. Dan apabila dia nekat menyerang si Baju Hijau, maka tubuhnyapun akan menjadi bulan-bulanan serangan tombak tiga orang lawannya yang Iain pula.

Maka Teng Bo segera menarik serangannya. Dengan sigap tubuhnya mendoyong ke arah kiri seraya menepiskan mata tombak dayang berbaju kuning yang menusuk ke arah bahunya. Kemudian berbareng dengan gerakannya itu Teng Bo mengibaskan golok besarnya ke arah tombak Si Baju Putih dan Si Baju Merah.

Gerakannya itu dilakukan dengan sangat cepat dan kuat, suatu tanda bahwa ilmu goloknya itu memang telah ditekuninya selama bertahun-tahun. Malahan sekejap kemudian golok itu telah menyerang kembali dengan ganasnya dan kali ini memakai jurus Sao-chiao-teng-toa atau Menyapu Kaki Menara Api.
Tujuan Teng Bo adalah membabat kaki lawan-lawannya!

Tapi dengan cepat empat orang dayang istana itu menancapkan tombaknya ke lantai. Braaak ! Dan tubuh mereka melenting ke atas dengan manisnya, seperti para pemain akrobat yang bertumpu pada sebilah bambu.

Malah tidak hanya itu yang diperbuat oleh dayang-dayang istana tersebut. Sambil melenting ke atas kaki mereka segera berputar menghantam kepala Teng Bo! Dan perajurit bertenaga raksasa itupun terpaksa jatuh bangun untuk mengelakkannya!

Demikianlah, pertempuran satu lawan empat itu makin lama makin seru. Teng Bo yang semula menyangka tenaga terlalu berlebihan untuk menghadapi gadis-gadis itu, kini terpaksa harus mengakui bahwa anggapannya tersebut adalah keliru sama sekali. Tenaga luarnya yang hebat itu ternyata tidak berguna dan mati kutu menghadapi kerja sama lawannya yang kompak dan rapi. Malahan beberapa jurus kemudian dialah yang menjadi kewalahan dan tidak bisa mengembangkan ilmu goloknya dengan sempurna. Tombak tombak lawannya yang berkait pada setiap sisinya itu benar-benar cocok untuk menahan atau membatasi gerakan goloknya. Beberapa kali golok besarnya hampir terlepas dari tangannya akibat terjepit oleh kaitan tersebut. Kaitan-kaitan itu sungguh-sungguh seperti catut (jepitan) yang sangat berbahaya dan selalu mengejar goloknya!

"Traaaaang…...!”

Dan akhirnya golok itu benar-benar terlepas karena tak dapat mengelak lagi dari jepitan tombak Si Baju Putih dan Si Baju Hijau. Dan begitu golok tersebut lepas, tombak-tombak lawannya telah teracung di depan hidungnya.

"Baiklah ! Baiklah! Aku mengaku kalah….” Teng Bo berdesah kecewa seraya menyambar goloknya kembali.

"Bagus! Bagus! Nah, siapa lagi yang mau mencobanya?"

Siangkoan Ciangkun bertepuk tangan sambil berteriak ke arah penonton yang semakin berjubal di tangga pendapa.

“Siangkoan Ciangkun, kamipun ingin mencoba juga......." dari tengah-tengah penonton yang berdesakan itu tiba-tiba terdengar suara jawaban.

Penonton yang berjejal di depan pintu itu segera menyibak untuk memberi jalan kepada tiga orang perajurit, yang mendesak maju dan kemudian meloncat naik ke atas pendapa. Sebelum pergi ke tengah pendapa untuk menghadapi dayang-dayang istana itu mereka memberi hormat ke arah Siangkoan Ciangkun lebih dahulu. Setelah itu ketiga-tiganya lantas berlompatan ke arena.

Begitu mengetahui siapa yang masuk ke dalam arena, para penonton segera bersorak-sorai dengan bersemangat. Setiap perajurit yang bertugas di tempat itu tahu belaka, siapa tiga orang perajurit yang kini hendak mencoba kekuatan dayang-dayang istana itu. Meskipun baru beberapa hari masuk menjadi perajurit, ketiga orang itu telah sering kali menunjukkan kehebatan dan kelebihan-kelebihan mereka di muka perajurit-perajurit yang lain. Malahan di setiap pertempuran yang terjadi antara pasukan kerajaan melawan gerombolan kaum perusuh, ketiga orang perajurit baru itu selalu membuat kagum kawan-kawan mereka. Mereka bertiga selalu berdiri di baris terdepan sebagai ujung tombak pasukan mereka. Dan apa yang mereka lakukan di dalam menghadapi musuh itu benar-benar sangat menggiriskan dan tak mungkin bisa dilakukan oleh para perajurit yang lain, bahkan tak mungkin bisa dilakukan oleh pemimpin mereka sendiri.

Sepak terjang mereka yang hebat itu hanya pantas dilakukan oleh para perwira atau pangIima mereka yang mempunyai kesaktian dan kepandaian tinggi. Oleh karena itu meskipun baru beberapa hari menjadi perajurit, mereka bertiga sudah dikenal oleh para perwira dan semua perajurit yang ditugaskan ke daerah tersebut.

“Nah…….sekarang baru sebuah pertandingan benar-benar!"

Siangkoan Ciangkun berbisik kepada Chin Yang Kun yang menatap ke arena dengan wajah tegang pula. Dan perwira itu segera tersenyum melihat kegelisahan tamunya. "Aha, Tuan Yang...... kau tak perlu mengkhawatirkan keselamatan gadis-gadis manis itu. Mereka berempat akan tetap melayanimu malam ini. Percayalah.....!” bisiknya lagi.

"Siangkoan Ciangkun.......?" Chin Yang Kun memotong perkataan perwira itu dengan nada
tak senang.

"Sudahlah, Tuan Yang....... kau tak perlu khawatir! Meskipun Mo, Lim dan Pang itu sangat lihai tapi mereka takkan berani melukai dayang Hong-siang." Siangkoan Ciangkun menegaskan lagi kata-katanya.

Perwira itu tetap salah terka terhadap sikap Chin Yang Kun tersebut. Pemuda itu menghela napas panjang. Dia tak mau berdebat lebih lanjut. Matanya menatap ke arena kembali dan dilihatnya orang-orang itu sudah berhadapan dengan dayang-dayang istana.

"Aku tak mungkin lupa kepada orang-orang itu, karena ulah merekalah yang menyebabkan tubuhku menjadi beracun begini. Hmmm......, Tung-hai Sam-mo! Mengapa mereka bisa berbalik menjadi perajurit kerajaan? Masakan orang seperti Siangkoan Ciangkun ini tidak tahu kalau mereka adalah bekas pemberontak yang dulu pernah menyerang ibu kota (kota raja)?" pemuda itu membatin.

Sementara itu pertempuran antara empat gadis melawan tiga lelaki di tengah ruangan pendapa ini sudah berlangsung dengan hebatnya. Tiga orang lelaki yang dikenal Chin Yang Kun sebagai Tung-hai Sam-mo itu bertempur dengan pedang gergajinya yang mengerikan. Mula-mula mereka bertempur dengan serabutan dan tidak memilih lawan. Mereka menyerang siapa saja yang dekat dengan mereka masing masing.

Tapi setelah dayang-dayang itu mulai membuka jurus mata angin mereka, Tung-hai Sam-mo juga tidak bisa tinggal diam pula. Ketiga Iblis Laut Timur itu segera mengeluarkan Ang-cio-hi-tin pula. Demikianlah, kedua macam barisan itu
segera bertarung satu sama lain !

"Ah! Biarpun Barisan Mata Angin dari dayang-dayang itu sangat kuat, tapi gerakan mereka masih terlampau lamban bisa menjaring atau mengepung Tung-hai Sam-mo." Chin Yang Kun menilai pertempuran itu. Memang benar apa yang dikatakan oleh pemuda itu.

Barisan Mata Angin itu memang kokoh kuat dan sukar ditembus lawan. Laksana sebuah benteng istana keempat orang dayang tersebut merupakan pintu-pintu gerbangnya, di mana lawan tak mungkin dapat masuk ke dalam tanpa melewati bangkai penjaganya terlebih dahulu. Padahal pintu gerbang itu selalu berpindah-pindah tempat dan para penjaganyapun juga selalu berganti-ganti setiap saat.

Meskipun demikian benteng tersebut ada juga kelemahannya. Sebelum kemampuan dari setiap penjaganya belum bisa diandalkan, gerakan merekapun masih terasa lamban dalam berpindah atau berganti tempat. Oleh karena itu tidaklah heran kalau Barisan Cucut Merah yang licin dan gesit itu akhirnya bisa menerobos dan menggempur benteng Barisan Mata Angin tersebut. Dan Barisan Mata Angin itu menjadi kalang kabut ketika Cucut Merah itu mulai “berkubang” di dalamnya !

Para perajurit yang berdesakan itu semakin riuh bersorak sorak menjagoi Tung hai Sam-mo yang mulai dapat mendesak lawan mereka. Perasaan mereka yang kecewa akibat kekalahan Teng Bo tadi menjadi terobati sekarang.


32